Karena Anak Kecil Tahu Keadaan Hati Orang Dewasa

Naeli Fitria
Karya Naeli Fitria Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 29 Januari 2016
Karena Anak Kecil Tahu Keadaan Hati Orang Dewasa

Ini tentang kisah rutinitas saya setiap hari. Sebagai salah satu pengguna jasa kereta api commuter line, saya menggunakannya sebagai moda transportasi utama untuk pergi dan pulang kerja. Suasana stasiun kereta pastinya riuh ramai, apalagi rush hour di Indonesia, sesak dan ramai. Namun, inilah uniknya kehidupan. Setiap jengkal kejadiannya pasti memiliki makna.

Hampir setiap hari saya berangkat kerja dan bertemu dengan segerombolan anak-anak sekolah mulai dari SD sampai SMA, ada yang sendiri, ada yang diantar orang tua. Suasana yang berbeda ketika saya sekolah dahulu, karena sekolah saya dekat rumah, maka selalu menggunakan jemputan, tak pernah diizinkan sekolah jauh dan naik transportasi umum sendiri.

Ada fenomena yang menggelitik bagi saya ketika melihat sosok anak-anak SD yang masih kecil-kecil itu. Setiap tingkah mereka yang kadang suka gak tahu malu, hehe.. saya belajar kepercayaan diri. Anak kecil itu fokus, tidak takut salah. Buktinya, kalau di kereta, mungkin orang dewasa akan tahu bagaimana harus menaruh tas ketika kereta sesak. Anak kecil, jangan tanya, mereka tanpa tedeng aling-aling menabrak siapa pun baik yang ada di depannya atau di belakangnya, tidak peduli seberapa besar tas nya, terkadang ukuran tas dibandingkan si anak itu malah gedean tas nya.. hehe.. Selain banyak hal positif yang saya dapatkan langsung dari anak-anak, ada kalanya mereka juga menjadi ujian kesabaran, misalnya bercanda tidak tahu tempat. Yang paling sering keluar dari lisan adalah,"yah... maklumin aja namanya juga anak-anak.."

Tapi siapa sangka, di tengah keriuhan mereka yang sudah mandiri sejak kecil itu, ada salah satu anak yang setiap hari diantar ibunya. Entah apa yang terjadi dengan ibunya, yang jelas, setiap hari ia dibentak. Misalnya ketika anak itu tidak mau makan (karena setiap hari disuapin ibunya selama dalam perjalanan menuju ke stasiun tujuan), suka bengong, atau ketika menjawab soal ujian di sekolah jawabannya salah. Saya terkadang terkaget-kaget dengan cara ibunya mendidik seperti itu, bisa saya perhatikan dengan seksama bahwa sering anak itu tatapannya kosong, tidak cekatan ketika diperintah oleh ibunya sendiri.

Hari ini, sesuatu yang juga menggelitik terjadi lagi. Kali ini ia tertawa terbahak, loncat-loncat, yang jelas raut wajah dan suasana hatinya riang gembira. Lantas saya penasaran, "kok tumben dia ceria sekali?" gumam saya dalam hati. Lalu seketika saya lihat siapa yang menggandengnya, wajahnya mirip ibunya, saya menebak kalau bukan adik ya kakak ibunya. Yang jelas, sikapnya ramah dan memanjakan si anak itu. Ahhh... Sekarang aku paham, bahayanya anak kecil jika dibentak, dikasari.

Mungkin pernah kita tahu ada sebuah eksperimen tentang air, ketika ia diucapkan kata-kata baik, lantas ia akan membentuk berbagai macam kristal dan bentuk yang indah. Namun apa yang terjadi ketika yang diucapkan adalah kata-kata kasar disertai emosi, bentuknya tak jelas dan berantakan tak karuan. Air yang bening itu ibarat manusia, juga anak kecil. Karena 2/3 bagian tubuh manusia berisi air, maka itu pula yang akan terjadi kepada setiap manusia. Setiap perkataan baik yang kita tularkan kepada orang lain, maka itu pula yang akan terbentuk di dirinya dan sebaliknya.

Pahamilah, anak kecil ibarat gelas bening, tanpa noda. Sering kan kita mendengar kalau anak kecil itu gak punya dosa, masih bersih, dan saya percaya itu. Bagaimana tidak, gelas bening itu tahu persis hati orang dewasa. Kalau kita mau bercermin akan keadaan hati kita, tidak usah jauh-jauh, cobalah banyak-banyak beriteraksi dengan anak-anak, semakin kita bisa dekat di hati mereka, semakin kita bisa menyadari bahwa semoga hati kita memang baik, bersih. Karena hati yang bersih dapat bertemu dengan yang bersih. Apa yang datang dari hati akan sampai ke hati yang lain.

  • view 482