Monster

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Februari 2017
Monster

“Han, Hanana! Tolong kemari sebentar, Han!” panggil Ibu tiba-tiba, mengurangi keasyikan Minggu pagiku.

Meski malas toh tetap saja kujawab panggilan itu “Iya, Bu. Sebentar. Ada yang bisa Hanan bantu?”

Gini, Ibu dan Ayah mau menjenguk Budhe Das, Han. Kamu tolong jaga Dek Nilam ya. Jangan ditinggal main sendiri lho,”

“Hmm, memang Mbak Retno kemana, Bu?” kataku berusaha melimpahkan tugas pada Mbak Retno yang biasa membantu Ibu menjaga adikku.

“Mbak Retno hari ini nggak datang, dia harus menemani bapaknya berobat, Han. Kamu ada acara hari ini?”

“Eh, oh.. Nggak kok, Bu. Hanana nggak ada acara apa-apa hari ini,” semalas apa pun, aku kan tidak mungkin menolak permintaan wanita terhebat sejagat ini.

“Ya sudah, Ibu dan Ayah berangkat dulu ya, Han. Ibu minta tolong lho. Assalamu’alaikum.”

“Iya, Bu. Wa’alaikumussalam,” lemah aku menjawab salamnya.

Yaah.. Minggu pagi ini harus dihabiskan dengan menjaga Dek Nilam. Sebenarnya itu bukan hal yang susah, tapi hari ini aku ingin menyelesaikan Brisingr, novel terakhir dari trilogi yang ditulis Chistopher Paolini. Hal itu juga bukan masalah besar jika saja novel itu tidak harus aku kembalikan ke Perpustakaan Daerah besok dan istilah “menjaga adik” versi ibuku sesimpel istilah “menjaga adik” versi ibu-ibu lain.

“Menjaga adik” versi ibuku berarti harus menemani sang adik bermain—main apa saja; termasuk jika sang adik ingin bermain “rumah-rumahan” yang membosankan—memberikan perhatian yang paripurna pada setiap ucapan dan gerakannya, serta dilarang asyik sendiri dengan kegiatan lain.

Si Alnilam, adikku itu sebenarnya adalah anak yang manis dan penurut. Dengan pipi gembul merah meronanya ditambah tingkah polos dan menggemaskannya, siapa pun—termasuk aku; kecuali untuk hari ini—akan rela meluangkan waktu sebentar untuk bermain dengannya. Tapi gadis kecil berumur empat tahun itu sangat aktif. Nilam suka bertanya apa saja. Selain itu, dia akan marah dan menangis jika tahu dia diduakan dengan hal lain. Benar-benar tidak ada harapan untuk segera menuntaskan Brisingr.

Tiba-tiba aku teringat temanku, Matari. Aaah! Eureka! Ternyata masih ada harapan untuk bisa menamatkan novel fantasi kesukaanku itu. Minggu lalu, Matari berjanji menemaniku mencari bibit bunga lavender di toko bunga langganannya. Saat aku menemuinya, ia terlihat sedang asyik memainkan game di gadget bersama Nanda, adiknya.

“Sebentar ya, Han. Aku kasih pembekalan adikku dulu,” katanya waktu itu.

“Oh, Iya. Santai aja, Ri. Aku nggak buru-buru kok,” dalam hati aku membatin, pembekalan macam apa yang dilakukan dengan memainkan game dan diberikan pada anak TK? Entahlah, istilah Matari memang aneh dan sering tidak tepat.

“Omong-omong, ibu dan bapakmu ke mana, Ri?”

“Lagi keluar sebentar. Pesan gedung untuk pernikahan Tante Siska pekan depan,” jawab Matari yang masih asyik memperhatikan adiknya memainkan game.

“Oh.. Kalau kita keluar, adikmu jadi sendiri di rumah, dong. Kita tunggu orang tuamu pulang dulu, nih?”

“Nggak usah, Han. Kan adikku sudah aku kasih pembekalan main game. Kalau sudah asyik main game dia suka lupa waktu, nanti aku juga akan kunci rumahku, kok. Jadi nggak usah khawatir,” katanya santai.

“Eh, yang benar nih, Ri? Bahaya lho anak kecil kita tinggal sendiri,”

“Nggak apa-apa, Hanana. Benar deh. Dia itu sudah sering ditinggal gitu. Nanti kalo bosan main game, dia pasti lihat TV deh. Ibu juga sudah sedia banyak jajan, kok. Lagian kita perginya sebentar saja, kan,”

Ya sudah deh kalau Nanda biasa ditinggal sendiri dan Matari juga percaya pada adiknya. Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Aku hanya bisa menurut pada ide gila Matari. Percaya atau tidak, Nanda memang tidak menangis selama ditinggal. Ketika aku dan Matari kembali lima belas menit kemudian, dia masih asyik memainkan game di gadgetnya.

