Untuk Ayah-Mama: My Man dan Pacar yang Tak Pernah Putus

Nahla Jingga
Karya Nahla Jingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Untuk Ayah-Mama: My Man dan Pacar yang Tak Pernah Putus

Ada banyak orang yang memengaruhi hidup saya. Dan seperti kebanyakan orang, dua orang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah: Ayah dan Mama. Mainstream memang, saya tahu :) tapi alasan di balik pernyataan mainstream ini pasti berbeda-beda untuk setiap individu yang mengikrarkan pernyataan itu. Saya juga punya alasan tersendiri. Bagi saya, semua orang tua hebat, paling tidak menurut anak-anaknya. Kalau hal itu belum disadari sekarang, di kemudian hari akan segera disadari. Bukankah begitu?

Ayah. My first and forever man. Mungkin keakraban saya dan Ayah tidak seerat keakraban saya dengan Mama. Tapi menurut saya, kadar keakraban ini lebih dari rata-rata yang dimiliki teman-teman saya. Ayah will always be my man. Always. Hingga usia yang memasuki 21 tahun ini, di mata Ayah, saya masihlah gadis kecilnya. Ayah masih mau mengantar saya ke mana saja; ke rumah teman, ke tempat nongkrong kesukaan saya: perpustakaan daerah, ke pasar, berobat, bahkan hanya untuk sekadar mengembalikan barang remeh-temeh yang saya pinjam dari teman. "Mau ke mana, Kak? Butuh diantar?" begitu pertanyaan Ayah setiap melihat saya bersiap-siap pergi. Ayah tak ragu mengantar putinya pergi ke mana saja. 

Dulu, Ayah saya bekerja di perusahaan textil besar di kota Semarang. Kata Mama, gaji Ayah dulu berkali-kali lipat dari gaji PNS. Itu dulu. Saat Tuhan menguji keluarga kami dengan kecukupan. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998 juga berdampak pada Ayah. Mimpi buruk bernama Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK datang pada keluarga kecil kami.  Tuhan telah memberi keluarga kami berkah lewat ujian ini. Tuhan ingin kami kuat. Saya ingat, betapa kacau keadaan saat itu. Setiap awal memang susah. Ayah mencoba banyak pekerjaan baru. Membuka jasa sablon dan percetakan, supplier seragam, supplier kain, hingga berjualan krupuk rambak, makanan kecil, dan minyak wangi. Saya ingat sekali ucapan Mama saya, "Jangan pernah membenci Ayahmu. Ayah telah bekerja keras. Ayah juga tertekan, seperti kita. Tapi Ayah adalah kapten kita. Ayah ingin memperlihatkan kekuatan yang Allah berikan melalui ujian ini pada kita." 

Dalam keadaan susah begitu, Ayah tetap menunjukkan cinta pada keluarganya. Masih lekat betul dalam ingatan saya, saat itu di sekolah saya sedang nge-hits binder (semacam buku yang digunakan untuk menyimpan kertas-kertas yang salah satu tepinya berlubang itu lho. Tahu 'kan?) Setelah menahan keinginan beberapa lama, tembok pertahanan saya runtuh. Saya ingin binder juga, seperti teman-teman lain. Saya utarakan keinginan saya pada Ayah dan Mama. Dan suatu hari sepulang dari berjualan, Ayah membawakan binder idaman itu. Saya ketahui di kemudian hari, bahwa binder pertama saya itu berasal dari uang hasil Ayah berjualan seharian di tengah hujan. Oh my God! Saya sampai kehilangan kata-kata.

Menurut saya dan adik, Ayah adalah sosok yang jahil dan ingin tahu kegiatan anak-anaknya (kepo, kata anak-anak gaul sekarang). Ketika saya sedang asyik tiduran sambil membaca buku, Ayah akan datang, ikut tiduran di samping saya, dan bertanya banyak hal yang menurut saya tidak penting dan mengganggu keasyikan saya membaca. Semakin saya jengkel, semakin senanglah Ayah. Di waktu lain, saat saya sedang khusyuk nonton film atau membuat pernak-pernik, tiba-tiba datang cubitan kecil di lengan saya. Itu juga perbuatan Ayah. Jahil 'kan? Saat saya mengadukan hal ini pada Mama, dengan santai beliau menjawab, "Ndakpapa. Itu tanda sayang Ayah. Kan tahu sendiri dulu pas kamu kecil Ayah nggak punya waktu untuk bermain denganmu?" Jawaban retoris ini segera membungkam mulut saya. Well, begitulah. Ayah mencintai saya dengan cara yang unik dan berbeda. 

