Asa untuk Alisa

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2017
Asa untuk Alisa

Najma buru-buru mengikat tali sepatunya. Hari ini hari pertamanya masuk sekolah setelah libur semester pertama. Aku tidak boleh telat, pikirnya. Biasanya, hari pertama setiap semester ada pengumuman kelas baru, jika telat sebentar saja pasti akan susah mencari kelas.

“Bunda, Ayah.. Nana berangkat dulu ya..”

“Lho, Na! Tidak mau nunggu Ayah buat berangkat bareng?” tanya ayah yang masih menunggu Upik dan Fia untuk berangkat bersama.

Ndak deh, Yah. Terima kasih. Nana buru-buru nih. Assalamu’alaikum,” Najma mencium tangan ayah dan bundanya. Secepat kilat ia menuju halte bis di dekat rumah.

***

Huah... untung masih belum begitu ramai, alhamdulillah! Najma tersenyum melihat hanya ada beberapa siswa berkumpul di depan papan pengumuman. Telat sedikit saja, papan pengumuman itu sudah tidak terlihat dari jarak dua meter.

Mata Najma menyusuri kertas-kertas yang tertempel. Hati-hati ia melihat sepuluh lembar kertas yang ditempel paling atas. Atiqah Al-Najma. Ia menemukan namanya berada di kertas bertuliskan X-3.

Oh, kelas X-3, ya.. Lumayan lah, kelas X-3 kan dekat kantin, hehe.. Najma mengulum senyum mengigat hal itu. Baru asyik melamunkan fakta itu, bahunya ditepuk dengan keras dari belakang.

“Astaghfirullah,” Najma kaget.  Ia mendapati Menur, temannya di ekstrakulikuler musik yang terkenal iseng itu sedang tersenyum jahil di belakangnya. “Menur! Bikin kaget saja..”

“Maaf deh, habis kamu malah melamun saja di depan papan pengumuman. Kan bukan kamu saja yang mau melihatnya, hehe,” Menur tertawa-tawa menjengkelkan. Setelah puas tertawa, ia bertanya, “Eh, ngomong-ngomong kamu sekarang di kelas mana, Na?”

“Ehm. Di kelas X-3. Kalau kamu, Nur?”

“Aku di X-5 sekarang. Eh, kamu tadi di X-3 ya? Temanku sekelas dulu sekarang juga di X-3. Kamu tahu anak bernama Alisa? Dia sekarang di X-3. Tapi dia itu aneh, bicaranya pelan, dan sedikit sekali. Kalau tidak diajak bicara dulu, ia tidak akan mulai berbicara. Pokoknya aneh, deh,” Menur bercerita panjang lebar.

“Ah, masa ada anak seperti itu sih, Nur?” Najma tidak percaya apa yang diceritakan Menur.

“Ada kok. Sebenarnya aku kasihan padanya, tapi sepertinya dia juga sudah menutup diri dari pergaulan,”

Dering bel tiga kali memisahkan Menur dan Najma. Najma berjalan ke kelas barunya dengan benak penuh. Ia masih memikirkan cerita Menur tentang Alisa, si gadis misterius yang akan menjadi temannya sekelas. Jadi penasaran, deh. Najma membatin.

***

Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu duduk sendiri di bangku pojok paling depan. Kepalanya terus menunduk, rambut berponinya menutupi sebagian wajah. Anak itu tidak sedikitpun tertarik untuk sekadar menyapa teman-teman baru. Ia seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi di kelas barunya. Begitu pula teman-teman, mereka juga sepertinya tidak ingin beramah-tamah dengannya.

“Hai, boleh aku duduk di sini?” kata Najma menunjuk bangku kosong.

Setelah melihat anggukan dan senyum tipis calon temannya sebangku, Najma duduk dan segera ramai bertanya. Mumpung Ibu Guru belum datang, pikirnya.

“Namaku Najma. Panggil saja Nana. Namamu Alisa, kan?”

Anak itu terlihat kaget. Bagaimana dia tahu? Alisa membatin. Setelah sekian detik terjebak kekagetan, Alisa mengangguk dan menyambut uluran tangan Najma.

Najma berusaha sebisa mungkin untuk membuat Alisa banyak bicara. Tetapi, sekeras apapun Najma mencoba, anak pendiam itu hanya akan tersenyum tipis, mengangguk atau menggeleng, paling mending, dia akan menjawab satu-dua kata dengan suara lirih dan pelan-pelan.

Dalam hati, Alisa senang karena Najma mau mengajaknya berbicara, dia selalu menunggu setiap kata dan respon yang akan diberikan Alisa dengan sabar, tidak seperti kebanyakan temannya. Gadis berjilbab yang baik, batin Alisa ketika Najma mulai mengajaknya bicara. Ia bisa merasakan ketulusan dalam cara bicara Najma. Sayang sekali, Na. Aku belum bisa membuka diriku sekarang. Sedih yang membiru melintasi hati Alisa.

***

Gimana, Na?” tanya Menur ketika mereka bertemu di kantin saat istirahat.

Gimana apanya?” Najma yang asyik menikmati risol kesukaanya balik bertanya.

Menur sedikit jengkel karena Najma menanggapi pertanyaannya dengan asal-asalan, “Itu lho, si Alisa. Anehkan?”

“Oh, Alisa.. Dia baik, kok, Menur. Emang agak pendiam saja,” Najma mencomot satu lagi risol, bersiap menikmati jajanan enak itu.