Nah, aku akan melakukan hal yang sama seperti Matari. Alnilam akan kusuruh bermain game saja. Kalau Nanda bisa, pasti Nilam juga bisa. Toh aku juga tidak akan pergi, jadi dia tidak akan merasa kesepian. Rencana yang sempurna, bukan? Segera saja aku mengajak Nilam duduk manis di depan TV dan menyiapkan gadget untuknya bermain. Tidak lupa kusediakan sekaleng biskuit bertopping krim kesukaannya.

“Nilam, sini yuk. Main di dalam saja, Kakak kasih lihat permainan bagus, deh,” kataku memulai rayuan.

“Mau main apa, Kak? Ada beluang Teddy-nya nggak?”

“Ada dong. Lihat sini, deh. Nilam harus membantu Teddy ini untuk cari makan. Gini caranya nih,” kataku mendemonstrasikan cara menyelesaikan game pada Nilam yang mulai antusias.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat Nilam tenggelam dalam euforia memainkan game. Baru semenit aku ajari, ia sudah ribut ingin mencoba sendiri.

“Kak Han, gini ya? Teddy-nya dikasih makan madu, kan? Teddy nggak boleh makan sandal, kan?”

“Iya, Nilam pinter. Kamu main itu dulu ya. Nanti kalau Nilam nggak mau main sama Teddy lagi, Nilam boleh lihat TV deh. Kakak Hanan tunggu di kamar yaa,”

“Hmm..” jawab Nilam yang sudah tenggelam dalam keasyikan bermain game.

Laaah.. begini kan enak. Nilam senang main game dan aku senang karena bisa segera menyelesaikan membaca Brisingr. Segera aku berbaring di kasur, siap tenggelam dalam kisah naga-naga itu.

Belum ada tiga puluh menit ketika tiba-tiba aku mendengar suara ribut. Apa sih ini? Nilam pasti sudah bosan main game dan sekarang ia mulai menonton TV. Tapi kok ribut dan keras sekali?

“Lam, Nilam. Kok nonton TV suaranya kenceng banget, sih? Tolong dikecilkan dong suaranya,” aku berteriak dari kamar.

Lama aku tunggu, tidak ada suara cadel yang segera menjawab teriakanku. Lho, Nilam? Ada yang tidak beres ini. Dengan hati berdebar, kembali aku panggil Nilam.

“Nilam tidur yaa? Kok nggak jawab kakak, sih?”

Nihil! Tetap tidak ada jawaban dari Nilam. Terburu-buru aku keluar kamar, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Astaga! Seketika aku tidak mempercayai penglihatan dan pendengaranku. Aku lihat Nilam memakai baju yang serba kekecilan, bergoyang entok, dan menyanyikan lagu yang tidak pantas dinyayikan anak-anak. Parahnya, suara Nilam mirip sekali dengan suara robot. Itu benar Nilam? Kok jadi begitu?

Sedetik kemudian, Nilam berubah. Iya, berubah! Bertransformasi mirip mobil Sam Witwicky menjelma Bumblebee. Kepala Nilam mengotak, menjadi seperti TV, wajahnya muncul di layar TV itu. Badan Nilam juga mengotak, terlihat seperti gadget yang ia mainkan tadi. Oh, kenapa jadi begini?

“Teddy, Teddy, Teddy,” kata Nilam dengan suara robot.

“Ya Tuhan! Nilam!”

Monster itu menoleh mendengar seruanku. Dia jadi menyadari keberadaanku.

“Kak Han, sini main sama Nilam,” katanya seraya mendekatiku. Aku segera balik badan, siap-siap ambil langkah seribu karena ngeri.

Gubraaaak! Aduh, aku terjatuh di bawah ranjangku. Ranjangku? Berarti monster tadi hanya mimpi? Segera aku keluar mencari Nilam, memastikan ia tidak berubah jadi monster.

“Nilaam!” seruku lega ketika melihatnya masih seperti sedia kala.

Alnilam masih asyik memainkan game, tidak memedulikan kedatanganku. Segera aku rebut gadget dari tangannya.

“Sudah yuk, Nilam. Kita main di luar saja,”

“Nggak mau, Nilam mau kasih makan Teddy,” rajuk Nilam.

“Kita kasih makan Teddy beneran. Nanti kak Hanan cerita Teddy juga, deh,” kataku menawarkan.

“Hmm.. iya, deh,” katanya dengan senyum menggemaskan.

Huft.. aku tidak berharap adikku menjadi “monster” mengerikan karena kecanduan TV dan game. Setelah dipikir-pikir, meding aku temani ia sebentar daripada ia jadi “monster” sungguhan.

  • view 98