Ketika Bunda Pergi

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Januari 2017
Ketika Bunda Pergi

“Lho, Bunda mau ke mana? Mau ke kantor kok bawaannya banyak sekali?” Upik yang baru saja bangun tidur terbelalak kaget karena sepagi ini melihat Bunda berkemas-kemas dibantu Ayah dan kakak sulungnya.

Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Upik, suara Fia menyela, “Bunda mau pergi jauh, ya?”

“Bunda akan menghadiri seminar pendidikan di luar kota, sayang. Tugas kantor,”

“Lama tidak, Bunda?” tanya Akbar yang baru saja selesai mengambil wudhu untuk salat Subuh.

“Hanya sepekan, anak-anak. Jangan khawatir, kan masih ada Ayah.” Bunda mencoba bergurau dan menggoda Ayah.

Alih-alih menanggapi gurauan Bunda, Ayah tetap fokus memberesi bawaan Bunda, “Hmm.. Kelihatannya tinggal sedikit lagi, Bun. Teruskan nanti lagi saja, ya..” lalu beliau mengajak keluarganya ke masjid. “Ayo, sepertinya sebentar lagi ikamah.”

***

Wah.. Bunda tidak di rumah selama sepekan! Hmm.. Tidak ada Bunda selama sepekan!

Kata-kata bermakna sama yang dibalik-balik seperti itu yang melintas di pikiran anak-anak sejak berangkat sekolah pagi ini. Mereka sebenarnya sedih karena Bunda Asma’ harus pergi selama itu. Beliau adalah ibu yang baik. Bagi mereka, Bunda bukan hanya ibu yang baik, tetapi terbaik. Apalagi jika mengingat semua jasa Bunda yang setiap hari selalu bertambah, anak-anak dan Ayah tidak akan ragu memberikan Bunda Asma’ nilai A+ kalau saja ada penilaian Ibunda paling TOP Sedunia.

Tetapi di balik kesedihan itu, menyembul sedikit rasa senang yang timbul dari kekhilafan mereka. Sepekan tanpa bunda? Itu berarti dalam tujuh hari enam malam, mereka tidak akan mendengar teriakan-teriakan sayang-dan-disiplin-tapi-sedikit-terlalu-cerewet yang biasa keluar dari mulut Bunda Asma’.

“Bang Opang! Ini kertas-kertas di meja terpakai ndak? Simpan yang baik kalau sekiranya penting, nak!”

“Icha, Nana.. Piring-piring dan peralatan masak lainnya tolong segera dikembalikan pada tempatnya kalau sudah kering semua!”

“Akbar, baju kotor jangan lupa ditaruh di keranjang cucian yaa..”

“Upik dan Fia sayang, bereskan dulu buku bacaan kalian! Setelah itu kalian bisa main sama teman-teman.”

“Ayah, jangan beri contoh yang tidak baik pada anak-anak dong! Tolonglah.. Ini barang-barang yang sudah selesai dipakai dikembalikan lagi pada tempatnya.”

Bagaimana? Sepertinya menyenangkan ya, melewati tujuh hari kedepan tanpa teriakan-teriakan seperti itu? Hehe.. Tanpa terasa, wajah muram para anak Rumah Cahaya sejak mengantar Bunda Asma’ tadi pagi sekarang sedikit menyungging senyum membayangkan hal itu. Terlupa dari ingatan mereka, bahwa sebenarnya teriakan-teriakan seperti itulah yang menyempurnakan hari-hari mereka dan terkadang menyelamatkan hari mereka dari kekacauan.

***

“Kak, Kak Ichaaa! Kaaak! Lihat kaus kaki Nana nggak? Yang putih itu lho..”

“Kakak ndak lihat, Na. Kamu coba cari dulu, deh. Di tempat setrikaan mungkin.”

Nggak ada, Kak. Nana sudah cari tadi. Woi.. ada yang lihat kaus kaki Nana ndak?”

Belum ada yang menjawab pertanyaan Najma, tetapi teriakan lain sudah saling sahut, “Eh, ada yang lihat kertas merah jambu di atas meja komputer tidak? Itu tugas Fia hari ini, penting banget!”

“Kotak kacamata Ayah di mana ya, anak-anak?

“Haish.. sudah jam enam lebih seperempat! Mana seragam olahraga belum disetrika lagi! Haduuuh..”

Dan sebentar kemudian, terdengar teriakan Upik, “Bang Opaaang!! Baaang!! Tolong Upik dong! Sepeda Upik gembos nih, butuh dipompa.”

“Sebentar, Pik. Contoh batuan Abang yang harus dikumpulkan nanti kok ndak ada ya? Ada yang lihat? Apa jangan-jangan dibuang ya?”

Begitulah, baru empat hari tangan ajaib Bunda Asma’ tidak menyentuh Rumah Cahaya, baru tiga malam tidak terdengar teriakan-teriakan sayang-dan-disiplin-tapi-sedikit-terlalu-cerewet yang tidak terlalu disukai penghuni Rumah Cahaya. Dan lihatlah apa yang terjadi!

Hari-hari yang mereka bayangkan akan berjalan menyenangkan dengan tidak adanya berbagai teriakan sayang-dan-disiplin-tapi-sedikit-terlalu-cerewet dari Bunda Asma’ malah berubah menjadi kekacauan seperti itu. Teriakan-teriakan a la Tarzan saling bersahutan setiap pagi, tetapi sayang teriakan-teriakan itu tidak menemukan jawab yang pas, hanya membentur dinding rumah sebelum akhirnya mengambang di atas atap dan hilang bersama hembusan angin pagi. Berbagai teriakan a la Tarzan itulah yang nantinya akan menyulut sumbu ketidaksempurnaan hari penghuni Rumah Cahaya.

Oh, Allah. Aku sudah tidak kuat menghadapi kekacauan seperti ini setiap pagi. Hari, cepatlah berlalu. Bunda, cepatlah kembali. Ratap Ayah Abdillah dalam hati.

***

“Assalamu’alaikum. Bunda pulang!”

Nah, itu dia! Suara yang sepekan ini sudah-sudah ditunggu para penghuni Rumah Cahaya akhirnya menggetarkan gendang telinga mereka juga.

“Wa’alaikumussalam. Hore! Bunda... Bunda...” si Kembar menyongsong Bunda ke depan pagar.

“Bunda, Fia sayang Bunda deh,”

“Upik juga,”

“Kalian sedang merayu Bunda agar dapat jatah oleh-oleh dobel ya?”

Upik dan Fia menggeleng kuat-kuat, “Nggak, Bundaku. Kami memang sayang kok sama Bunda. Iya nggak, kakak-kakak?”

“Iya, kami sayang Bunda. Bunda terbaik, deh. Jangan pergi lama-lama lagi ya, Bun.” Naufal mewakili adik-adiknya.

“Kok kalian mendadak jadi begini. Ayah, ada apa sih, ini?

Ayah yang ditanya hanya mengangakat bahu, pura-pura tak tahu. Tetapi Bunda Asma’ memang benar-benar tak tahu bahwa keluarganya baru saja mengerti bagaimana susahnya menjadi ibu dan bagaimana rasanya ditinggal seorang ibu walaupun hanya untuk sementara. Satu hal yang Bunda tahu, dia menyayangi keluarganya, sangat sayang.

  • view 65