Secercah Ikhlas Hati

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Januari 2017
Secercah Ikhlas Hati

Today I don’t feel like doing anything, I just wanna lay in my bed

Don’t feel like picking up my phone, so leave a message at the tone

‘Cause today I swear I’m not doing anything

I’m gonna kick my feet up and stare at the fan

Turn the tv on, throw my hand in my pants

Nobody’s going to tell me I can’t, no!

The Lazy Song milik Bruno Mars itu tidak berlaku untuk anak-anak di Rumah Cahaya. Lagu itu bukan lagu pembuka hari mereka. Hari-hari di Rumah Cahaya selalu diawali dengan hal bermanfaat. Bunda Asma’ bilang: Say No to Laziness! Bersantai boleh, tetapi jangan malas, dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan setelah semua kewajiban dan pekerjaanmu selesai. Prinsip itulah yang Ayah Abdillah dan Bunda Asma’ tanamkan pada anak-anak Rumah Cahaya sejak dini.

Sudah menjadi kebiasaan, keluarga Ayah Abdillah dan Bunda Asma’ akan bergotong royong membersihkan rumah di akhir pekan. Rumah yang bersih dan sehat akan nyaman ditinggali, penghuninya akan betah berlama-lama di dalam rumah. Bukankah Yang Mahaindah juga mencintai keindahan?

Pagi itu, tanah pekarangan masih basah oleh embun dan sisa hujan. Sinar hangat matahari pagi belum bisa menguapkan semua air yang semalam tumpah.

“Hmm.. Udara pagi yang menyegarkan, belum banyak polusi!” seru Akbar yang pagi itu mendapat jatah membersihkan teras.

Percikan lumpur yang menutupi teras tidak mampu menghapus senyum dari wajah Akbar yang berbinar-binar. Kotornya teras rumah pagi itu tidak sedikit pun menyurutkan semangatnya. Masih dengan senyum dan energi maksimal, Akbar mulai bersiap membersihkan teras rumah. Dengarlah! Bahkan kini ia bersenandung riang walau tidak jelas lagu apa yang ia senandungkan.

“Senang dan semangat banget, Bar. Ada apa nih?” tanya Bang Naufal yang asyik merapikan rumput di halaman.

“Iya jelas dong, Bang. Mengerjakan sesuatu kan harus dengan sepenuh hati, pikiran positif, dan hati ikhlas. Lagipula, nanti Akbar mau berburu buku sama teman-teman. Jadi lebih baik tugas ini dikerjakan cepat-cepat. Jadi Akbar bisa segera pergi sama yang lain, hehehe,”

            “Wah, ternyata pagi hari yang segar ini membawa dampak positif untukmu, Bar. Kamu jadi lebih bijaksana begitu, hehe. Oh ya, nanti jangan lupa bawakan satu buku untuk Abang ya, Bar,”

“Oke, Bang! Gampang diatur itu, asalkan ada uangnya saja, haha”

Bang Naufal tersenyum mendengar kelakar adiknya, “Ya sudah, yang penting itu teras dibersihkan dulu sampai kinclong.”

Belum selesai Bang Naufal berbicara, Akbar sudah masuk ke rumah, mencari ember dan peralatan membersihkan lantai. Sebentar kemudian, ia sudah larut dalam euforia bersih-bersih. Senandung-senandung kecil-tak-begitu-jelas menemani ayunan kain pel dan siraman airnya. Akbar menikmati sekali kegiatan bersih-bersih itu. Tanpa terasa, Akbar sudah selesai membersihkan semua lumpur yang memenuhi teras.

“Ah.. Akhirnya selesai sudah,” katanya lega bercampur puas. “Mau ngadem smoothie dulu, ah..”

Akbar segera masuk, tak sabar menikmati smoothie kesukaannya. Baru saja dia menghabiskan segelas jus buah bercampur yogurt segar itu, dari luar terdengar suara anak kecil memanggil namanya.

“Mas Akbal, Mas Akbar! Aku sudah bisa melakit lego yang kemalin nih,”

Suara cadel dan cempreng itu! Si Ibra! Tetangga sebelah berumur tiga tahun nan imut itu memang dekat dengan Akbar. Teh Nana bilang, Ibra adalah fans berat Akbar. Akbar? Ia juga sayang pada Ibra. Akbar bilang, Upik dan Fia sudah terlalu besar untuk dicubit dan dibilang imut, jadi Akbar melampiaskan kegemasannya pada Ibra.

