Pulanglah

izzatun nafsi
Karya izzatun nafsi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juli 2016
Pulanglah

Kurebahkan badan di atas ranjang empuk. Kupandangi langit-langit dan seluruh ruangan yang berukuran 5x6 meter, dinding bercat biru membuat suasana terasa sejuk. Sinar matahari menembus celah-celah jendela yang setengah terbuka.

“Mas, ini teh hangatnya” Diletakkannya teh di atas meja yang berada dipojok ruangan. Sedikit demi sedikit kuhirup udara pagi yang segar. Aku masih menikmati setiap hembusan napas yang dikeluarkan dari rongga pernapasanku.

“Terimakasih untuk tehnya” kuangkat gagang cangkir dengan jari-jari sebelah kanan. Bibirku mulai bersentuhan dengan cangkir dan meneguk setiap tetesnya. Ia sudah mengenaliku, terbukti dari teh yang telah ia buatkan. Ia tahu bahwa aku penggemar teh tawar hangat.

Ia menuju dapur untuk membuatkan sarapan. Kuperhatikan setiap langkahnya, kakinya panjang dengan kulit berwarna kuning langsat. Rambutnya sebahu terurai, membuatnya nampak cantik. Sebelumnya ia sudah menyiapkan sebuah handuk untuk mandi. Aku beruntung mengenalnya dan memilikinya sebagai istri, ia begitu cekatan menata kebutuhan. Sementara ia memasak di dapur, aku menyelesaikan aktivitasku untuk mandi.

“Sepertinya masakanmu enak-enak pagi ini” Di atas meja sudah terhidang nasi putih, sayur sop dan udang asam manis yang terlihat sangat lezat. Ia mengambilkan piring dan nasi lalu diletakkan tepat di hadapanku, tak lupa sendok dan garpu juga sudah siap untuk melahap habis masakannya. “Bagaimana, mas? Enak?” bibirnya menyunggingkan senyum, matanya seperti menunggu pendapat dariku. Aku tidak berbohong, masakannya memang sangat enak. Kuanggukkan kepala sebagai tanda bahwa ini lezat. Ia mulai mengambil piring dan makan bersamaku. Terasa sangat damai saat hanya ada kami berdua menikmati pagi ini dengan sederhana. Merasakan sarapan bersama diakhir pekan. Lima belas menit berjalan, kami sudah menyelesaikan sarapan.

“tok tok tok” Suara ketukan dari pintu depan terdengar saat kami duduk di sofa ruang tengah. kami saling memandang dan menyepakati bahwa aku yang akan membuka pintu.

Di depan pintu sudah terlihat seorang wanita berdiri tegak, dengan jilbab berwarna coklat dan gamis panjang hingga mata kaki. Sepuluh detik mata kita saling memandang dan terdiam. Wanita itu mulai menggerakkan bibirnya dan mengatakan sesuatu “Pulanglah”, sedangkan aku masih terdiam.

“Siapa, mas?” Istriku menghampiri ke depan teras karena merasa penasaran tamu yang datang. “Mbak” dengan sigap istriku menyapa dan menjabat tangan wanita itu. Ia mempersilahkannya untuk masuk ke dalam. Namun wanita itu menolak dan berkata “Aku hanya sebentar saja, aku hanya ingin mengatakan pada suamimu ini untuk pulang”.

“Mas, segeralah kamu berkemas dan ikut mbak untuk pulang.” Istriku memandangiku yang masih saja membisu, lidahku kelu untuk berbicara. Kedua tanganku gemetar dan buliran keringat muncul diatas keningku.

“Aku ingin kau meraih surgaNya, maka pulanglah. Penuhilah kewajibanmu untuk berbuat adil. ” Kulihat kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Disekanya air mata yang mulai menetes itu dengan punggung tangannya. Aku tahu, disela-sela napasnya yang terasa berat, ia mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.

“Pulanglah, mas. Mbak sudah rela berbagi surganya denganku dan sekarang waktunya mas bersama mbak” Dadaku sesak seperti sebilah pisau menghujam jantungku, aku menjadi manusia paling menyedihkan. Memanipulasi keadaan seolah semuanya baik-baik saja, nyatanya aku luput dari kewajiban. Aku berdosa, kepada wanita itu. Istri pertamaku..

  • view 194

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    *sedih

    • Lihat 4 Respon