Kurasa Tuhan senang aku ada di sini

izzatun nafsi
Karya izzatun nafsi Kategori Motivasi
dipublikasikan 22 Juli 2016
Kurasa Tuhan senang aku ada di sini

Aku meneguhkan kembali setiap keinginanku yang mulai terkikis kenyataan. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kekuatan. Bersyukur ada Tuhan yang Maha Baik masih bersedia menguatkanku. Aku merasa, aku masih pada jalan yang benar. Jalan yang Diberkahi Tuhan.

 

“Aku ingin menjadi guru” kuucapkan itu dengan lantang dihadapan teman-temanku yang belum genap berusia sewindu kala itu. Selalu, setiap kali orang bertanya apa cita-citaku, aku selalu menjawab dengan pernyataan yang sama. Berganti tahun dan bertambaha usia, cita-citaku tetap sama. Aku berambisi dengan sebuah hal, katakanlah itu adalah hadist “Tidak akan terputus 3 hal setelah orang itu meninggal yaitu sedekah, ilmu bermanfaat dan doa anak sholeh”. Aku sangat bernafsu untuk mengais pahala-pahala yang Tuhan janjikan.

Rupanya, jalanku terarah menuju apa yang aku inginkan. Segalanya dimudahkan hingga saat ini akhirnya aku merengkuh apa keinginanku. Tentu setan tidak akan bersantai dan berdiam diri melihatku dekat dengan surga. Setelah segalanya tercapai, aku mulai tergoda untuk mendapatkan apa yang lebih dari yang kupunya sekarang. Setan membuatku merasakan kemiskinan nikmat. Setan membuatku memandang segala hal dari harta.

“Aku kasihan denganmu, bekerja mendapatkan hasil sedikit” kenyiyiran orang seperti ini sudah akrab ditelingaku. Baiklah, pertama aku akan geram, kedua, ketiga dan seterusnya aku mulai termakan omongan orang. Aku mulai menyusun tak-tik dan strategi, aku sudah menyiapkan langkah siaga untuk beralih dari cita-cita sekaligus pekerjaanku sebenarnya. Sekali aku mencoba melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan ternama dan usahaku tidak nihil, aku diterima! Apakah sekarang aku bekerja pada perusahaan itu? Tidak!  Mengapa? Aku tidak tahu. Ada sesuatu hal yang membuatku mengurungkan niatku memasuki pekerjaan baru itu. sesuatu itu seperti telah tersusun rapi untuk menghadangku berpindah tempat. Aku merasakan Tuhan masih senang melihatku dengan pekerjaanku sekarang. Tuhan senang aku dekat dengan surgaNya.

Tidak sekali saja aku tergoda, lebih banyak lagi yang kulakukan untuk melayani hasutan-hasutan orang lain terhadapku. Jika semua godaan itu diakumulasikan, sebenarnya sudah cukup kuat untuk memporak-porandakan keteguhanku selama ini. Kabar baiknya, konsolidasi antara aku dengan Tuhan masih berjalan mulus. Tuhan masih memberikan amunisi-amunisi semangat dalam jiwaku.

Jika orang lain merasa kasihan dengan pekerjaanku yang tidak dapat memberi hasil banyak. Aku justru merasa kasihan kepada diriku karena tidak mampu mensyukuri nikmat yang banyak. Tak ubahnya diri ini hanya segumpal darah yang tamak. Ah.. aku mengingat kisah Nabi Isa dan seorang yahudi yang berkelana dan sepotong roti, lalu beberapa orang yang saling membunuh untuk berebut harta. Namun pada akhirnya mereka mati tanpa harta yang mereka perebutkan. Ketamakan yang pada akhirnya tidak bisa mereka nikmati. Lalu jika aku seperti itu, aku tidak akan mendapatkan apa-apa selain kesenangan yang sia-sia.

Aku mulai menikmati apa yang aku dapati sekarang, dengan pekerjaan ini. Merasakan kenikmatan yang begitu dalam ketika aku melewati hal-hal sederhana. Sekedar tersenyum saat anak-anak menyapa. Bahagia saat melihat mereka mulai menapaki tahapan perkembangannya. Percayalah, itu sangat membahagiakan. Aku merasakan haru disekujur tubuh ketika mendapati diri ini turut andil dalam kebaikan-kebaikan yang mereka capai.

Aku katakan “Semua orang bisa menjadi guru, tapi butuh jiwa yang besar untuk mau menjadi guru”

 

  • view 160