Merpati, Lebah, dan Segumpal Kekecewaan

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 Juni 2017
Merpati, Lebah, dan Segumpal Kekecewaan

Kawan, kemarilah sebentar. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Maukah kau mendengarnya? Duduklah sini, di sebelahku. Tahukah kau? Dahulu kala, saat manusia belum turun ke dunia, saat bumi hanya melulu dihuni berbagai flora dan fauna, hiduplah seekor burung merpati yang baik hati. Merpati putih molek nan rendah hati. Siapapun ingin berteman dengannya. Dan untungnya ia bukan pemilih teman, ia berteman dengan siapa saja.

Di antara semua temannya, merpati putih paling suka dengan lebah madu. Menurutnya, lebah madu adalah pekerja keras. Ia suka pekerja keras, yang bisa melawan rasa malasnya sendiri. Aku sering sekali melihat mereka terbang bersama. Merpati sering menemani lebah mencari sari bunga. Saat bunga-bunga bersemi, seisi hutan bisa mendengar tawa riang keduanya. Mereka menyapa ramah siapa saja yang ditemui.

Suatu hari, merpati putih akan mengadakan pesta. Tentu ia tak lupa mengundang kawan baiknya, si lebah. Wah, bisa kau bayangkan betapa senangnya si lebah. Ia menyiapkan sari bunga terbaik yang ia punya sebagai hadiah. Bahkan ia menyiapkan belang-belang baru! Bisa kau rasakan betapa antusiasnya si lebah kan, kawan? Senyum lebar tidak pernah hilang dari lebah. Ia ingin sekali segera menghadiri pesta merpati putih.

Hari pesta pun tiba. Merpati putih terlihat lebih cantik. Bulu-bulunya disisir rapi, terlihat halus dan lembut seperti kapas. Satu persatu tamunya datang. Merpati putih menyambut dengan senyum sehangat  mentari pagi itu. Sudah hampir satu jam pesta dimulai, tapi merpati putih belum menemukan teman baiknya, si lebah. Ke mana gerangan ia? Mengapa ia belum datang? Merpati putih tak bisa menikmati pesta, kepalanya terus saja berputar mencari lebah madu. Aduh, ke mana sih dia ini? Selaksa bahagia yang pagi tadi dirasakan merpati sedikit menguap, tergantikan dengan gumpalan kekecewaan yang menyesaki dada.

Kau ingin tahu ke mana si lebah? Mengapa ia tak datang? Baiklah, akan kuberi tahu. Pagi itu, aku melihat si lebah dalam perjalanan ke pesta. Ia terlihat senang sekali. Madu terbaik yang ia siapkan juga sudah dibawa. Tapi saat tiba di persimpangan hutan menuju rumah merpati, ia melihat burung pelatuk. Kau tahu, kan? Burung pelatuk suka memakan serangga. Si lebah kaget sekali melihatnya, ia takut pada burung pelatuk. Lalu ia buru-buru berbalik arah. Karena terburu-buru, ia menabrak pohon, madu yang ia bawa pecah. Malang baginya, madu terbaik itu tumpah mengotori belang-belang baru yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Aku melihat matanya memerah saga menahan tangis. Pasti ia sedih dan kecewa sekali tidak bisa datang ke pesta kawan baiknya.

Sayangnya, merpati putih tidak tahuapa yang terjadi pada lebah madu. Kau tanya mengapa aku tak ceritakan padanya saja? Saat itu aku ingin, tapi ketika aku akan berbelok ke rumah merpati, ibuku memanggilku untuk membantunya. Sore harinya, aku ingin mampir dan memberitahu merpati. Sayang sekali aku tidak menemukannya di dalam rumah. Setelah mendengar ceritaku ini, suatu saat kalau kau bertemu merpati putih, ceritakanlah kisah ini. Mungkin kau akan bisa mendengar tawa riangnya saat bunga-bunga bersemi, seperti dahulu kala.

 

Untuk Opang, 

Jangan marah karena aku tak datang, Pang

  • view 49