Rumus-rumus Sederhana yang Terlupakan

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Desember 2017
Rumus-rumus Sederhana yang Terlupakan

Akhir-akhir ini kita mudah sekali menemui peristiwa yang menyedot perhatian kita. Baik peristiwa kecil yang membesar atau pun peristiwa yang memang sejatinya besar. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan peristiwa-peristiwa bombatis (atau yang menjadi bombatis)—padahal belum tentu kejadian-kejadian bombastis itu memengaruhi hidup kita secara langsung—dan melupakan hal-hal kecil nan membahagiakan. Kadang karena terlalu fokus dengan peristiwa-peristiwa itu, kita melupakan hal-hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan.

Kita sering menaruh perhatian pada peristiwa besar yang diagendakan oleh media, padahal di sekitar kita lebih banyak peristiwa yang menuntut perhatian, misalnya saja keadaan tetangga yang serba kekurangan di sekitar kita. Kita berseteru hingga lupa waktu dengan orang asing (bahkan teman sendiri) di media massa tentang hal-hal yang tidak terlalu penting buat kita, padahal tugas dan kerjaan kita masih menumpuk. Sering sekali kita nyinyir akan suatu hal remeh, padahal banyak hal penting lain tentang diri kita yang diabaikan.

Jujur, keadaan akhir-akhir ini membuat saya sedikit muak. Sepertinya, kita terlalu fokus pada hal-hal besar yang sejatinya kurang penting itu. Sepertinya, indera-indera yang kita punya sudah mengalami malfunction, sehingga nasihat klasik semacam “bunga berwarna-warni lebih indah dari bunga dengan satu macam warna” atau “lagu indah tercipta dari beragam melodi dan nada” sudah tidak mempan lagi.

Kita terlalu sombong dan terlalu egois. Kita terlalu malu untuk mengakui kesalahan. Kita telah melupakan rumus-rumus sederhana dalam kehidupan. Rumus pertama yang kita lupakan adalah kita tidak seharusnya mencintai dan membenci sesuatu secara berlebihan. Bisa saja rasa cinta atau benci itu berbalik 1800. Saya yakin, hampir semua orang sudah mengalami hal seperti ini walau pun dalam hal yang remeh, seperti yang terjadi pada saya. Dulu saat SMP saya suka sekali balado kentang, sangat suka sekali. Jika hidangan itu disajikan, bisa dipastikan saya langsung menutupi (saking banyanknya yang saya ambil) piring saya dengan masakan itu. Dan suatu hari, rumus cinta berlebihan itu berlaku. Saya menemukan “sesuatu” dalam masakan itu.  Benda asing yang saya tidak tahu persis apa itu, yang pasti ia telah merusak cita rasa balado kentang favorit saya. Dan berkat benda itu, berakhir sudahlah cinta buta saya pada balado kentang. Intinya, rumus ini akan berlaku juga pada hal lain. Jadi tetaplah mencinta dan membenci secara sewajarnya.

Selanjutnya, kita lupa bahwa hakikatnya manusia adalah hamba Tuhan. Seorang hamba harus meakukan hal-hal yang membuat tuannya senang. Sebenarnya menjalani hidup sesederhana itu. Dalam berlaku, kita harus menanya diri kita sendiri, “Apakah Tuhan akan menyukai apa yang aku lakukan dan aku perbuat?” Jika sekiranya perbuatan kita dibenci Tuhan, tinggalkan saja, jangan pernah lakukan.

Nasihat-nasihat sederhana saat kecil juga sudah banyak kita lupakan. Dulu orang tua dan guru-guru kita banyak berpesan untuk senantiasa berlapang dada, menerima kekalahan dan kesalahan kita dengan tulus. Besarnya rasa yang kita rasakan ketika kita mendaku menjadi “yang paling” akan mematikan indera yang kita miliki, sehingga kita tidak lagi bisa melihat kesalahan kita, kita tidak lagi bisa mendengar hati nurani serta saran perbaikan dari yang lain. Perasaan superioritas dalam hal apapun, termasuk merasa paling merana, merasa paling lemah dan terinjak-injak akan membawa kita pada gerbang keegoisan, mengantar kita pada kebinasaan.

Semoga di hari yang akan datang kita tidak melupakan rumus-rumus sederhana dalam kehidupan.

dalam bingkai

  • view 102