Kau Akan Mengenal Saya sebagai Makhluk Tuhan Paling Cepu

Nadiyah Rizky
Karya Nadiyah Rizky Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Maret 2016
Kau Akan Mengenal Saya sebagai Makhluk Tuhan Paling Cepu

Dalam negeri di ambang kehancuran, idealisme pemuda patut dipertanyakan. Dengan memperlihatkan tulisan ini, saya sudah siap dibenci.


"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda." - Tan Malaka

Saya menulis ini tidak dalam dendam pribadi, jadi, apabila kalian merasa tersindir, tolong untuk menerima kesalahan. Saya tidak membenci kalian sebagai teman, saya hanya merasa keadilan masih dipertanyakan karena tindakan kalian. Sudah berkali-kali saya melihat kalian sebagai maling yang menuduh polisi apabila kalian diminta pertanggungjawaban. Itukah cerminan generasi penerus bangsa?

Saya tahu ini sangat tidak solid. Tapi, apakah kalian masih mengartikan solid seperti itu?
Berikut hasil pencarian saya tentang solidaritas di KBBI:
solid/so?lid/ a 1 kuat; kukuh; berbobot: organisasi itu terkenal sebagai organisasi yang --; 2 padat; berisi: anak laki-laki sangat -- tubuhnya;
solidaritas/so?li?da?ri?tas/ n sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dan sebagainya); perasaan setia kawan: -- antara sesama anggota sangat diperlukan

Pertanyaannya: Masihkah kita kuat? Kita memang senasib, tapi apakah kesetiakawanan dapat diperoleh dari tindakan curang? Masih banyak cara lain.

Kita semua pernah melakukan kesalahan, jadi tolong, simpan mulut-mulut kotor kalian. Jika ingin berpendapat, kalian bisa tulis di kolom komentar. Saya menerima semua pendapat. Silakan cap saya dengan julukan "Makhluk Tuhan Paling Cepu". Silakan pandang saya sambil bergumam, "Ih, serius banget sih hidup lo!"

Saya siswi sebuah SMA Negeri yang bisa dibilang bagus di daerahnya. Namun, saya tidak menyangka kalau keputusasaan sebagian muridnya dapat berujung pada hal-hal kotor seperti kunci jawaban. Saya sendiri pernah melakukan kecurangan, kelas 11, pelajaran Biologi. Saya membuka buku. Saya akui saya salah dan saya siap menerima akibatnya. Saya memiliki teman yang sedih jika saya berbuat hal seperti itu, dan dia yang menyadarkan saya sehingga saya memutuskan untuk tidak lagi berbuat curang.

Awal mula saya merasa dikecewakan adalah ketika ujian Sejarah. Saya lupa itu UAS atau UTS. Saya, yang menyukai pelajaran Sejarah, mencicil kisi-kisinya dengan membaca buku Sejarah sebelum tidur selama seminggu. Bisa dibilang saya tahu banyak. Sebelum ulangan, banyak yang meminta saya untuk mereview pelajarannya. Saya harap saya bisa membantu mereka. Kau tahu? Kekecewaan saya muncul ketika saya melihat mereka saling membangun jalan pintas menuju nilai bagus saat ujian berlangsung. Saat itu saya merasa bahwa percuma saja berbagi ilmu, mereka akan meraih nilai dengan caranya sendiri. Lebih baik saya belajar sendiri. Ambisius, ya? Saya percaya bahwa sifat ambisius timbul karena dikonstruksi oleh lingkungannya. Kali ini, saya memilih untuk menjadi ambisius karena kecewa.

Ujian kimia juga mengalami hal yang sama. Saya putus asa sekali saat itu. Saya hanya yakin 50% jawaban saya benar, tapi Tuhan tahu saya sudah berusaha. Saya melihat sekeliling saya memperhalus kembali jalan pintas yang mereka bangun sebelumnya, dengan kecanggihan teknologi yang tidak semua orang punya. Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar. Kuberitahu kau sesuatu, banyak sekali yang mendapat nilai diatas 90. Guru kimia yang terkenal berprinsip, curiga, dan mengulang kembali ujian tersebut. Saya merasa kecewa, untuk kedua kalinya, tapi sekaligus lega. "Mungkin ini kesempatan Tuhan untuk memperbaiki nilai saya,"pikir saya saat itu. Banyak orang yang nilainya tidak murni justru merasa kecewa dan mengumpat. Kenapa? Kenapa? Baru saat itu saya melihat maling menjelek-jelekkan polisi. Bukankah yang harusnya kecewa adalah murid yang jujur? Dan karena tindakan sekumpulan orang yang curang, guru menyamaratakan semuanya. Lucu. Mau tahu apa yang lebih lucu? Hasil ujian ulangnya keluar, dan nilai saya lebih baik di ujian pertama. Mau bilang saya tidak dirugikan sama sekali?