“Aduh, Najma.. yang serius dong, jangan makan terus! Aku kan ingin dengar ceritamu,”

“Eh, iya deh. Memang apa yang harus aku ceritakan? Begini, deh. Sepagi ini tadi, aku banyak mengajak Alisa ngobrol sih, tapi dia belum mau banyak bercerita. Paling mending dia menjawab pertanyaan dengan satu-dua kata atau kalimat pendek saja,”

“Aku kira kamu berhasil membuatnya banyak bicara, Na. Dia itu kenapa, ya? Aku penasaran. Kadang kasihan juga karena dia tidak punya banyak teman,” kata Menur setelah menghabiskan jus melonnya.

“Kita bantu dia yuk, Nur,”

Gimana caranya, Na?”

“Caranya ya kita harus sering-sering mengajaknya berbicara. Pokoknya kita harus sering mengajaknya berinteraksi, Nur,” Najma menjelaskan dengan bersemangat sekali.

“Ehm, oke deh. Boleh dicoba. Sudah dulu ya, sebentar lagi pasti bel istirahat selesai berbunyi. Assalamu’alaikum, Najma,”

“Wa’alaikumussalam Menur.”

***

            “Alisa, tunggu!” Najma terengah-engah menyusul Alisa. Jalannya cepat sekali sih, pikir Najma.

“Huah, huah.. ki-ta pu-lang ba-reng, ya,”

Alisa mengangguk dan tersenyum lebih lebar melihat Najma mengejarnya sampai kehabisan napas dan susah bicara.

“Tunggu sebentar, ya? Ada temanku dari kelas lain juga ingin pulang bareng. Nggak apa-apa, kan?”

Walau terlihat agak ragu, Alisa mengangguk. Sambil menunggu Menur, Najma mencoba mengajak Alisa mengobrol lebih banyak.

“Rumahmu di daerah Monginsidi kan? Berarti kita searah. Besok pulang bareng lagi, ya..” berondongan pertanyaan dari Najma itu hanya dijawab oleh Alisa dengan senyum tipis dan anggukan kepala.

“Eh, itu Menur! Ayo kita pulang sekarang,”

Mungkin cukup begitu dulu untuk hari ini, paling tidak Alisa sudah tidak sendirian kalau pulang sekolah, Najma membatin. Digandengnya tangan Alisa dan Menur erat. Semoga pertemanan ini abadi hingga surga-Nya, doa Najma dalam hati.

***

Bumi terus berputar, teratur memindahkan pagi dan malam di belahan bumi yang berbeda. Tidak terasa sudah hampir satu bulan Najma dan Menur menjadi teman dekat Alisa. Mereka ingin membantunya keluar dari kepompong malu dan minder.

Walau sudah menjadi teman dekat, Najma tidak pernah bertanya mengapa Alisa menjadi pemalu seperti itu. Biarlah, jika sudah tiba waktunya, Alisa akan menceritakannya dengan sukarela. Sekarang yang terpenting adalah membuat Alisa merasa diperhatikan dan diakui kehadirannya, jadi ia tidak akan merasa sendiri lagi.

Siang itu ketika mereka kembali dari masjid sekolah seusai salat Dzuhur, Alisa bicara sangat banyak. Tentu saja ukuran banyak ini menurut Alisa, bukan ukuran Najma apalagi Menur yang memang suka bicara.

Dengan suara yang masih lirih dan kata-kata yang keluar secara perlahan, Alisa bercerita. Sebenarnya, dahulu saat kecil, Alisa tumbuh seperti anak-anak lain. Dia banyak bicara, suka bernyanyi dan bercerita. Tetapi semua itu berubah ketika suatu hari sepulang bermain ia mengalami pengalaman traumatis. Saat sekecil itu, ia melihat kecelakaan di jalan raya secara langsung. Sirene ambulans yang meraung-raung, ramai kerumunan orang, darah yang tercecer. Semua memori itu terpatri erat di dalam ingatannya.

Sampai di rumah, ia tidak dapat berkata-kata. Alisa yang biasanya riang sekarang jadi pendiam. Dia hanya mejawab pertanyaan dengan anggukan dan gelengan. Sekali ia berbicara, suara yang keluar lirih dan ia berkata sangat perlahan. Jika Alisa merasa tertekan, ia akan tergagap-gagap dan sulit berbicara. Ia makin menarik diri dari pergaulan karena tidak ada teman yang mau mengajaknya mengobrol. Mereka sebal pada Alisa karena ia selalu menjawab pertanyaan dengan anggukan dan gelengan, atau satu-dua kata serta kalimat singkat.

“A-ku se-nang ka-lian mau ber-te-man de-ngan-ku. Te-ri-ma- ka-sih, ya,” Alisa tersenyum lebar. Belum pernah ia tersenyum selebar itu. Senyumnya hari ini manis sekali karena senyum itu datang dari hati.

“Sama-sama, Al. Kita juga senang berteman denganmu,” kata Najma sambil merangkul bahu Alisa.

“Iya, Al. Kata ustadzah Nana di sebelahmu itu, Allah tidak pernah melihat fisik hamba-Nya, yang Dia lihat adalah hatinya. Jika hati kita baik, Allah akan ridha, orang akan senang berada di dekat kita. Bukan begitu, ustadzah?” tanya Menur menggoda Najma.

“Iya, Ibu Guru Menur. Benar sekali. Pokoknya kalau kamu sering tersenyum dan mulai membuka diri, orang-orang akan nyaman berada di dekatmu, Al. Karena mereka tahu, hatimu baik sekali,” ujar Najma tulus.

Dan saat itu juga, Alisa melihat lembaran baru terbuka di depan matanya. Lembar hidup baru yang akan kugunakan dengan baik, yang akan aku penuhi dengan kebaikan saja.

Senyum manis legit milik Alisa mulai terbit.

  • view 74