Naufal dan Misteri Cemilan

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2017
Naufal dan Misteri Cemilan

“Bang, jangan ngambil cemilan kita terus dong! Jatah Bang Opang kan sudah habis kemarin,” protes Akbar ketika kakak tertua itu mengambil paksa stoples cemilan dan memindahkan isinya ke dalam plastik.

“Iya, bener tuh! Sudah tiga hari nih Abang merampok cemilan kita terus.”

“Heran deh, kok Bang Opang mendadak jadi rakus sih?”

“Ini kan jatah cemilan bersama, Bang. Jangan dimonopoli dong,”

Protes adik-adik manis itu hanya ditanggapi Naufal dengan senyum yang tak kalah manis. Tangannya masih sibuk memindahkan cemilan-cemilan. Ia tak hirau sedikit pun pada suara-suara penuh kejengkelan para adik.

“Jangan khawatir, nanti pasti Bunda akan membuatkan lagi yang lebih enak, yang lebih banyak. Kalian tenang saja,” jawabnya santai. Naufal pergi meninggalkan setumpuk heran dan kesal di hati adik-adiknya.

***

Awan mendung berarak memenuhi angkasa, mencoba menutupi sinar lembut matahari sore itu. Naufal memacu motor matic-nya dengan tergesa. Ia tidak ingin tumpukan kardus di jok belakang basah terkena air hujan. Ia tidak ingin isi kardus yang sudah susah payah dikumpulkannya rusak kehujanan. Yang paling penting, Naufal tidak ingin mengecewakan penerima kardus itu. Aku harus sampai sebelum hujan turun, tekadnya.

Diantara hempasan batu di jalan, Naufal tersenyum lebar. Membayangkan ekspresi senang yang akan ditampilkan si penerima kardus-kardus itu membuat semangatnya meningkat. Apalagi jika nanti mereka bisa menikmati cemilan buatan Bunda bersama, cemilan yang tadi ia “rampas” dari adik-adiknya. Pasti menyenangkan sekali. Naufal merasakan sesak di dada karena luapan gembira yang berlebih.

***

Sudah dua hari berlalu dari saat Naufal ditegur adik-adiknya. Tetapi kelakuannya tidak kunjung berubah. Ia masih saja menyerobot jatah cemilan adik-adiknya. Walaupun Bunda tidak keberatan membuat cemilan-cemilan lagi, hal ini tetaplah menyebalkan untuk mereka. Apalagi Naufal tidak pernah memberi penjelasan yang memuaskan dan masuk akal pada adik-adiknya.

“Bang Opang sudah tidak bisa dibiarkan!” Akbar berseru kencang setelah menemukan stoples cemilan dalam keadaan kosong.

“Ada apa sih, Bar? Cemilan kita berkurang lagi?” Aisyah yang baru saja membantu Bunda di dapur mendekat, dilihatnya Akbar menyorongkan stoples, “Yang ini sudah nggak sekadar berkurang, Kak. Ini ludes, des..”

Akbar masih dikuasai amarah, gerutuannya masih berlanjut, “Nggak dirampas Bang Opang aja masih sering defisit karena si kembar makannya banyak, kok.. Apalagi sekarang dirampas gitu setiap hari!”

“Lhoh kok, si kembar yang imut nan tidak berdosa ini juga dituduh, Mas? Kita nggak gitu kan ya, Fi?” Upik protes dan mencari dukungan Fia.

“Sudah, ah. Malah ribut-ribut sendiri,” Aisyah yang memang sudah capek itu melerai, ia malas mendengarkan saudara-saudaranya bertengkar.

“Tapi kalau diingat, memang kali ini Bang Opang sudah keterlaluan lho, kak,” ujar Najma yang baru saja bergabung. “Nana sendiri juga kadang merasa dirugikan lho dengan kelakuan Abang akhir-akhir ini.”

“Setuju sama Teh Nana. Kita harus berbuat sesuatu. Beri Bang Opang pelajaran!” Akbar yang masih geram menguasai forum diskusi dadakan itu.

“Beri pelajaran gimana? Kita kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Bar,”

Tiba-tiba Najma berseru senang, “Lha! Itu dia, kak! Kita kan ndak tahu apa yang dilakukan Bang Opang... berarti...”

