Bahagia Itu Sederhana

Nadifa Salsabila
Karya Nadifa Salsabila Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Mei 2016
Bahagia Itu Sederhana

Bahagia bukan karena uang yang banyak, bukan karena rumah yang bagus, bukan karena mobil yang mewah, atau karena makanan yang lezat. Bukan. Entah, ba’da maghrib tadi saya merasakan  kebahagiaan yang berbeda dari bahagia-bahagia sebelumnya.

Lepas sholat Maghrib, ibu-ibu yang usianya sekitar 50-60an duduk setengah melingkar di selasar Mushola dengan seorang guru ngaji di tengahnya.

“Fa, ikut nyimak ya.”

Sebelumnya, Abi memintaku dan adikku untuk membantu menyimak kelima Ibu ini mengaji. Aku hanya tersenyum, sambil memandangi Abi yang tengah menuntun kelima Ibu ini membaca surat Al Fatihah. Setelah selesai membaca Al Fatihah, aku baru mendekat. Aku ingin tersenyum. Ya, benar-benar ingin tersenyum. Aku merasakan sendiri, senyumku ini berbeda dari biasanya. Ada yang membuncah dari dalam dada. Aku benar-benar bahagia.

Ingin bisa baca Quran. Keinginan yang menurut saya sangat besar untuk ukuran Ibu-ibu yang telah berkepala enam. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya ikut mengajar ngaji. Di desa binaan BPPI FEB UNS, saya juga ikut mengajar ngaji adik-adik TPA. Setiap harinya saya juga mengajar les privat mengaji dan hafalan.

Namun, mengajar kelima ibu ini berbeda. Ada sensasi yang berbeda di setiap huruf hijaiyah yang dibaca. Semangatnya belajar mengaji dari NOL yang membuat saya berdecak kagum. Ada satu ibu yang ketika awal mengutarakan niatnya kepada Abi, berkata kurang lebih demikian, “Pak Nazar, saya ingin bisa ngaji tapi saya benar-benar dari awal.” (Sudah saya konversikan ke bahasa Indonesia). Memang benar-benar dari awal, dari nol. (Tanpa mengurangi rasa hormat dan semoga Allah melindungi dari rasa sombong) Ibu ini tidak tahu sama sekali huruf hijaiyah bahkan untuk sekadar a ba ta tsa. Sama sekali tidak tahu. Benar-benar buta huruf. Namun, Alhamdulillah karena Allah dan kegigihan Ibu ini, kini beliau sudah sampai di Iqro’ 5. MasyaAllah. Itu masih satu orang, ada empat cerita yang lain dengan keunikan masing-masing tetapi yang paling mengena bagi saya adalah cerita ibu ini.

Ada sensasinya. Seperti yang saya sebut di atas, ada rasa yang berbeda ketika mengajar anak-anak dengan ibu-ibu. Ada juga yang membuat saya harus berulang kali tersenyum. Jika dengan anak-anak, saya tidak sungkan untuk menegur bila ada yang salah tetapi jika dengan Ibu-Ibu ada rasa pakewuh, ngga enak karena secara usia mereka jauh di atas saya. Ada juga karena lidah yang terlanjur kaku, maka ada sebagian huruf yang masih belum benar pelafalannya, jika dibetulkan maka jawaban mereka, “Loh, lha iya bener kan.”  Atau jika ada huruf yang terlewat maka “Oh iyo mbak, lali.” dan masih banyak lagi

Bahagia bukan? Ketika mereka yang awalnya tidak mengenal huruf hijaiyah kini bisa mengaji. Ini yang juga saya rasakan ketika awal saya ngajar les privat, adiknya masih iqro’ hingga suatu hari ia tak lagi membawa iqro tapi membawa Al Quran. Bahagia sekali ketika pertama kali ia mengucapkan Alif Laam Miim. Tidak terkira bahagia yang saya rasa. Juga, setiap ayat yang ia hafalkan hingga ia merampungkan surat An Naba.

 Melihat semangat kelima ibu ini belajar mengaji, tidakkah menggugah semangat kita juga untuk mengaji? Bersyukur, karena di umur belasan kita sudah dikenalkan dengan Al Quran bahkan adik-adik saya di UNS ketika masuk kuliah sudah mengantongi 30 juz.

Jika di perkuliahan kita semangat mengajarkan mengaji kepada teman-teman atau di desa binaan SKI masing-masing fakultas maka seharusnya semangat itu juga kita tularkan ke keluarga kita, tetangga kita, dan orang-orang terdekat kita. Jangan sampai kita getol berdakwah keluar tetapi yang terdekat malah tidak terjamah.

Jika boleh saya katakan, bahagia itu sederhana. Tidak perlu muluk-muluk. Ketika kita bisa merasakan the real happiness, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hati yang bicara.

  • view 163