Dekonstruksi Galau

Naeli Fitria
Karya Naeli Fitria Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Dekonstruksi Galau

Kata ?galau? kini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan konon kabarnya ini adalah transformasi dari kata ?dilema? kala dulu tahun 80-90an. Galau bisa dikatakan sebagai kondisi atau suasana hati yang tak menentu, resah, bingung bahkan hilang arah. Intinya ketika kita merasa galau, ini adalah kondisi di mana hati kita sedang tidak jelas, absurd bin awkward.

Kian hari fenomena yang terjadi semakin mempertajam dan memperjelas bahwa ini bisa menjadi sebuah virus. Galau kemudian menjadi suatu yang berasal dari konstruksi masyarakat. Situasi galau ini bisa jadi hanya sebuah asumsi, namun ukhtis, asumsi adalah salah satu faktor terkuat yang dapat mempengaruhi perasaan dan pemikiran seseorang.

Bukti nyata lainnya adalah ketika virus galau ini mulai disebar melalui media sosial yang notabene nya merupakan tempat untuk berinteraksi antar sesama manusia di dunia maya alias virtual world. Tanpa sadar, galau akhirnya benar-benar menggalaukan. Mulai dari facebook, twitter, instagram, line, path dan macam-macamnya membuat akun yang jadi laris manis dikerubungi dan di-follow oleh para anak muda yang isi postingannya mewakili isi hati alias perasaan mereka yang terutama berhubungan dengan cinta.

Kini galau semakin terkonstruksi hanya sebagai hubungan antara perempuan dan laki-laki, gelisahnya menunggu jodoh hingga kode-kodean dan modus-modusan di media sosial. Rasanya semua lapisan masyarakat setuju dengan kondisi ini, semua sama ketika yang satu galau yang lainnya juga mudah tertular. Misalnya saja postingan yang bernada sedih karena putus cinta, ditinggal seseorang hingga menjadi korban harapan palsu.. semua lengkap ada di media sosial dannn yang nge-like pasti banyak! Hehe...

Lalu, fenomena berikutnya adalah men-share postingan tersebut agar orang lain melihat atau bahkan orang yang dituju membaca! Hayoo... ngaku? Hehe.. Itu sih namanya modus, tulen. Rasanya dunia hancur ketika ditinggal seseorang yang sebenarnya jika kita renungi dia itu siapa ya? Bukan orang yang penting juga dalam hidup kita, bukan yang membiayai sekolah kita, memberikan fasilitas hidup, lantas kita memposisikan diri sebagai korban? Oh, come on!

Tapi ukhtis, disadari atau tidak ketika kita sudah addict atau kecanduan terhadap media sosial alias socmed, maka alam bawah sadar akan merekam semua kejadian dan hal-hal yang pernah kita lihat dan baca lalu ter-install secara otomatis. Perlahan tapi pasti, ketika ada satu postingan yang mirip sekali atau bahkan sama dengan apa yang sedang kita alami saat ini maka kita akan mudah terbawa. Nah, we?re trapped by the assumptions! kita terjebak oleh asumsi.

Lama kelamaan, galau ini akan menjadi kondisi hati yang membawa seseorang terombang-ambing. Kalau boleh jujur, pernahkan kita merasakan kondisi hati tak karuan lalu just lying on bed and doing nothing in a whole day? Waktu terbuang sia-sia untuk ?menggalaukan? sesuatu yang tak bermanfaat? Misalnya terhadap orang yang kita suka atau kagumi? Yap! Tanpa sadar itulah yang sedang terjadi dan menyelimuti keadaan anak muda saat ini, khususnya Muslimah. Mengapa muslimah yang menjadi sorotan padahal ini memungkinkan untuk terjadi kepada semua orang?

Here we go!

?

Apakah Sudah Saatnya?

?

Seribu cahaya datang padaku

Menari denganku

Menyanyikan lagu tentangnya

Duhai bintang, mungkinkah yang kurasa

Apakah sudah saatnya

Untukku menyukainya...

?

(Gita Gutawa)

?

?

?????? Sejenak merenung, jika saat ini kita masih duduk di bangku sekolah, di bangku kuliah lalu sebagian besar waktu tersita hanya untuk ?mengurusi? seseorang yang belum tentu jadi jodoh di masa depan nanti, apakah bisa dikatakan bahwa itu bermanfaat? Masa-masa sekolah dan kuliah sebaiknya menjadi masa keemasan seorang remaja untuk banyak mencari pengalaman di organisasi, terjun ke masyarakat dan berkarya.

?????? Masa-masa perkuliahan bisa dikatakan masa-masa yang paling dirindukan dan diidam-idamkan apalagi disebut sebagai mahasiswa. Mulai dari memilih jurusan kuliah, hingga ambisi-ambisi lainnya seperti kuliah di jurusan yang keren, jadi anak BEM, jadi pembicara hingga mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Sejak SMP saya sudah menghapus kata ?pacaran? dari pikiran dan memfokuskan diri untuk belajar dan belajar saja. Di samping itu, adanya kegiatan rohani islam atau rohis sangat membantu untuk memfokuskan tujuan. Bahkan dulu guru SMA saya pernah bilang ?pilih pacaran atau rohis? Kalau pilih pacaran silahkan keluar dari rohis!? kedengarannya memang ekstrem, tapi tujuannya adalah baik, selain untuk mencegah maksiat dan hal-hal yang tidak diinginkan dari hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak halal, sebenarnya tujuan guru adalah untuk memfokuskan anak didiknya supaya belajar dengan baik, karena pada dasarnya setiap pendidik memiliki kewajiban untuk tidak hanya mentransfer ilmu kepada anak didik tetapi juga membetuk akhlak yang mencakup karakter dan kepribadian yang baik.

