MENYAYANGI DENGAN BIJAKSANA

Jazilah  Imana
Karya Jazilah  Imana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juli 2016
MENYAYANGI DENGAN BIJAKSANA

“Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan saya-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tidak akan tinggal landas.” (Brahmavamso)

Seringkali kita berfikir tahu apa yang terbaik bagi orang–orang di sekitar kita. Terbaik bagi orang yang kita hormati, hargai dan cintai (sahabat dan saudara), tentu dengan alasan kasih sayang (belas kasih). Tapi tahukah  kita bahwa apa yang kita pikir baik untuk mereka belum tentu itulah yang mereka inginkan? (baik bagi mereka). Hasilnya? Disharmonis! Banyak penderitaan muncul di sana karena ketidakseimbangan yang terjadi. Parahnya banyak pihak yang bisa terseret arus ketidakharmonisan itu.

Pelajaran beberapa hari ini begitu indah, semesta cintaMu begitu Agung ya Allah. Jazim, dalam batas upayamu atas harapan ridhoNya, tetap saja walaupun semua orang tahu, sepakat denganmu dan mengatakan bahwa apa yang kau lakukan demi orang-orang yang kau cintai (tercintamu) adalah baik. Tetapi bagaimana jika mereka tidak menginginkan? Artinya ya…gak harmonis, itu gak baik bagi mereka.

 “Wayahe mung semono wae.” ucap temanku

Aku juga ingat apa yang sering diucapkan oleh teman-temanku.

“Lha maqomnya dia segitu, mau diapain? Levelnya dia itu sampai di situ saja, Jazim, kau jangan berfikir semua bisa baik, semua bisa serupa dirimu, bahkan lebih dari kamu. Walaupun memang ada yang seperti itu, jauh melebihimu.” ucap yang lain.

Ah…sungguh aku tidak terima mendengar ucapan itu.

“Bukankah kita diciptakan sama? Apa salah kalau ingin mereka bisa dalam kondisi lebih baik?” protesku tentu ini adalah egoku.

 

Alasanmu ora mathuk  :D ” jawab temanku.

“Apa ada orang yang tidak ingin hidupnya lebih baik?” sangkalku lagi.

“Lebih baik itu yang bagaimana? Hehehe beda-beda lho, aku bisa saja bilang padamu hidup yang lebih baik bagiku adalah aku bisa mempunyai rumah di bilangan Ciputra Land tidak yang sekarang. Gajiku tinggi, itu mungkin lebih baik bagiku. Lalu apakah setiap orang sama? Coba tengok dirimu sendiri.”

“Tetapi ada standart umum kan? Kalau sekarang kamu tidak punya kerjaan maka lebih baiknya adalah mempunyai pekerjaan. Kalau sekarang kamu tidak bisa kuliah maka seharusnya lebih baik ya bisa kuliah.” jawabku sekenanya.

“Kelihatan kau asal menjawabnya, Jazim, apakah kau yakin bahwa bagi orang yang saat ini tidak punya pekerjaan, bekerja adalah hal yang lebih baik baginya? Termasuk yang sekarang tidak sekolah, apakah ketika mereka sekolah itu akan menjadi hal yang lebih baik? belum tentu Jazim! Bisa saja bekerja bagi mereka tidak membahagiakan malah menyusahkan, membuatnya terikat dengan rutinitas yang membosankan, mereka jadi tidak bahagia dengan pekerjaannya karena mereka punya impian lain. Hasilnya apa kalau seperti itu? gak optimal, gak focus! Banyak pihak dirugikan oleh kondisi ini. Mereka yang sekolah, belum tentu berniat sekolah juga.” jawab temanku lebih luas.

 Sebenarnya aku telah memahami semuanya, hanya saja beberapa hari ini aku merasa egoku sangat tampan, dia menggodaku mengerlingkan mata indahnya padaku. Aku hampir tergoda bahkan sempat terpinang rasa. Alhamdulillah…Allah tidak membiarkanku terlalu lama terpinang ego, cepat aku sadari keberadaannya. Aku minta dia diam, duduk saja atau sekalian pura-pura amnesia di sudut ruang.

