Senja Ke delapan

Nadia Munisa
Karya Nadia Munisa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2017
Senja Ke delapan

Mengenai waktu, aku tidak tahu jika waktu berlaku sekejam ini. aku tidak tahu jika waktu terus saja berputar tanpa peduli keresahan apa yang sedang terjadi di belahan dunia manapun atau pada siapapun. 

Kamu dan waktu sama saja, kalian kejam. Kamu terus saja berputar di kepalaku tanpa tahu apa yang terjadi pada gejolak hati ini. Aku tidak mengenalmu, itu masalahnya.

Sejak pertemuan pertama di rumah makan milik keluarga ku senjaitu, aku selalu berharap kamu akan datang kembali untuk makan. Tapi nyatanya di senjaa-senja berikutnya aku tidak menemukanmu. Aku terlalu berharap lebih. 

Aku tertegun pada senyummu dan pada ucapanmu kala itu “Setangkai mawar tidak pernah meminta untuk ia memiliki duri. Tapi ia tahu, duri tidak pernah menyakiti siapapun jika ia dijamah dengan lembut. Duri itu hati kita.” Ucapanmu kala itu adalah sebuah petikan kata dari buku yang sedang kau tulis. Aku tak sengaja lewat ketika kamu mengucapkannya. Aku terbius kata-kata mu kala itu. Seketika hatiku menjadi hangat.

Aku tahu aku melantur kala itu, kita tidak saling mengenal tapi bagaiman aku secepat itu terbius olehmu. Seakan-akan petikan kata itu adalah untukku. 

Senja ketujuh setelah hari itu, aku tidak menemukanmu lagi di rumah makan keluarga ku.  Apakah masakannya tidak enak ? apakah kopi buatanku terlalu pahit ? mengapa kamu tidak kembali berkunjung ? apakah kamu seorang turis ?. Seharusnya aku membuat daftar pengunjung yang berisikan nomer telepon, agar jika terjadi kejadian seperti ini aku bisa menghubungimu. Dengan berpura-pura menawarkan daftar menu baru atau apapun alasannya nanti.

Jujur, raut wajahmu tidak asing bagiku. Seperti kita sudah lama bertemu dimasa kecil lalu bertemu lagi di masa sekarang. Ahh... aku melantur kembali. Aku melogikakan sesuatau yang tidak berlogika. 

Senja ke delapan. Aku sudah putus asa. Sepertinya aku tidak akan bertemu denganmu lagi. kamu, lelaki dengan tinggi 175 cm, berkulit khas pria Indonesia, dengan wajah yang mengguratkan pejerja keras, sorot matamu tajam namun hangat. aku memperkirakan umurmu 2 tahun lebih tua dariku, mungkin 23 tahun.

Aku berjalan-jalan ke alun-alun kota jogja bersama santi menggunakan sepeda. Diantara kami tidak ada yang bisa mengendarai motor. Jalanan kota padat lancar seperti biasanya. Santi menepi ke sebuah kedai milkshake, aku membuntutinya dari belakang.

“Kamu sudah haus toh san ?” tanyaku sambil terkekeh.

“Engga, aku mau ajakin kamu minum disisni, kamu belum pernah nyoba toh ? kemarin aku dan masku kesini, wenak loh...” ujar santi dengan logat jawa nya yang mendok, sambil mengacungkan jempolnya.

Aku duduk dibawah payung besar dengan 4 kursi. Ada 4 payung besar yang disediakan pemilik untuk sekedar duduk bersantai. Setelah memesan milkshake strawbrry dan green tea, kaami membeli snack sebagai camilan. Santi duduk persisdiseberangku. Selalu ada topik menarik yang kami bicarakan setiap kali bersama. Kali ini, kami membicarakan jajanan terenak di kota Jogja versi kami masing-masing. Pembicaraan yang tidak penting, tapi jika membicarakannya dengan Santi, selalu menjadi menarik. Pesanan kami datang. Aku memesan milkhshake green tea, Santi benar milkshake ini enak sekali.

Tiba-tiba seorang lelaki duduk dibelakangku. Aku tidak menghiraukannya dan masih berbincang dengan Santi. Pria itu memesan Moccacino latte, aku mengetahuinya karena pelayan melewati meja kami. 

“Pelangi itu tidak pernah meminta untuk tampil indah. Tapi dia tahu, bahwa ia akan indah kaarena ia pernaah melewati petir. Pelangi itu jiwa kita.” Seketika aku tertegun untuk beberapa saat. Aku mengenali suara itu, kata-kata itu. Itukah lelaki yang kutemui dirumah makan ku ?

Tanpa sadar, aku memalingkan wajah, memastikan. 

“Husein, Abdillah Husein”  ujarmu dengan mantapsambil menjulurkan tangan, aku yang terdiam beberapa saat, tersadar dengan injakan kaii Santi. 

“Ratih, Ananda Ratih Lestari” ujarku sambil menelungkupkan kedua tangan didepanku sebagai tanda menolak kontak fisik dengan lawan jenis. Kamu pun menelungkupkan kedua tanganmu seperti ku sambil tersenyum.

Disenja kedelapan, aku mengetahui nmamu dipertemuan yang ganjal. Ini lucu.

 

  • view 164