Hari Selepas Magrib

Nadia Emila
Karya Nadia Emila Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Desember 2016
Hari Selepas Magrib

oleh : Nadia Emila

Adzan Magrib berkumandang, Syam bersiap-siap menutup Toko kelontongnya hendak pergi ke Masjid.

Belum sempat ia mengunci etalasenya, seorang wanita menyambangi Tokonya. Tidak sepatah katapun terucap, wanita itu hanya diam hingga Syam menyadari kedatangannya.

“Oh, Ibu perlu apa? Kebetulan Toko mau tutup.” ujarnya sembari melirik jam besar di sisi kanan Toko.

Ujung jari telunjuk si Ibu menunjuk jajaran susu formula. Ada selembar uang dua puluh ribu di tangan lainnya.

“Untuk usia dibawah satu tahun? “ Syam bertanya kembali setelah mengerti maksud si Ibu.

Hanya anggukan.

Sebuah dus susu formula 100 gram itu berpindah tangan. Diserahkannya pula uang lima ribu sebagai kembalian.

Wanita itu berjalan tergopoh, diliriknya langit yang mulai menghitam, digenggamnya erat dus susu formula yang baru ia beli. Cepat-cepat ia masuk rumah. Ditengoknya bayi mungil di dalam kamar. Tertidur pulas.

Wati memulas bibirnya dengan gincu berwarna merah. Di ulangnya lagi untuk memastikan ulasannya sempurna. Cermin kecilnya ia masukkan ke dompet. Diserahkannya uang lima ribu kepada seorang pria.

“Pak, ini lima ribu untuk beli kopi.” kata Wati.
“Susu untuk adek sudah ibu beli, ada di meja.” tambahnya mengingatkan.

Lalu berangkatlah ia bekerja, di klub malam kota sebelah. Menemani para pria kesepian, sekedar mengobrol dan mendengarkan suara-suara yang tidak bisa dibilang merdu. Ya, ia hanya pemandu karaoke. Sejenak hingar bingar ini seakan merayakan kesedihannya, menepis kekesalannya akan suami dan kerinduannya pada si buah hati.

Pria ini menggerutu. Dilihatnya bayi mungil dengan sinis. Gara-gara kamu aku jadi tidak bisa kelayapan!

Diteguknya sedikit minuman. Sedikit oplosan. Kepalanya mulai berat, tapi otaknya mulai berhaha-hihi berfantasi menyenangkan. Lalu terdengar tangis bayi, amarahnya membuncah.

“Sial.” batinnya.

Dilemparkannya dus susu ke dalam kardus. Dijejalkannya selimut bulu pemberian ibu-ibu posyandu tempo hari. Dimasukkannya bayi mungil tak berdosa kedalamnya.

Mabuk, ia berjalan menyusuri gang sempit menuju tempat sampah besar di depan Masjid. Ditinggalkannya kardus disana.

--
Berlari ia menuju arena judi, uang lima ribu pun jadi. Kebebasan ini perlu dirayakan! Terdengar riuh tawa para penjudi, kala seorang ibu menjaja diri demi sesuap nasi dan seorang bayi ditinggal sendiri tanpa hati.

Entah bagaimana hati si Ibu esok hari, didapatinya si anak tak ada lagi.

---
“ASTAGFIRULLOH, ADA BAYI!”
Ibu Imas salah satu ibu peserta pengajian, berteriak-teriak histeris.

Dari teras Masjid, sayup-sayup terdengar suara tangis bayi disela dengan gemuruh suara ibu-ibu yang terkaget-kaget melihat sebuah kardus. Syam bergegas menghampiri.
Sesosok bayi mungil meronta-ronta kedinginan dalam kardus. Ada satu dus susu formula di dalamnya.

---

  • view 402