Aku menengok semuanya, perjalananku bersama orang-orang di sekitarku. Bersama sabahat, saudara dan juga karyawan yang saat ini bersamaku. Mungkin pengaruh ilmu manajemenku, kadang aku tampak begitu ‘serius’ dalam hal manajerial, sesuai pakem. Hanya saja dalam segala ranah bisnis ada banyak hal yang memamg harus dijalankan secara professional. Manajerial menjadi sesuatu yang memang harus diperhatikan dengan baik dan benar.

Dalam perkembangan selanjutnya, aku belajar memadukan manajerial skill dengan manajerial non skill. “Kanan Oke Kiri Oke “ entah apa istilahnya yang pasti aku berusaha memadukan kondisi ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabku. Bagiku dua hal ini saling mendukung, kiri dominan menyebabkan manusia seperti robot tak punya rasa dan kanan dominan juga membuat orang sekitar kita ‘bingung’ karena ketidaksiapan mereka menghadapi cara ‘kanan’ kita. Makanya, dalam ranah ini aku berusaha memadukan keduanya secara damai. Walaupun sisi-sisi tertentu aku lebih mengandalkan ‘kanan’ karena bagiku ‘kiri’ akan ngikut dengan sendirinya. Saat hati dan jiwa kita berada dalam kondisi ‘nyaman’ rasanya tidak ada yang sulit. Solusi datang begitu saja, dan biasanya sulusi yang awalnya dianggap sulit oleh kebanyakan orang kiri adalah solusi ‘kiri’ ternyata juga terselesaikan begitu saja. Ini karena mereka belum mengenal solusi kanan. Tentunya semua atas kehendakNya, Allah sudah menyediakan semuanya.  Aku percaya itu dan yakin!

Kembali pada kasih sayang yang bijak. Rasanya memang tidak bijak jika aku senantiasa ‘memikirkan’ kebaikan orang lain dengan sudut pandangku. Kebaikan bagi mereka dalam sudut pandangku ternyata bukan membuat mereka semakin baik. Aku tertampar dengan pipi merona malu. Aku begitu antusias menyusun berbagai hal yang sekali lagi baik dalam pandanganku untuk orang lain. Kenapa? Karena aku berharap mereka bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik. Aku berusaha mencarikan solusi-solusi dari persoalan mereka. Aku berfikir, mereka masih punya kesempatan lebih panjang, aku berfikir mereka akan menapak dalam ranah sukses dan hal itu akan menjadi bagian penting dalam sejarah hidup mereka.

Di saat yang sama, ternyata mereka malah tersiksa dengan apa yang kutawarkan. Mereka gerah dengan apa yang kuulurkan. Bahkan lebih ironis lagi mereka terbelenggu dengan apa yang kuberikan. Mereka tidak suka, mereka tidak nyaman karena mereka TIDAK MENGINGINKAN semua yang aku katakan di atas. Artinya juga bahwa mereka tidak bahagia. Astahgfirullah, sungguh niatku adalah membuat mereka bahagia tapi kenyataannya justru apa yang kulakukan membuat mereka tidak bahagia.

Aku tersenyum malu kemudian tertawa dalam kesadaran terindah. Aku bisa tertawa terbahak mentertawakan diriku sendiri. Cintaku tak berbalas saudara…!! ^_* Dan lebih memalukan Kasih Sayangku tak Bijaksana :(  Ternyata begitu saja…hehehe, ya aku belum bijak dalam menyayangi, harusnya aku semakin bisa menyayangi siapapun dengan bijaksana. Ayo berbenah Jazim, move on :)

Ya mungkin yang disampaikan temanku benar, bahwa mereka memang ‘maqomnya’ di situ, sampai situ saja, “garise mung semono”. Tetapi yang kuyakini bahwa Allah tidak akan pernah sia-sia menciptakan kita semua dengan segala kelebihan yang diberikanNya. Allah pula yang akan menjaga segala ciptaanNya. Allah-lah sebaik-baik penjaga. Ah…hanya Allah yang telah menggariskan semuanya, mengapa aku yang ribut? Mengapa aku khawatir? Sedang mereka tidak pernah merasa khawatir, mereka tidak pernah merasa bermasalah atau punya masalah. Terlebih Allah telah menjamin mereka dalam dekap kasih sayangNya yang abadi. Kau itu siapa, Jazim?

Untuk (catatan lama) sekisah: Jazim harus bisa menyayangi semua jiwa dengan bijaksana ^_^, menjadi embun bagi semua hati.

 

  • view 291