Hangat Matahari

Nadya Myrilla
Karya Nadya Myrilla Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Juli 2016
Hangat Matahari

Setiap mudik, biasanya saya bertemu dengan saudara-saudara. Dan obrolan yang sering diperbincangkan, tak lain dan tak bukan adalah, “Wisuda kapan?” atau “Kerja dimana?”

Dari banyak perbincangan, yang membuat saya terpukau adalah kisah tentang tante Ella. Beliau menjadi orang yang dikagumi di kalangan keluarga atas segala hal yang dimilikinya. Beliau kuliah di salah satu lembaga pendidikan terbaik. Setelah lulus dengan gelar insinyur, ia langsung bekerja di perusahaan besar pertambangan yang ada di Kalimantan, tentunya dengan gaji yang sangat besar. Baru bekerja sebentar saja, tante Ella  sudah bisa membeli rumah dan mobil mewah.

Dulu, saya yang belum mengerti arti cita-cita dan impian sontak langsung berangan besar untuk kuliah di jurusan teknik kimia dengan harapan menjadi insinyur sukses seperti Tante Ella. Ya, begitulah gambaran tentang definisi kesuksesan di mata saya. Bergaji besar serta memiliki rumah dan mobil mewah. Gambaran inilah yang menempel di mata orangtua saya, ketika datang masa peminatan jurusan di SMA, saya disuruh memilih jurusan IPA, meskipun hasil tes psikologi menyarankan saya untuk memilih jurusan IPS karena berdasarkan hasil tes, potensi saya di otak kanan, bukan di otak kiri.  

Meskipun saya sekarang kuliah di jurusan yang sudah sesuai dengan imipian saya yang dulu, di jurusan teknik kimia, hal tersebut tidak dapat merubah basic saya yang berotak kanan. Saya mencintai hal-hal yang berhubungan dengan humaniora, senang mengamati manusia, senang dengan berbagai kegiatan sosial, senang menulis dan senang ilmu psikologi.

Pengamatan yang sedang saya lakukan sekarang ini adalah mengenai orang-orang sukses. Mulai dari definisi kesuksesan, ciri-ciri orang sukses serta penyebab kesuksesan. Bertemu dengan orang-orang hebat serta mengambil ibrah darinya merupakan hobi saya sekarang. Tidak hanya yang sudah bekerja, namun juga yang masih kuliah dengan berbagai prestasi. Mulai dari juara olimpiade tingkat nasional, dosen berprestasi dengan puluhan temuan mutakhirnya, koordinator perminyakan Qatar untuk Indonesia dan masih banyak yang lainnya.

Ketika bertemu dengan orang-orang seperti mereka, sisi manusia saya mengenai arti sebuah kesuksesan semakin kuat, serta gelar kemuliaan itu adalah orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi serta berpenghasilan melimpah ketika bekerja. Contohnya koordinator perminyakan Qatar untuk Indonesia yang kebetulan merupakan senior di jurusan saya bercerita bahwa gajinya sebulan adalah 190 juta.

Lebaran di tahun ini, seperti biasa saya mudik. Tempat duduk favorit saya ketika di kereta adalah dekat dengan jendela. Tempat yang nyaman untuk santai sambil melihat indahnya pemandangan.  

“Permisi! Ini kursi dengan nomor 12A?” tanya seorang perempuan tua yang berdiri dan menghampiri saya.

“Iya, betul. Silakan duduk, Bu!”

“Terima kasih, Nak,” jawabnya lalu mengambil posisi duduk.

 “Ibu mau kemana?”

“Ke Jakarta, mengunjungi anak saya yang kedua.”

“Oh. Anak Ibu kerja di Jakarta ya?”

Perempuan tua itu mengangguk dan menjelaskan, “Dia pejabat pemerintahan.”

“Wah! Keren, Bu. Bagaimana dengan anak ibu yang lainnya? Pasti tidak kalah keren.”

“Yang bungsu alhamdulilah menjadi duta di Eropa.”

“Pasti bangga ya, Bu, memiliki anak-anak hebat seperti mereka. Bagaimana dengan anak Ibu yang pertama?”

“Anak saya yang pertama seorang petani, menggarap sawah di kampung,” jawabnya lagi sambil menerawang.

“Wah, maaf ya, Bu. Ibu pasti sedih karena anak sulung Ibu tidak sesukses anak yang lainnya.”

“Oh, tidak, Nak. Ibu tidak sedih. Ibu sangat bangga dengan anak Ibu yang pertama. Justru berkat kerja keras dia, adik-adiknya bisa menikmati pendidikan tinggi dan mapan seperti sekarang. Anak sulung Ibu-lah yang tidak pernah menyerah untuk berusaha, bekerja banting tulang untuk membiayai serta memotivasi adik-adiknya agar semangat menuntut ilmu ke perguruan tinggi,” jawab sang Ibu sebelum menawari saya sebungkus kacang goreng.

Saya tidak mengerti mesti berkata apa, hanya air mata yang bisa bicara mewakili perasaan saya. Matahari bermakna sebab dia selalu membagikan sinarnya kepada bumi dan planet-planet lain dalam tata surya. Kemuliaan seseorang memang bukan dilihat dari apa yang ia miliki, namun apa yang ia berikan untuk sekitar, batin saya dalam hati.

 

Sumber gambar dari sini.