Kunci Kebaikan

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2017
Kunci Kebaikan

Sore itu, Ayah Abdillah sangat gusar mendapati setumpuk surat hak jawab* dan hak koreksi* memenuhi meja kerjanya. Tidak biasanya surat hak koreksi dan hak jawab sebanyak ini. Ada apa? Pikir Ayah seraya membaca beberapa surat itu.

Berita tentang perkumpulan peretas dunia maya? Ayah mencoba mengingat lagi, bukankah itu berita yang muncul pada terbitan pekan lalu dan ditulis oleh Gunawan, seorang wartawan muda yang baru saja bergabung dan sering mendapat pujian dari para redaktur?

Berita yang ditulis Gunawan selama ini bagus, tetapi mengapa sekarang banyak surat hak jawab dan hak koreksi masuk? Ada yang tidak beres di sini, Ayah membatin.

***

“Permisi, Pak Abdillah. Ada yang bida saya bantu?” Gunawan menemui Ayah setelah menemukan secarik kertas sticky note tertempel di layar komputer kerjanya.

“Oh, Gunawan. Mari, silakan masuk,”

“Ada sedikit yang ingin saya bicarakan,” kata Ayah setelah Gunawan duduk.

Ayah bercerita pada Gunawan kalau sore ini beliau mendapat banyak surat berisi hak jawab dan hak koreksi atas berita yang ia buat pekan lalu.

“Bagaimana ini bisa terjadi, Gunawan? Apa kamu tidak mengecek kembali fakta-fakta yang kamu dapat? Apa benar kamu bertemu dengan perkumpulan peretas itu?” Ayah memberondong Gunawan dengan banyak pertanyaan.

Gunawan menundukkan kepala saja. Sedikitpun ia tak berani memandang Ayah. Beberapa menit berlalu tetapi ia belum menjawab satupun pertanyaan Ayah

“Maafkan saya, Bapak. Saya tepaksa,” katanya lirih.

“Apa maksudmu, Gun? Saya tidak paham. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Ayah.

Dan kemudian mengalirlah cerita Gunawan.

***

Pekan lalu, Gunawan berangkat kerja seperti biasa. Sebagai wartawan baru, ia berusaha memberikan yang terbaik bagi majalah berita tempatnya bekerja. Berkat kerja kerasnya, Gunawan selalu bisa menyelesaikan target berita. Setiap hari paling tidak ia berhasil mendapatkan empat berita. Dalam tiga hari belakangan, pemuda yang biasa disapa Gugun ini malah berhasil mendapat berita lebih dari target yang ditetapkan kantor. Editor dan redaktur memuji hasil kerjanya.

Siang itu, ketika sedang menikmati segelas es teh dan beristirahat di warung makan padang langganannya, telepon genggam Gugun berbunyi nyaring. Dering telepon itu seakan tidak mau menunggu, meraung-raung memekakkan pendengaran. Tetapi apa yang didengar Gugun kemudian lebih menyita perhatian.

“Gun..... krsak..... ibumu..... krsak..... jatuh..... krask..... krasak..... di kamar mandi..... krask..... banyak darah..... krask..... krask..... krask..... ibumu, sekarang..... kraks..... kraks..... kkrsassk..... di rumah sakit..... krask krask..... tut tut tut tut.....” hanya itu yang tertangkap telinga Gunawan dari suara tergesa-gesa dan kalimat tumpang tindih seorang ibu paruh baya di seberang sana.

Tidak menunggu lama, tanpa memakan nasi pesanannya, Gunawan langsung menuju rumah sakit. Kepanikan, kecemasan, harapan bercampur lebur menjadi satu selama perjalanan. Tak henti ia merapal doa untuk perempuan yang sangat dicintainya itu. Dan akhirnya senyum penuh kelegaan itu terbit di wajah Gunawan ketika melihat ibunya, orang tuanya seorang itu tidak mengalami luka yang serius.

