Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 29 Juni 2016   10:20 WIB
Menulis untuk Keangkuhan

Menulis untuk keangkuhan. Itulah benak yang sering melekat pada diri saya. Ingin menjadi penulis agar tenar, ingin menulis agar dipandang hebat dan pikiran lain yang erat di dalam jiwa. Bila akar pemikirannya seperti ini, maka buah yang dihasilkannya pun adalah rasa kecewa, saat tulisan yang dibuat dengan kesungguhan namun mendapatkan respon yang belum sesuai harapan, dan semangat menulispun menjadi fluktuatif, kadang naik, kadang turun. Naik bila mendapatkan banyak likedan bisa langsung turun saat jumlah like sedikit.

Tetapi di kemudian hari, saya teringat kisah Ibnu Taimiyah. Berbeda dengan saya, yang menulis sebagai ambisi. Ibnu Taimiyah menjadikan tulisannya sebagai sebuah pembuktian cinta. Cinta yang memiliki akar kuat berupa ketulusan. Ya, beliau adalah seorang penulis yang hidup pada zaman teknologi sangat jauh belum berkembang pesat seperti sekarang. Zaman dimana facebook, blogspot, tumblr dan berbagai media sosial tidak ada. Bahkan penerbitan buku sulit untuk ditemukan keberadaannya.

Maka, mungkin bila saya yang hidup di zaman itu, sepertinya tidk akan memiliki semangat untuk menulis. Untuk apa? Toh saya tidak akan tenar dan mendapatkan banyak jempol, apalagi mendapatkan uang dari buku yang saya buat. Karena penerbitan buku saja belum tentu ada. Tetapi berbeda dengan Ibnu Taimiyah, beliau tidak menjadikan menulis sebagai ambisi, namun sebagai cinta. Meskipun tidak ada media sosial yang memfasilitasi, meskipun buku yang beliau buat sendiri tanpa penerbit tidak akan menghasilkan uang yang berlimpah, bahkan meskipun tidak ada alat tulis sehingga beliau menulis dengan menggunakan arang yang dirangkai di atas dinding sebagai media. Tidak ada yang menghalanginya untuk menulis, karena menulis merupakan bentuk cinta. Ibnu Taimiyah sangat mencintai penduduk bumi, maka ia bersemangat menulis agar buku yang ia buat dapat menjadi pelita bagi penduduk semesta alam. Maka tembok dan arang menjadi saksi atas salah satu karya hebatnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah dipahatkan untuk keabadian.

Buku merupakan pewarisan nilai, entah itu merupakan nilai positif atau negatif. Hal tersebut merupakan pilihan. Masih ingat dengan kisah Hittler? Atau Stalin yang membantai puluhan juta manusia? Hal tersebut merupakan bentuk tafsir dari sebuah karya Niccolo Machiavelli yang berjudul il principe. Betapa besarnya dampak dari sebuah kata. Karena sesungguhnya kata dapat merubah jiwa, dan didalam perubahan jiwa niscaya terdapat perubahan untuk dunia. Jika suatu kata yang mewariskan nilai positif diibaratkan sebagai pelita, maka pelita itu akan tetap bersinar, tidak di hanya dunia, namun kelak di alam keabadian, maka Ibnu Taimiyah memiih untuk mewariskan nilai positif agar menjadi amal jariyah dan sebagai bentuk karya amal yang dipersembahkan untuk Sang Maha Cinta.

Tidak hanya Ibnu Taimiyah, ketika zaman Rasulullah SAW, ada banyak sastrawan dan pujangga yang menulis sebagai bentuk cinta. Seperti Abdullah bin Rawahah, Rasulullah pun mengakui syair Abdullah bin Rawahah sebagai syair-syair yang hebat. Sabda beliau, “Ya, Umar! Biarkan dia melantunkan bait-bait syairnya! Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya! Sungguh ucapan Ibnu Rawahah itu lebih dahsyat menancap di dada mereka daripada anak panah.”.  Sesungguhnya kata dapat merubah jiwa, dan dalam perubahan jiwa niscaya terdapat perubahan untuk dunia. Betapa besar makna syair yang dirangkai dengan penuh cinta oleh Abdullah bin Rawahah. Alangkah dasyatnya sebuah kata. Menjadi jembatan untuk masuknya cahaya ke dalam hati umat manusia.

Jika kata adalah sepotong hati, seperti kata Abul Hasan ’Ali An Nadwi, maka semoga buku adalah cinderajiwa. Bagi mukmin sejati, ia adalah sekelumit manikam yang diuntai dari ketulusan terdalam. Ia adalah huruf-huruf yang mengenalkan pahatan makna dari prasasti nurani penulisnya. Maka sucilah buku sebagaimana suci jiwa yang menuangkan inspirasinya. Maka abadilah buku, sebagaimana abadinya niat suci penulisnya. Meski, mereka masih manusia. Ada salah ada lupa.

 

Menulis adalah bentuk cinta 

Manusia itu fana, maka kematian adalah keniscayaan

Ketika kita mati, maka kata yang kita rangkai dengan niat penuh cinta akan tetap hidup

Manusia itu fana, maka kematian adalah keniscayaan

Ketika kita mati, maka kata yang dirangkai dengan ketulusan hati akan tetap bersemayam di alam semesta sebagai pelita yang menerangi angkasa

 

29 Juni 2016

Nadya Myrilla

 

 

sumber gambar: www.kompasiana.com

Karya : Nadya Myrilla