Aulia

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 November 2016
Aulia

Namanya Aulia. Dia sahabatku, sahabatku selalu. Sejak aku bisa mengingat, dia sudah ada di sampingku sebagai sahabat. Aulia memiliki semua kriteria sahabat baik. Ia cantik, cerdas, dan berhati emas. Hal paling menarik dalam hidupnya dan yang membuatnya berbeda dari teman-temanku yang lain adalah dia selalu bersyukur dan menghargai hidupnya. Asal kau tahu, Kawan, jalan hidup Aulia berbeda dari kebanyakan orang. Satu kata untuk Aulia dan hidupnya: Istimewa.

Aulia. Jika nama itu disebut, memoriku melesat, melayang pada suatu pagi di musim panas awal Juli. Satu memori dari sekian banyak memori yang mampu manusia ingat saat berumur dua tahun. Hari itu Aulia ulang tahun. Aku sudah menyiapkan sebuah ‘kado spesial’, sebuah gambar kue ulang tahun, dia pasti suka. Tak sabar ingin kutunjukkan gambar itu padanya. Sampai saat ini, masih bisa kurasakan besarnya rasa kecewa saat tak kutemukan seorang pun di rumah Aulia. Sepagi ini dan dia tak ada di rumah. Kemana dia? Ini aneh sekali.

“Bunda! Bunda! Apakah Bunda melihat Aulia? Kemana Aulia, Bunda?” aku berteriak-teriak menanyai Bunda, melampiaskan kesal dan kecewa karena tak menemukan Aulia.

“Aulia pergi ke rumah sakit, Sayang. Semalam. Bersama papa dan mamanya.”

“Mengapa ia tak mengajakku, Bunda? Memang siapa yang sakit? Apakah Aulia sakit, Bunda? Sakit apa?”

Bunda menggeleng untuk menjawab berondongan pertanyaanku, “Bunda tidak tahu, Sayang. Nanti Bunda akan ke rumah sakit, kau bisa ikut agar kau bisa bertemu Aulia.”

Sejak hari itu, seperti yang telah dituliskan dalam kitab-Nya ratusan tahun yang lampau, hidup Aulia berubah. Ia tak akan hidup sendiri sekarang, akan ada yang hidup bersamanya, menempel erat padanya, namanya: Leukimia. Sejak hari itu, ia harus keluar masuk rumah sakit. Sejak hari itu, ia harus rutin menjalani kemoterapi dan minum obat-obat yang sulit tertelan. Aulia tegar menghadapi semuanya. Kawan, lihatlah! Gadis sekecil itu, sedikit pun ia tak pernah mengeluh. Aulia tak pernah menyesalkan hidupnya.

Lihatlah! Dia tak pernah menyesalkan rambut hitam lebatnya yang makin menipis karena pengaruh zat-zat kimia yang memasuki tubuhnya, dia tak pernah menyesalkan hari-hari membosankan di dalam kamar rumah sakit yang pucat. Sekali lagi kukatakan padamu, Kawan. Ini semua, karena ia berbeda. Jelas kuingat celoteh polos khas anak-anak yang Aulia lontarkan saat aku menemaninya menghabiskan akhir pekan di rumah sakit.

“Tika, ini becak kecilku. Naik ini asyik lho, Tik. Kau mau mencoba?” tanyanya padaku dari atas kursi roda.

Dan ia akan tertawa terkekeh-kekeh saat aku sengaja mendorong kursi rodanya sedikit kencang “Hehehe.. Ini asyik sekali, Tika. Kamu harus coba! Kalau tidak ada Om Dokter dan Tante Suster aku akan gantian mendorongmu, Tik. Kamu mau ya, Tik? Oke? Hehehe..”

Aku ikut tertawa bersamanya, menemaninya merasakan bahagia. Tetapi kawan, aku tak tahu mengapa, diantara tawa yang terlepas, sesak dadaku dan panas mataku menahan air mata yang nyaris tumpah. Lihatlah! Aulia tertawa seolah ia menderita sakit remeh-temeh saja.

Lain waktu, ia dengan santai dan tanpa beban bercerita, “Tika, kau tahu? Kemarin dokter Bambang menyuntik punggungku, kata mama, itu buat mengambil contoh tulang belakangku. Aku disuntik dengan jarum suntik sebesar ini, Tik,” ia mengangkat tangannya yang dipasangi infus dan menunjukkan jari telunjuknya. “Besar sekali bukan?” lanjutnya.

“Kamu nggak takut, Al?”

“Nggak. Rasanya cuma kayak digelitikin, Tik. Geli. Eh, malah Dokter Bambang marah, katanya kalau aku gerak terus nanti jarumnya bisa patah di dalam, berbahaya. Tapi mau gimana lagi, Tik? Memang rasanya geli sih, hehehe..”