Satu orang lagi. Menceritakan tentang Mama tidak akan pernah ada habisnya. Semua hal dalam diri Mama adalah kehebatan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah intan berlian. Bagi saya, walaupun Mama tidak bisa meneruskan mimpinya menjadi guru dan bekerja, beliau tetaplah orang sukses. Hidup Mama keras sejak kecil. Sebagai anak tertua, Mama harus bertanggungjawab atas adik-adiknya. Mama selalu membantu Uti (Nenek), menjaga dan mengurus ketiga adiknya. Mama tidak ingin anak-anaknya mengalami masa muda sekeras dirinya. Apapun Mama lakukan untuk membuat hidup anaknya bahagia.

Saat kebosanan melanda hari-hari saya diperantauan, ketika kegiatan kampus membuat saya ingin melenyapkan diri, saya selalu ingat nasihat Mama. "Nahla, satu hal yang perlu kamu ingat. Jika kamu sudah merasa lelah berusaha dan belajar, ingat Mama. Mama tidak ingin kamu seperti Mama. Dulu Mama tidak bisa kuliah, gagal jadi apa yang Mama cita-citakan, sekarang Mama biayai kamu kuliah. Kuliah yang benar. Jangan jadi seperti Mama. Kamu harus kerja. Jadi perempuan hebat! Ingat selalu, doa dan usaha Mama di rumah untuk kamu dan adik. Mama dan Ayah usahakan yang terbaik untuk kalian, kalian juga harus lakukan hal yang sama." Kata-kata itu yang memacu saya untuk terus berusaha yang terbaik.

Memberi yang terbaik untuk keluarga adalah salah satu dari banyak cara yang bisa Mama lakukan agar dapat ridho Tuhan. Mama tidak segan datang menengok saya di Semarang, dengan dibonceng Ayah, Mama menerobos hujan dan terik. Kedua orang spesial itu menggunakan motor butut, menahan dingin angin. Salatiga ke Semarang balik lagi Semarang ke Salatiga. Kawan, itu semua mereka tempuh hanya  untuk melihat saya, memastikan saya baik-baik saja. Dan berdosalah saya jika saya tidak menunjukkan bakti pada keduanya.

Hampir setiap hari, Mama mengirim saya SMS. Pagi hari, beliau selalu mengirim SMS berisi doa. Setelah itu, bertubi-tubi SMS Mama menanyakan kegiatan saya. Ketika orang lain sibuk berkirim kabar pada sesiapa-lain-yang-disebut-pacar, saya berkirim kabar pada Mama. Jika orang yang sering bertanya serta memantau keadaan dan kegiatanmu disebut pacar, maka Mama adalah pacar saya. Pacar yang tidak akan pernah saya putuskan. Kebahagiaan Mama tidak terletak pada baju bagus atau perhiasan yang gemerlap. Bahagia Mama saya terletak pada senyum suami dan anak-anak. Suatu saat saya pernah bilang, "Ma, maafkan. Nahla sering merepotkan dan menhgabiskan banyak uang untuk keperluan kuliah." Mama saya menjawab, "Untuk apa minta maaf? Itu semua kewajiban Mama. Hanya ini yang bisa Mama wariskan. Ilmu yang kamu dapat di kampus. Jika kamu merasa bersalah untuk itu, bayarlah dengan belajar sungguh-sungguh."

1000 kata tidak akan pernah cukup untuk menceritakan hebatnya orang tua. Tidak hanya orang tua saya, tapi semua orang tua di dunia ini. Mereka hebat dengan cara mereka sendiri. Perhatian, cinta, kasih, serta sayang dari Mama dan Ayah untuk saya dan adik membludak. Overloaded. Hanya saja terkadang saya tidak bisa menerjemahkannya. Mungkin ada satu maksud Ayah dan Mama. Mereka ingin, keluarga kami sehidup sesurga. 

  • view 196