Narsis itu namaku

Nadya Myrilla
Karya Nadya Myrilla Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 September 2016
Narsis itu namaku

Narsis, istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita bukan?

Sebenarnya narsis itu apa? apakah seorang yang sekedar hobi foto selfie?

Berdasarkan KBBI, narsisme/nar·sis·me/ = hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan.

Ternyata rasa cinta itu tidak hanya terjadi kepada keluarga, teman atau kekasih. Rasa cinta itu juga bisa terjadi pada diri sendiri dan bisa juga memiliki kadar yang berlebih.  Segala sesuatu yang berlebih itu memang kurang baik, seperti glukosa. Tubuh kita memang memerlukannya, karena glukosa merupakan molekul yang sangat penting terutama bagi sel darah merah dan sel saraf otak, karena sel-sel tersebut tidak dapat menggunakan molekul lain sebagai sumber energi. Tetapi apa yang terjadi bila kadarnya berlebih? Akan timbul berbagai penyakit diantaranya adalah diabetes, selain itu kadar glukosa berlebih  juga dapat merusak jantung. Penelitian dalam Journal of American Heart Association pada tahun 2013 mengungkapkan bahwa kebanyakan mengkonsumsi gula bisa membuat terganggunya cara kerja organ jantung dalam melakukan fungsinya sebagai pemompa darah. Begitu juga dengan rasa cinta, rasa cinta terhadap diri memang diperlukan agar kita menjadi peribadi yang optimis, percaya diri dan senantiasa bersyukur atas karunia yang diberikan Allah terhadap diri kita. Tetapi,  apa yang terjadi bila rasa cinta terhadap diri ini memiliki kadar yang berlebih? Semoga kisah berikut bisa menjadi jawaban.

Konon, di sebuah hutan yang  ada di Yunani, terdapat sebuah telaga jernih yang belum terjamak oleh cemaran apapun. Dan, ketika matahari mulai menyapa bumi, ada seorang lelaki yang tidak pernah melewatkan hari untuk berkunjung ke danau tersebut. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di air telaga. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.

Namun, tanpa disadari ada sesosok yang sering memperhatikannya. Ternyata tidak hanya satu, namun beberapa ingin menyapanya. Dan pria tampan itu tidak pernah memperdulikan karena sedang dan selalu menikmati keindahan parasnya dari cermin telaga. Pria itu, kita tahu, Narciscus. Dia tidak berani untuk menjamak air telaga. Dia khawatir kemilau diri yang dia cintai hilang ditelan riak. 

Wajah yang ada di dalam telaga telah mengalihkan dunianya.  Dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Bahkan, dia lupa akan segala hajat hidupnya. Seiring berjalannya waktu, kian hari tubuhnya semakin melemah. Narcissus pun akhirnya terbaring lemas, tidak memiliki tenaga lagi. Hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam ke telaga bersama bayangan indah yang ia kagumi selama ini.

 Hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam ke telaga bersama bayangan indah yang ia kagumi selama ini

Setelah kematiannya, peri-peri hutan menghampiri telaga. Mereka terkejut melihat telaga yang asalnya jernih dan tawar, kini menjadi asin seperti lautan air mata. 

"Mengapa kau menangis?" tanya para peri.

Telaga itu berkaca-kaca. "Aku menangisi kematian Narcisscus," katanya.

"Oh sangat wajar kau menangisinya. Sebab semua penjuru hutan mengagumi keindahannya, dan hanya kau yang beruntung dapat mentakjubi  kemilau parasnya dari dekat."

"Oh, indahkah Narcisscus?" tanya telaga dengan heran.

Para peri hutan saling memandang heran. "Siapa yang lebih mengetahuinya daripadamu, wahai telaga? Di dekatmulah setiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya."

"Aku menangisi Narcisscus," kata telaga kemudian, "Tapi aku tak pernah memperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak akan bisa lagi untuk memandangi keindahan diriku sendiri yang terpantul di bola mata Narcisscus saat dia berlutut di dekatku."