Masa-masa keemasan pun datang, ketika pikiran hanya terfokus kepada satu hal yaitu belajar dan mencetak prestasi, maka itulah yang akan diwujudkan oleh alam semesta. Prestasi di bidang menulis tertoreh sejak SMA dari mulai tingkat kota hingga nasional. Seluruh pikiran dan energi hanya tertuju pada hal-hal yang bersifat kontributif untuk sekolah, bukankah menjadi duta sekolah yang menyumbangkan prestasi adalah impian setiap siswa?

Memasuki masa kuliah, saya juga belum tergiur untuk ?menyukai? seseorang, semua yang dekat hanya saya anggap sebagai teman dan sahabat. Fokus sejak semester pertama kuliah adalah mencapai nilai maksimal, tidak dipungkiri memang nilai menjadi salah satu indikator apakah seorang mahasiswa mampu memahami satu mata kuliah atau tidak, meski itu bukan indikator mutlak. Di sisi lain, ada ?beban? dari orang tua tentunya yang menuntut kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Itulah mengapa saya selalu bersemangat dalam belajar ketika terbayang wajah kedua orang tua. Buat keduanya bangga, sebelum terlambat.

Ayah saya juga sosok yang tegas kepada saya dan adik yang notabene nya keduanya perempuan. Sering ayah mengatakan,?biaya sekolah buat belajar, bukan pacaran!?. Well, itulah yang sudah secara otomatis tertanam di otak saya untuk fokus membahagiakan keduanya dengan belajar yang giat. Ditambah lagi, kita juga tidak dapat memungkiri bahwa ada jargon ?don?t judge a book by its cover? tapi namanya manusia pasti selalu memiliki ?asumsi otomatis? ketika melihat seseorang. ?Masa berjilbab pacaran? Malu dong...? Gumam saya dalam hati.

Well, terpikir untuk pacaran saja tidak. Bahkan saya selalu menganggap teman laki-laki saya yang pintar di kelas sebagai threat alias ancaman. Ya, apalagi kalau bukan berpacu dalam prestasi akademik. Perjalanan sepanjang menyusuri masa-masa awal studi bisa dikatakan lancar, nyaris tidak memikirkan cinta. Satu hal yang bisa menjadi bahan latihan adalah bercermin. Apakah teman-teman sebaya saya yang juga sama-sama memiliki kewajiban studi sudah memikirkan cinta atau pernikahan? Atau menggalaukan seseorang yang belum jelas akan menjadi pasangan hidup kelak? Jika jawabannya tidak, katakan dengan lantang kepada dirimu: pertandingan sudah dimulai, tidak ada waktu untuk memikirkan yang tidak penting, belum saatnya.

Jika boleh direnungkan, belum saatnya memikirkan seseorang yang belum tentu jadi jodoh juga karena dari sisi psikologis terkadang remaja usia 20an masih labil, apalagi remaja zaman sekarang yang sedikit-sedikit galau. Hehe.. Apakah bisa disamakan remaja zaman sekarang dan zaman dahulu? Tentu tidak, saya membandingkan diri saya dengan mama saya yang menikah di usia 19 tahun. Masih muda sekali bukan? Tapi beliau bercerita bahwa kedewasaan anak perempuan zaman dahulu dan sekarang sangat jauh berbeda, ?yah... apalagi kamu, hari gini udah mikirin nikah, masih kecil. Belajar dulu yang benar. Zaman dahulu mama gak galau kayak kamu.? Begitu kata mama

Lagi-lagi kedewasaan menjadi salah satu tolok ukur perbedaan antara perempuan zaman dahulu dan zaman sekarang. Jika mau lihat perbandingan lainnya, para muslimah memiliki contoh yaitu istri Rasulullah Salallahu ?Alaihi Wa Sallam yang menurut riwayat menikah dengan beliau pada usia 12 tahun. Ingat, ini konteksnya zaman Rasulullah Salallahu ?Alaihi Wa Sallam lho.. Aisyah Radhiyallahu Anha tentu tidak bisa secara gamblang kita bandingkan dengan anak perempuan usia 12 tahun zaman sekarang... hellaw... hehe..

Aisyah Radhiyallahu Anha dibesarkan di lingkungan yang kuat akan keilmuan agama, dibimbing langsung dan mendapatkan informasi langsung dari Rasulullah Salallahu ?Alaihi Wa Sallam. Selain itu, Aisyah juga dewasa melalui pengalaman kehidupan yang pahit, sehingga di usianya yang masih sangat belia ia sudah terbiasa dengan ujian kehidupan. Hal itulah yang terefleksi dan sangat berdampak terhadap dirinya, ya di usianya yang masih sangat belia namun kedewasaannya sudah terbentuk.

  • view 228