Perlahan ia dekati ranjang sang ibu. Digenggamnya tangan penuh keriput yang entah mengapa selalu terasa sehangat wol dan selembut sutra.

“Ibu..” bisiknya.

Mata tua sang ibu terbuka, senyum mengembang seiring bayangan Gunawan yang jatuh tepat di retinanya.

“Gun.. Kok kamu bisa sampai sini? Jangan khawatir. Ibu tidak apa-apa, Gun. Ibu baik saja,”

“Iya, bu. Gunawan tahu. Sekarang ibu istirahat saja, agar ibu bisa lekas pulang ke rumah. Gunawan akan tunggui ibu di sini,”

Dan sekali lagi sebelum meredup, senyum sehangat mentari pagi itu terbit di wajah tua ibu Gunawan. Di samping ibunya yang lelap tertidur, Gunawan berpikir keras. Ia sudah berjanji pada ibunya untuk tinggal dan menungguinya tetapi tugas kantornya belum selesai. Ia masih harus mencari satu berita lagi. Tik tok tik tok, waktu tetap bergulir, mendekatkan Gunawan pada deadline pengumpulan.

Semua bencana yang akan terjadi tujuh hari kemudian bermula dari sini. Ketika Gunawan tak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya, ia memantapkan hati untuk mengambil risiko. Ia menyerah pada keadaan. Ditengah perang batinnya, jemari tangan menekan sebuah nomor yang selama ini dihindarinya.

“Wah, Gunawan! Wartawan muda berprestasi! Tumben sekali menelepon, ada perlu apa ini?” tanya suara memuakkan dari seberang.

“Beri aku sebuah berita,” Gunawan pasrah berkata. Hatinya berontak, tetapi keadaan sedang tidak berpihak padanya.

“Hahaha, Gunawan kita minta berita? Ada apa ini sebenarnya?”

“Cepatlah! Beri saja aku sebuah berita,” ada amarah yang menyembul tertahan dalam kalimat Gunawan. Amarah yang datang dari rasa ketidakberdayaannya melawan sesuatu yang buruk.

Dan begitulah, berita yang ia dapatkan secara instan itu yang mengantarkan tumpukkan surat hak koreksi dan hak jawab ke meja editor Gunawan seminggu kemudian. Hal yang tak pernah sedikitpun ia pikir akan terjadi.

***

“Seperti itulah, Pak. Saya sungguh menyesal. Maafkan saya, Pak. Misalkan saya harus berhentipun saya bersedia,” Gunawan berbesar hati mengakui kesalahannya.

“Gunawan, Gunawan.. kamu itu polos sekali, ya. Misalkan pekan lalu kamu ceritakan pada kami yang sebenarnya, pasti kami akan beri kamu kelonggaran. Memang gaji di sini tidak terlalu banyak, tapi kita tidak memperbudak pegawai, Gun.”

“Iya, Pak. Maafkan saya,”

“Ya sudah, kami akan urus semua surat ini. Kamu tidak kami berhentikan, Gun. Tapi untuk sementara waktu, kamu beristirahat saja dulu. Jaga ibumu yang masih sakit dengan baik. Kamu wartawan yang sangat berbakat, Gun. Jangan sampai hal-hal seperti itu merusak kariermu. Jurnalisme adalah kegiatan mengejar kebenaran, dalam membuat berita, jurnalis tidak disarankan untuk tidak berterus terang atau tidak jujur, Gun. Ingat itu, ya!” nasihat ayah panjang lebar.

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Satu hal yang akan selalu diingat Gunawan: Jurnalisme adalah kegiatan mengejar kebenaran, dalam membuat berita, jurnalis tidak disarankan untuk tidak berterus terang atau tidak jujur. Lebih dari itu, jujur adalah pangkal kebaikan, kunci kebaikan.

 

*hak koreksi              : hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

*hak jawab                 : hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

  • view 84