Memaksa Takdir

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Maret 2017
Memaksa Takdir

Padamu, aku selalu "memaksakan" takdir pertemuan. Mungkin kau tak pernah menyadari. Sekali waktu, aku akan sengaja meminjam dan mengembalikan buku padamu, agar dalam waktu kurang dari lima menit aku bisa bertemu dan bertukar satu-dua patah kata denganmu. Lain waktu, biar tidak ada kuliah, dengan sengaja aku pergi ke kampus, demi melihat sekelebat sosokmu masuk ke kelas. Pada awal semester, sengaja aku mengambil jam pagi yang biasa kuhindari, sebab aku ingin menikmati sembilan puluh menit berada satu ruangan denganmu. Padamu, aku selalu berusaha "memaksa" takdir. Aku mati-matian memikirkanmu sebelum tidur, berharap sebentar saja kau mau datang menjengukku dalam mimpi. Sial! Malam itu aku bermimpi pun tidak. Aku ingin kita bertemu lebih sering. Dan pertemuan-pertemuan "paksaan" itu hanya menawarkan sedikit bahagia sebelum akhirnya kering.

Padanya yang tak pernah "kupaksakan" takdir bertemu, aku bertemu dengannya lebih sering. Mendadak dia berdiri di depanku saat mengantri makan di kantin. Tiba-tiba dia menepuk pundakku saat aku sibuk memilih buku di perpustakaan. Kadang, ia tetiba saja muncul di samping kursiku. Tak jarang ia mampir dalam mimpiku, tak kuundang tentu. Tapi ia hadir sekehendak hatinya. Ia datang sesuka hati, menyemburkan percik kejutan, meninggalkan kernyitan jidat karena kaget, dan terkadang menarik senyum tipisku.

Ini semua, memang terdengar bodoh. Tapi biarlah begitu. Aku masih akan terus "memaksa" takdir, karena aku tetap ingin bertemu denganmu, sesering mungkin. Akan "kupaksa" takdir, hingga ia datang menyadarkanku, bahwa "paksaan-paksaan" itu tidak perlu, bahwa ada dia yang menungguku.

 

Hal seperti ini, serumit menemukan tema tugas akhir kuliah. Kau ingin tema bagus yang sesuai denganmu, kau cari kemana-mana. Ternyata tema seperti yang kau inginkan dekat sekali denganmu, di depan matamu. Hanya saja kau tak jeli. Sudah, lupakan saja. Mungkin tidak apple to apple, tapi biarlah. Paling tidak begitu yang kurasa.

  • view 130