Ujian Sekolah. Kunci jawaban bertebaran dimana-mana. Bahkan ujian sekolah tidak memiliki pengaruh di rapor atau seleksi masuk perguruan tinggi! Ijazah, kawan. Wahai teman-temanku yang suka membangun jalan, apakah kalian puas? Kalian akan lulus dengan nilai ijazah tinggi! Satu hal lagi, apakah kalian lulus hanya membawa ijazah? Dibalik kertas itu, Tuhan tau ada kebohongan. Setelah kalian lulus, kalian akan memasuki dunia asing yang memerlukan kemampuan analisis, interaksi, pemecahan masalah, pola pikir, dan idealisme kalian. Apa prinsip kalian saat ini? "Selow aja bro! Main lo kurang jauh!" Apa perasaan kalian apabila koruptor tertangkap basah dan bilang di media, "Santai aja, hidup kok serius amat." Ketika ada rumor ujian diulang, kalian panik, dan, sekali lagi menyalahkan orang lain. Saya baru sadar, ketakutan dapat membangun cara pikir seperti itu. Saya tidak mau diantara kalian ada yang merugi, namun, jika kalian tetap membangun jalan pintas seperti ini, suatu saat kalian akan jatuh ke lubang yang kalian bangun dari dulu, saat kecurangan bukan hal yang tabu. Ujian sekolah mungkin saja mudah diselesaikan dengan kunci jawaban, bagaimana dengan ujian mental?

Sungguh, saya tahu sistem pendidikan masih belum memenuhi standar kalian. Tapi, apakah kalian sudah memenuhi standar pemuda generasi penerus bangsa? Apakah kalian sudah melakukan kontribusi nyata? Apa yang sudah kalian lakukan untuk Indonesia? Jika sistem memang benar-benar rusak, bukankah seharusnya kita menyadarkan mereka bahwa mereka selama ini belum mengajar dengan baik? Bukankah dengan nilai bagus kalian, mereka akan semakin malas mengajar?

Kalian pasti dalam hati mencemooh saya, menganggap saya egois. Tidakkah kalian sadar, yang sebenarnya egois adalah kalian. Berbuat curang adalah pilihan masing-masing orang, saya tahu itu. Tapi saat ini saya sudah merasa dirugikan. Saya lupa satu hal, teman saya, dalam kasus seperti ini, ialah yang paling dirugikan. Ia lebih rela nilainya murni meskipun tidak terlalu tinggi. Ia bahkan tak berkesempatan memilih perguruan tinggi di jalur SNMPTN karena peringkatnya kurang baik. Kau masih mau bilang tidak merugikan siapa-siapa? Bagaimana dengan murid jujur yang dimarahi orang tuanya karena nilai teman-temannya lebih baik? Beware, you have hurt more people than you will ever know.

Saya hanya mengutarakan pendapat. Berbeda pendapat itu tak apa. Tapi, saya merasa kebebasan berpendapat yang saya (harusnya) punya tidak lagi ada karena saya ada di sisi minoritas. Saya sudah siap dicemooh. Nggak, saya nggak cepu ke guru. Kecuali kalau ada guru yang membaca ini.

Wahai manusia-manusia realistis, realitanya negeri kita membutuhkan orang-orang jujur. Kalian punya massa, saya punya kata. Saya percaya semua orang pada dasarnya baik. Tulisan ini bukan kebencian pribadi, hanya pendapat yang sudah tidak bisa saya tahan lagi. Saya tidak menyalahkan siapapun, saya tidak terima dengan perbuatan yang mengarah pada ketidakadilan.


"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." - Soe Hok Gie


Negeri di Ambang Kehancuran, 9 Maret 2016
Tertanda,
Makhluk Tuhan Paling Serius

  • view 143