Kau Bilang Kau Manusia

Nadifa Salsabila
Karya Nadifa Salsabila Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Mei 2016
Kau Bilang Kau Manusia

"My daughter! Oh God, my daughter, please someone get in and drive!" he screamed.

After a rescue worker jumped into the driver's seat, the young girl whimpered: "I'm going to die... I'm going to die."

Sejenak terhenti dan terdiam. Terhenyak dalam-dalam. Terkubur di antara reruntuhan.  Tercium bau darah khas  wewangian.  Terdengar teriakan diantara gemuruh dentuman.  Air mata tak lagi basah, layaknya mata air yang kekeringan. Mulut yang tak pernah lelah menyebutNya dan hati yang tak pernah letih berharap akan kemenangan.

True... They are not French but are not we all human?

Memang benar, Aleppo bukanlah Prancis yang sempat membuat “geger” dunia beberapa bulan lalu.

Memang benar, Aleppo bukanlah Prancis yang benderanya sempat ramai-ramai menjadi foto profil facebookmu.

Memang benar, Aleppo bukanlah Prancis. Namun, bukankah kita sama-sama seonggok daging yang bernama manusia?

Kau bilang kau manusia, tetapi ketika bumi Syam menangis, masih sempatnya terbahak-bahak tiada makna.

Kau bilang kau manusia,  tetapi ketika mata-mata yang turut berjuang terdzalimi, kau malah picingkan mata darinya.

Kau bilang kau manusia, tetapi ketika nyawa tak lagi bersatu dengan raga, kau berlagak banyak gaya padahal sejatinya kau tak lebih dari setetes air yang hina.

Kau bilang kau manusia, tetapi ketika menara masjid, rumah, dan tanah tiada lagi beda, malah semakin tinggi kau dongakkan kepala.

Kau bilang kau manusia, tetapi ketika mulut mereka menjerit, kau malah tutup telinga.

Kau bilang kau manusia, tetapi ketika mereka berlari menghindari serangan bom yang bertubi-tubi, kalian juga malah ikut berlari.

Kau bilang kau manusia, tetapi kau diam saja ketika mereka diperlakukan tidak selayaknya manusia.

Itukah manusia?

No safe place anymore in Aleppo

Bahkan untuk sekadar menghela nafas

Malam tak lagi dingin ketika api-api mulai menjalari rumah hingga ubun-ubun mereka.

Siang tak lagi hanya sekadar panas, karena panas luka di kepala, wajah, dan tubuh mereka mampu meredam panasnya matahari.

Siapakah aku?

Hanyalah seonggok daging yang membawa kotoran kemana mana, yang tinggal di pelosok desa. Namun, aku sadar. Aku adalah manusia. Apakah salah jika manusia satu merasakan apa yang manusia lain rasakan? Kecuali jika memang sudah tidak layak lagi tersemat gelar manusia.

Malam ini aku bisa makan dengan tenang tetapi ketika saudara sesama ‘manusia’ku di bumi Syam, rasa-rasanya makanan tak tega ku masukkan dalam kerongkongan.

Malam ini aku bisa tidur dengan lelap. Ah, kau tak tahu. Bocah kecil itu juga tidur dengan sangat lelap bahkan ketika kau terbangun, bocah itu masih menikmati tidurnya.

Aku sakit. Ah, aku tak perlu risau. Rumah sakit di negaraku banyak, berdiri kokoh, dan berfasilitas lengkap. Namun, ketika mengingat saudara sesama ‘manusia’ku yang rumah sakitnya tidak luput dari kedzaliman, rasa-rasanya sakitku tiada apa-apanya dari luka mereka yang menganga.

Aku punya Ayah dan Ibu serta saudara-saudaraku. Namun, ketika mengingat saudara sesama ‘manusia’ku, aku terbayang-bayang sesuatu. Akankah Ibu akan menjadi janda atau Ayah yang akan menduda?

Aleppo is burning, World just freezing

Ah, hati apakah kau sekeras ini? Bahkan bom-bom tidak mampu menghancurkan kerasnya hatimu.

Ah, hati apakah kau sekaku ini? Hingga darah-darah mereka tak mampu melumasi kakunya hatimu.

Demi Rabb tempat satu-satunya mengadu. Rabb yang mempunyai awal dan akhir. Rabb yang mampu mengatasi manusia-manusia yang melampaui batas. Rabb yang balasannya adalah sebenar-benar balasan dan seadil-adilnya keputusan.

Syiria is really bleeding...

  • view 80