Aku menjawil pipinya, “Itu memang bahaya, Al. Kamu tak tahu?”

“Hahaha...” lagi-lagi ia hanya terkekeh.

Begitulah, berbusa-busa ia menceritakan pengalamannya. Menyederhanakan hal yang rumit dan mengerikan. Aulia selalu bisa mengambil sudut pandang yang berbeda untuk menceritakan kisahnya padaku. Walau aku tahu, jauh dalam hatinya, ada juga rasa jerih, ngeri, dan sedih. Tetapi kawan, gadis ini telah memilih, ia hanya akan melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Seperti biasa, di saat aku tertawa bersamanya aku merasakan titik air mata yang keluar bukan hanya karena rasa bahagia. Aku merasakan kepedihan dalam tawa kami.

***

Suatu hari, dalam sunyi kamar rumah sakit, aku tak bisa lagi menahan isakku. Tumpah sudah tangisku saat itu. Susah sekali membendung tangis saat aku harus melihat sahabatku terbaring di atas ranjang rumah sakit untuk yang kesekian kalinya. Berbagai selang centang-penerang di sekitar Aulia. Tubuh kurusnya makin jelas terlihat karena baju rumah sakit yang kedodoran. Tak ada sehelai pun rambut yang membingkai wajah pucatnya.

“Mengapa menangis, Tika? Apa yang kau tangisi? Rambutku? Jangan khawatir, Tik. Bisa tumbuh lagi. Akan tumbuh lebih lebat dari rambutmu,” Aulia tersenyum, terbangun karena mendengar  isakku.

Aku menggeleng. Mengusap air mata yang menganak sungai. Sekuat tenaga aku berusaha, memberikan senyum padanya. Aku tidak akan menangis di depan Aulia. Aku hanya ingin tertawa bersamanya. Sudah kubilang padamu, Kawan. Ia berbeda dan sangat istimewa. Dengan kondisi seperti itu, ia masih bisa tersenyum dan menghiburku.

***

Aulia, dengan semua keterbatasannya, dengan hidupnya yang berbeda, dia tetap berkarya. Ia tidak pernah menyerah pada penyakitnya. Aulia banyak mengikuti kegiatan amal. Ia menggambar, melukis, menulis puisi, cerpen, dan lagu-lagu. Aulia membacakan karya-karyanya dalam acara amal serta mendonasikan karyanya untuk para penderita kanker. Aulia tertawa dan berbagi cerita pada mereka.

“Aku tidak ingin mereka sedih meratapi takdir, Tik. Aku ingin mereka juga merasakan hidup yang normal. Aku ingin mereka tertawa bahagia, terlepas dari derita penyakit yang menghantui,” harapnya suatu hari.

“Suatu hari, jika semua sudah siap, aku akan hadiahkan padamu karya terbaikku. Jika waktu itu tiba, kau harus membantuku, meneruskan apa yang sudah aku mulai. Sebarkan karyaku pada banyak orang, Tika,” kata Aulia sambil menunjukkan sebuah buku bersampul ungu muda dan pink, di jilid ring paling atas buku itu, menggantung tiruan rumpun bunga biru kesukaannya, Forget Me Not.

Ia menyembunyikan buku itu di balik bantal ketika aku akan mengambilnya, dengan tersenyum ia berkata, “Bukan sekarang, Tika. Suatu hari, jika semua sudah siap.”

Aulia, kau harus tahu. Aku di sini, di sampingmu. Aku akan mendukungmu semampuku, aku akan terus membantumu. Karena kau istimewa, Aulia. Kau berbeda, kau berhati mulia.

***

Hari ini, genap sebulan dari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Hari ini, tugasnya menyemai bahagia di antara para penderita kanker telah usai. Hari ini, perjuangan beratnya selesai. Aulia meninggalkan selaksa kehangatan semangat dan bahagia bagi orang-orang di sekitarnya. Hari ini, terakhir kali aku bisa menatap wajah tirus cantiknya. Esok pagi tak akan kudengar lagi celotehan ringan dan tawa renyahnya.

***

Seminggu kemudian, sepulang sekolah, kutemukan di atas mejaku sebuah buku yang sangat aku tunggu-tunggu, sebuah buku yang aku kenal tapi tak pernah sekalipun aku tahu apa isinya. Buku itu, buku bersampul ungu muda dan pink. Buku dengan gantungan tiruan rumpun biru Forget Me Not. Di atas sampul halusnya, ada secarik kertas kecil berbau harum bertuliskan: Untuk Atika, Sahabatku Selalu.

Aulia, kaukah itu?

 

Tribute to my beloved sister, the strongest girl I've ever met.

Zahwa Aulia (07/07/2007-04/08/2015)

You really are wonder, Wa. Love you.