“Ya, berarti? Berarti apa?” saudara-saudaranya kompak bertanya. Bikin penasaran aja nih Teh Nana, batin Akbar.

“Ya berarti, kenapa nggak kita ikutin aja Bang Opang? Sekali-kalilah nguntit abang sendiri, nggak salah kan? Lagian tujuannya baik, untuk menegakkan keadilan. Hehehe... Besok pas akhir pekan, habis dia ambil cemilan kita, langsung kita buntuti aja,” usul Najma.

“Ehmm.. gimana, Kak Icha? Boleh ya? Demi keselamatan cemilan kita, nih,” kata Akbar sambil menaik-turunkan alisnya, membujuk sang kakak.

“Hmm.. bolehlah. Nggak ada salahnya dicoba. Kakak juga kadang penasaran sendiri,” persetujuan Aisyah membuat Akbar melompat-lompat gembira bersama Upik dan Fia.

***

Sore itu, setelah pulang dari kampus, Naufal pergi tergesa. Ia mengarahkan motornya ke arah yang berlawanan dengan arah menuju rumah. Karena terlalu tergesa, ia tidak memperhatikan keadaan sekitar ketika meninggalkan kampus. Satu hal yang ada dalam pikiran Naufal adalah segera sampai tempat di mana ia bisa melihat senyum yang sangat ia sukai. Senyum manis legit yang mengembang saat ia membawa tumpukan kardus tempo hari, dan senyum yang lebih lebar dan menentramkan hati ketika ia mengeluarkan cemilan bawaannya.

***

“Lho, Bang Opang kok belok kiri, sih?” ujar Nana heran. “Kalau ke rumah kan seharusnya belok kanan.”

“Sudah, jangan banyak bicara. Cepat ikuti Bang Opang, nanti kita tertinggal lho,” Aisyah memimpin adik-adiknya, mereka segera mengikuti Naufal.

Setelah lama mengikuti, tiba-tiba Upik yang dibonceng Aisyah heboh berseru-seru, “Eh, eh, eh... itu! Itu Bang Opang.”

Kok di sini, sih?

Hla itu siapa?

Berbagai pertanyaan muncul di benak adik-adik Naufal. Mereka tidak menyangka akan menemukan Naufal di tempat seperti itu.

“Bang Opang!!” berbarengan, mereka memanggil Naufal yang sedang asyik berbaur dengan anak-anak gelandangan yang tinggal di kolong jembatan.

“Eh, kalian.. kok bisa?” Naufal terheran-heran melihat semua adiknya ada di situ.

“Hehe.. maaf ya, Bang. Kami tadi ngikutin Abang. Soalnya kami penasaran sih,” Akbar mewakili saudara-saudaranya.

“Oh, oke.. sini deh,  ayo..”

“Mas Naufal, itu siapa?” anak-anak berbaju kumal dan rambut terpanggang sinar mentari itu menarik-narik ujung baju Naufal.

“Kenalkan, ya.. Ini adik-adik saya. Ini Kak Icha, Teh Nana, Mas Akbar, dan si kembar, Upik dan Fia. Kalian bisa main sama mereka sekarang.”

“Horee!! Asyik!! Teman baru,” anak-anak itu bersorak kegirangan.

***

“Maaf ya, Bang. Kami ngikutin Abang tadi,” kata Nana ketika mereka berkumpul di rumah malam itu.

Nggak apa-apa. Abang juga minta maaf sudah menyerobot cemilan kalian,”

“Abang kok nggak bilang sih kalau cemilannya buat teman-teman di sana? Kan kalau Abang bilang bisa kita bantu,”

“Ya.. Abang sih sebenarnya ndak ingin ngrepoti kalian, hehe,”

“Kalau kami tahu tujuan Abang, kami nggak bakal jengkel dan merasa direpoti, Bang,” kata Aisyah jujur.

“Sering-sering ajak kita main ke sana ya, Bang..” pinta Akbar.

“Kita bawa buku yang lebih banyak yaa,” usul Nana

“Gampang, asal kalian pijitin Abang ya.. masih pegel nih gegara kemarin bawa tumpukan kardus-kardus buku, hehe.” Setumpuk bantal melayang ke arah Naufal sebagai jawaban dari adik-adiknya.

  • view 65