                                                                                                ***

Sepertinya tidak hanya Narcisscus dan telaga yang memiliki kecendrungan seperti ini. Dan, mungkin kisah ini tidak hanya terjadi di dalam dongeng zaman yunani, tetapi juga banyak terjadi di saat sekarang. Terkadang sayapun mengalami hal yang sama. Suatu ketika saya menghadiri rapat untuk mengagendakan kegiatan kelompok, ada seorang anggota yang memproklamirkan diri bahwa kebenaran tertinggi terletak didalam pemikiran serta jiwa dia, dan hanya akan mendengar pendapat seseorang bila orang tersebut memiliki nilai intelegensi yang tinggi. Mendengar itu sayapun bertanya spontan, "Itu artinya kamu akan meremehkan  pedagang cilok ya?" Diapun tertawa. Kocaknya, dengan rasa  kesal sayapun melontarkan pertanyaan seperti ini, "Sebelum kita diskusi, apakah perlu saya memperlihatkan nilai hasil tes IQ terlebih dahulu?" Dan itu artinya saya tidaklah berbeda dengan Narcisscus atau telaga.ckckck.

Seringkali diri ini menjadi seperti Narcisscus atau telaga. Mengagumi diri, fokus mengejar hasrat diri tanpa peduli dengan sekitar, mengerahkan segala upaya agar tiap orang yang bertemu dengan diri ini merasa telah bertemu dengan orang yang sempurna. Seringkali mengikuti aneka lomba, mengejar materi, mengejar prestasi, mengikuti berbagai organisasi dengan tujuan  agar cap 'Orang hebat' menempel pada jidat. Seakan-akan orang-orang harus menggelarkan karpet merah ketika 'Orang hebat' ini sedang berjalan, dan mungkin saja ketika sedang berjalan 'Orang hebat' ini sering terjatuh karena keberatan membawa kepalanya yang besar. Melelahkan.

Kisah Narcisscus memberikan suatu paradigma baru didalam hidup saya bahwa,  kita menuai sikap dari sekitar kita seperti apa yang kita berikan pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang mengagumi, namun dalam ketidaktahuan, sementara telaga itu hanya menjadikan Narcisscus sebagai sarana untuk mengagumi keindahan dirinya sendiri, persis seperti yang diperbuat Narcisscus terhadap telaga itu. Pada dasarnya, sebagian besar manusia memiliki ego yang sangat besar hanya peduli dan kagum pada dirinya. Mungkin terkecuali seorang pria yang ada di telaga lain, bukan di Yunani.

                                                                                 ***

Dari telaga di Yunani mari kita melancong ke telaga yang lain. Telaga ini lebih luas. Di tepi telaga itu, berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam berkilau, tersisir rapi.  Dia menghadap hadirin dengan sepenuh hatinya, memanggil-manggil dengan seruan yang tulus.

"Marhabban ayyuhal insaan! Silahkan mendekat, silahkan minum!"

Senyumnya lebar, dan penuh cinta. Matanya seakan bersinar tiap kali menyambut orang-orang yang datang ke telaga itu. Air telaga itu sangat mempesona. Menebar wangi yang mengalahkan harumnya kasturi. Jika disentuh maka lebih lembut dari susu, lebih sejuk dari salju dan rasanya lebih manis dari madu. Di sekitar telaga itu bertebaran cangkir kemilau. Yang dengan itulah lelaki tersebut memberi minum mereka yang kehausan dan memberikan kesejukan untuk mereka yang kegerahan. Wajahnya tersenyum penuh ketulusan cinta tiap kali ummatnya menghampirinya. Berbeda dengan Narciscus yang meletakkan kebahagiaan pada kebanggan terhadap diri dan berakhir dengan tenggelam dalam kemilau dirinya, lelaki ini justru merasakan bahagia ketika memberikan yang terbaik untuk sekitarnya.

Telaga itu bernama Al-Kautsar. Lelaki itu bernama Muhammad. Kisahnya bukan sekedar dongeng namun menjadi sejarah. Darinya, kita dapat menyusun kalimat indah, "Semoga kecintaan pada diri dapat berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Cinta yang kokoh dan bercahaya untuk bumi dan semesta."

 

Nadya Myrilla

September 2016

Gambar diambil dari : Mythman.com

  • view 213