Menjumpai Tuhan

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2016
Menjumpai Tuhan

Pagi ini udara cukup dingin. Sisa hujan semalam masih menjejak dibumi. Suara tetesan sisa air hujan masih berbunyi gemericik di atas genteng. Aku membuka jendela kamarku. Menatap keluar dengan seksama. Dedaunan masih basah, dan langit masih sangat gelap.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mataku terasa berat untuk dibuka. Angin pelan-pelan menyelinap masuk dan menampar lembut wajahku yang kaku. Aku melihat seekor kupu-kupu berwarna biru. Dia terbang menuju arah jendela kamarku. Aku berniat segera menutup kembali jendela, karena aku takut dengan binatang.

Terlambat! Kupu-kupu berhasil masuk ke kamarku. Dia berputar-putar di sekitar lampu kamar tidurku. Lalu ia terbang ke arah baju yang tergantung. Aku masih memperhatikannya. Ia lalu berhenti di tumpukan buku. Lalu ia kembali mengudara di alam bebasnya.

Mataku kembali melihat tumpukan buku itu.

Tiba-tiba aku mendengar bisikan ditelingan kananku,?kapan terakhir kali engkau menyentuhnya, wahai hamba Tuhan??

?entahlah. Mungkin 4 atau 5 bulan yang lalu.? Aku mendengar suara yang lain menjawab.

Berbisik lagi suara itu ditelingaku, ?kenapa? Bukankah kau suka membaca yang lain? Malah kau selalu membuat target untuk menuntaskan misi-misi membacamu. KENAPA?? Bisikan itu membentak dengan suara keras.

Belum sempat aku bersuara,

?Aku lelah. Aku bosan. Tidak ada gunanya aku membaca itu. Tidak ada.? Suara lain menjawab.

?TIDAK ADA??

Aku gemetar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Lidahku kelu. Kakiku tidak bisa beranjak dari tempatku berdiri. Aku terus mendengar percakapan dari suara-suara aneh itu.

?ya, TIDAK ADA. Dia memintaku untuk membaca itu. Dia memintaku untuk mengikuti seluruh peraturanNya. Tapi untuk permintaan terakhirku, Dia mengabaikannya.?

?sudahkah kau hitung seluruh pemberianNya? Untuk pagi ini saja. Nafasmu yang masih berhembus, matamu yang masih liar menatap, bibirmu yang masih bisa berucap, tangan, kaki, otot, otak semuanya masih bagus. Tidakkah engkau berpikir dan mensyukurinya wahai hamba Tuhan? Sudah bekukah hatimu hingga tak merasakan pemberianNya??

?tidak. Aku tidak mau menghitungnya. Aku tidak peduli.?

?wahai hamba Tuhan, aku masih bisa merasakan kekosongan dihatimu. Kehampaan dihidupmu. Serta keputus asaanmu yang semakin menggila. Tidakkah engkau ingin berdamai dengan hatimu? Pikiranmu? Hidupmu? Serta Ibumu? Tidakkah engkau merindu kedamaian itu? Tidakkah engkau ingin berhenti menjauhiNya?

Bisikan itu kembali membuatku ketakutan. Tapi aku tidak mendengar suara apapun lagi. Tidak ada jawaban. Suasana dikamarku senyap. Dan membuatku semakin ketakutan.

Lalu tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang begitu keras disertai petir yang menggelegar.

---

Aku terduduk. Tubuhku gemetar ketakutan. Ku naikkan selimut yang tergeletak diatas lantai kamarku. Ku pandangi foto ibu sambil menangis. Samar-samar ku dengar suara adzan berkumandang. Dengan langkah berat setengah ketakutan, aku bergegas membasuh wajahku untuk menjumpaiNya.

?

Gambar diambil dari sini

  • view 112