“Yooo, Ibra.. Mas Akbar ke sana deh, sebentar ya,”

Akbar buru-buru menuang smoothie ke dalam gelas kecil. Ini untuk Ibra, katanya dalam hati. Dengan senyum terkembang, ia bergegas ke depan, siap menemui si imut Ibra dan melihat rakitan legonya. Tetapi apa yang dilihat Akbar di teras membuat senyumnya yang terkembang surut dan mengerucut.

Di sana, iya di sana! Si imut Ibra itu berubah menjadi monster yang sedikit mengacaukan cerahnya pagi Akbar. Ibra dengan santai berdiri di teras yang baru saja dibersihkannya dengan kaki kotor penuh lumpur. Kaki kecil berlumpur itu berhasil membuat teras rumah kembali kotor.

“Aduh, Ibraaaaaa... Ini kok, jadi kotor lagi?! Aduh, Ibraa.. Yaah,” Akbar kehabisan kata-kata karena terlalu kaget dan sebal. Dia tidak mungkin marah pada si kecil Ibra, kan? Ibra pasti tidak tahu apa yang telah diperbuatnya membuat Akbar kesal.

“Mas Akbal, Ibla...” Ibra bingung, mengapa Akbar terlihat gusar begitu. Bertambah bingung, karena Akbar tidak segera mengambil dan melihat lego yang diacungkannya.

“Hmm, Ibra. Begini deh, sekarang Ibra pulang dulu. Ini smoothie bawa pulang, Ibra bersihkan dulu kaki Ibra, nanti siang atau sore baru ke sini lagi bawa legonya. Nanti kita main lego bareng. Oke?” Akbar menyerahkan gelas smoothie pada Ibra, sedikit mendorong dan memaksa Ibra segera pulang. Ibra berbalik arah, sesekali menengok Akbar. Yang ditengok sibuk meratapi lantai yang kembali kotor.

“Haish.. Bakalan telat nih! Mesti bersihkan ini dulu. Pasti lama deh,” keluh Akbar.

Akbar kembali ke dalam untuk mengambil alat-alat kebersihan. Dia harus membersihkan teras lagi. Sekarang, tak ada senandung kecil-tak-begitu-jelas keluar dari mulutnya dan sebagai gantinya, Akbar mengomel tak jelas. Senyum yang tadi mengembang meredup, wajahnya yang berseri mendadak tertutup mendung. Energi positif berubah menjadi energi negatif. Akbar kembali mengerjakan pekerjaannya dengan hati jengkel dan penuh ketidaksukaan. Kasar sekali ia menyiramkan air dan mengelap lantai. Sesekali terdengar kelontang peralatan kebersihan, sangat gaduh.

Akhirnya, bersih-bersih jilid dua yang terasa sangat lama itu akan segera berakhir. Tinggal sekali lagi menyiramkan air, dan ritual bersih-bersih itu selesai. Ketika menyiramkan ember air terakhir itulah Akbar terpeleset, jatuh berdebam. Suara ramai berklontangan membuat Ayah, Bunda, dan saudara-saudaranya keluar, ribut melontarkan tanya apa-yang-terjadi, mengapa, dan apakah-kamu-tidak-apa-apa.

“Mas Akbar.. Kok bisa sih?” si Kembar bertanya sambil membantunya berdiri.

“Hehe.. Yah, gitu lah,” Akbar meringis menahan sakit dan malu.

“Makanya Bar, kalau melakukan sesuatu itu harus ikhlas. Kayak tadi pagi kan kamu kerjanya bagus banget tuh. Cepat kelar, hati senang, dan nggak kepleset, hehe,” nasihat Bang Naufal.

“Iya, Akbar tahu. Mengerjakan sesuatu dengan ikhlas akan mempermudah kita, meringankan beban fisik dan hati.”

Hmm.. Akbar, Akbar. Ada-ada saja anak keempat Ayah Abdillah dan Bunda Asma’ ini. Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Aku harus ikhlas. Akbar membatin dalam hati.

  • view 71