Dia Espresso-Ku

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
Dia Espresso-Ku

Sore itu aku memang sedang ingin minum kopi. Setelah seharian berkutat dengan tugas perkuliahan, akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi ke gerai kopi di sebuah Mall dikotaku. Aku akan pergi naik busway dan membiarkan motorku dikampus saja, karena setelah itu aku harus kembali lagi untuk mengikuti rapat organisasi.

Haltenya tidak jauh dari kampusku. Aku berjalan kaki menuju halte. Setelah itu langsung membeli tiket dan mengatakan tujuanku.

Setelah membeli tiket, aku dipersilahkan masuk ke dalam busway oleh sang petugas. Aku memilih duduk didekat pintu. Hanya aku sendiri didalam bus saat itu. Meski biasanya jika sedang menunggu aku memilih membaca buku, tapi saat itu tidak. Aku mengeluarkan ponsel dan headset, lalu memainkan sebuah lagu bernada folk jazz. Aku menyukai genre itu. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya bus yang kutumpangi itu melaju dengan kecepatan rendah.

Bus melaju dan baru berhenti dihalte keempat. Saat itu, yang naik 5 orang penumpang pria. Ya ampun, rasanya aku ingin segera turun saja melihat sekumpulan pria di busway itu. aku merasa takut. Tapi, ada penumpang lain yang belum naik saat itu. Aku mengetahuinya karena salah seorang dari 5 pria itu mengatakan sesuatu kepada sang supir.

Sang supir hanya mengangguk. Dan saat itu memang masuklah seorang pria bertubuh tinggi, berkemeja hitam dan celana coklat. Ia mengenakan masker, hingga aku tak bisa melihat wajahnya. Dan saat itu genap sudah ada 6 orang penumpang pria ditambah seorang supir bus yang juga seorang pria.

Aku merasa tenang. Aku merasakan keberadaan seseorang yang aku kenal. Entah kenapa aku tidak merasa takut lagi. Ketenangan itu membuatku tidak sadar bahwa aku sudah tiba di halte tujuanku. Pintu terbuka otomatis dan aku segera turun dari bus bersama beberapa penumpang.

Aku langsung masuk ke Mall. Keadaan tidak terlalu ramai sore itu. Aku menuju gerai kopi dan langsung ikut berbaris diantrian yang tak terlalu panjang.

Hingga akhirnya tiba giliranku untuk memesan kopi yang kuinginkan.

?Hot espresso satu ya, mas.? Aku menyerahkan uangku dan mengambil espresso yang ku pesan.

Aku melihat keadaan disekitar, kursi manakah yang bisa kujadikan tempat bersantai sore itu. Dan aku memutuskan untuk duduk didekat jendela kaca.

Aku menikmati espresso yang ku pesan. Aku merasakan kedamaian yang utuh setelah meminumnya. Aku sering bergonta-ganti rasa kopi, tapi entah mengapa aku berhenti di espresso yang rasanya tidak manis itu. Mungkin begitulah caraku menikmati kopi.

Aku menatap keluar jendela. Dan aku melihat seorang pria. Dia tengah bercakap-cakap melalui ponselnya. Aku bisa melihat dia sedang bahagia. Sesekali dia tersenyum sempurna. Lalu tertawa hingga tampak gigi-giginya yang putih itu. Lalu tersenyum lagi dan tertawa lagi. Aku terus menlihatnya hingga ia mengakhiri percakapannya diponsel kala itu.

Kalian tahu dia siapa? Dialah pria berkemeja hitam dan celana coklat yang mengenakan masker di busway itu. Aku memang selalu merasa tenang jika melihatnya dan berada didekatnya. Ini kali keenam aku bertemu dengannya lagi ditempat yang sama, waktu yang sama, dan cara yang sama. Busway dan gerai kopi. Aku menyengaja pertemuan diam-diam ini.

Aku tidak mengenalnya. Begitupun dengan dia. Melihatku saja ia (mungkin) tidak pernah.

Dialah espresso-ku. Meski pahit, begitulah caraku menikmatinya.

  • view 138