Belajar Tulus dari Sang Akar

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Maret 2016
Belajar Tulus dari Sang Akar

....Engkau menopang kehidupanku.

Engkau membantuku tidak goyah terhembus angin....

Itu adalah secuil bait puisi yang dibawakan Putri dalam acara musikalisasi puisi tadi. Malam ini digedung teater semua orang tengah bergembira dengan hasil pementasannya yang bisa dibilang sukses besar. Seluruh penonton yang hadir bertepuk tangan meriah terhadap pementasan tadi.

Berbeda dengan Tesa, ia tengah marah-marah dibelakang panggung.

?Rud, kamu tahu kan puisi itu aku yang buat? Kenapa harus putri yang dipuji?? gerutunya kepadaku.

?Tesa, tenang ya. Apalah artinya sebuah pujian jika tidak diiringi karya besar? Kamu harus bangga Tesa, karya kamu yang dipuji bukan karya Putri. Dia hanya membacakan saja kok.? Aku coba menenangkannya.

Aku melanjutkan ?Kamu harus belajar dari bait-bait puisi kamu. Sesuatu yang menjadi penopang kehidupan pohon itu. Dia berjuang keras agar pohon itu tidak goyah apalagi tumbang terhempas angin. Kamu harus belajar ketulusan dari sana, Tesa. Dia gak perlu dipuji, disanjung. Dia cuma berusaha mencari cara agar pohon tidak lemah.?

Tesa terdiam. Dia mengiyakan kataku. Tesa sekarang paham bahwa berkarya jauh lebih penting daripada pujian. Lagipula pohon yang kuat tak akan pernah ada tanpa akar yang lebih kuat pula.

?

Gambar diambil dari sini

  • view 175