Membenci Matahari

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Februari 2017
Membenci Matahari

Kawan, tahukah kau? Baru kali ini aku membenci hadirnya matahari. Aku lebih suka malam kelam, biar bulan dan bintang saja yang berpendaran. Aku tak lagi suka matahari. Kau tahu? Ternyata sinar matahari terlalu menyilaukan, terkadang malah membuat panas gerah dan tak nyaman. Berbeda bukan, dengan temaram cahaya perak bulan dan pendar keemasan bintang yang teduh? Kau bisa rasakan bedanya ’kan? Aku yakin kau bisa.

***

Hei, kau sudah dengar ceritanya, kan? Iya, tentang dia yang tak suka lagi pada matahari. Sudahkah dia memberitahu alasannya padamu? Aku yakin sudah. Tapi tahukah kau? Itu belum semua. Ada alasan lain mengapa dia tak lagi menyukai matahari. Kemarin dulu, dia bercerita padaku. Sebenarnya dia tidak membenci matahari. Dia hanya takut matahari. Kau tak percaya ‘kan? Tapi memang itulah kenyataannya. Dia takut matahari. Sinar matahari yang garang dan terang menyala-nyala akan meredupkan sinarnya. Dia takut tak bersinar di sisi matahari. Dan sejak saat itu, dia lebih memuja malam. Pada gelap malam sinarnya akan terlihat cantik bersanding dengan kilau bulan dan kerlip bintang. Kau pernah lihat ‘kan? Dia menari di tengah malam ditemani rembulan dan gemintang. Indah memesona seperti hauri turun dari atas sana. Sekarang kau percaya ‘kan, kawan? Kunang-kunang tidak membenci matahari, dia hanya takut. Oh, ya. Ada beberapa hal yang dilupakan sang kunang-kunang: cahaya perak bulan yang temaram itu adalah pantulan sinar garang matahari dan bukankah matahari juga adalah bintang? Iya, bintang. Hanya matahari terlalu dekat dengannya, jadi kerlip teduhnya berubah jadi kilau yang menyilaukan. Bolehlah jika suatu hari kau ingin memberi tahu kunang-kunang beberapa fakta kecil ini.

Dilihat 84