MAS

Naila Rizqi B
Karya Naila Rizqi B Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Desember 2016
MAS

MAS

 

Masih sama dengan yang kemarin-kemarin.

Tangannya masih sama seperti hari-hari kemarin.

Kurasa wajah dan tatapannya masih sama dengan yang kemarin-kemarin.

Di mana hari-hari menyibukkan kami dengan kegiatan yang seperti kemarin-kemarin.

Sikap menunggunya juga masih sama dengan yang kemarin-kemarin.

Apalagi cara makannya,

Di warung yang kemarin dengan menu yang seperti kemarin dan kemarinnya lagi.

Tapi kemeja yang dia gunakan bukan kemeja yang kemarin-kemarin.

 

Mbak pernah bilang kalau mbak ingin waktu berhenti saja di sini.

Dengan pasang surut pertengkaran kami yang tak pernah berhenti.

Kemalasan kami yang tak pernah terkurangi,

Sampai-sampai Bapak kumat darah tinggi.

Mbak yang tidak begitu bersemangat mengerjakan skripsi

Dan aku yang… malas mengaji.

Rumah kapal terbang kami dengan kamar mandi yang membuatku malu mengajak teman untuk menyambangi, surga kami.

Orang tua yang mulai bersikap seperti anak-anak, tapi tak pernah terputus cintanya untuk kami.

Keponakan berlima kami yang kemungkinan bertambahnya kami beri toleransi.

Dan tentu saja dua kakak ipar kami.

Mbak bilang mbak enggan membangun hubungan baru dengan orang lain lagi.

Maksudnya enggan mengajak bicara orang luar yang duduk di meubel coklat yang sudah jebrot kami.

Enggan melihat wajah lain di atas meja risban saat kami sarapan nasi oyek dengan sambal tempe yang tak mesti lezat tapi selalu nikmat racikan Simbok kami.

 

Saat itu aku juga bilang kalau aku ingin seperti itu saja.

Dengan kebahagaiaan kami yang sederhana.

Dengan segala cekcok yang tak terasa membuat hidup kami lebih berirama.

Meskipun kalau dirunut penyebabnya rumit-rumit sederhana.

Semua bilang benar, semua saling menunjuk, padahal semua sama saja.

Tapi kemudian, mbak tidak mengabulkan doanya sendiri.

Katanya begini.

Tak mungkin kita akan berhenti di sini,

 

Sekarang

Di bawah sedikit sinar bulan yang remang-remang di sebuah kota yang ramai.

Sendirian dan tanpa uang.

Aku berpikir.

Entahlah… kalau kalian bilang aku khawatir.

Jujur, aku tak ingin khawatir.

Tapi aku berpikir masih akan samakah tangannya seperti hari-hari kemarin?

Akankah wajah dan tatapannya sama dengan yang kemarin-kemarin?

Akankah dia menungguku seperti kemarin-kemarin?

Sendirian di atas motor seperi hari kemarin?

Akankah dia makan dengan cara seperti kemarin-kemarin?

Meskipun bukan dengan kemeja yang dia gunakan kemakin atau kemarinnya lagi?

Sungguh, aku tak ingin khawatir.

Tapi dia pernah bertanya padaku apakah aku khawatir kalau dia tak akan sama seperti yang kemarin.

 

Yk, 8O2014

  • view 173