Dilema pada Acara Televisi

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 Februari 2016
Dilema pada Acara Televisi

Sejak kecil, saya sudah dibatasi oleh orangtua perihal menonton acara di televisi. Kata Ibu saya, televisi bukan sumber pengetahuan yang utuh. Kebanyakan ngga bagusnya, kak. Begitu kata beliau dulu, saat saya ingin nonton suatu sinetron yang sedang dibicarakan teman-teman disekolah. Saya lebih sering nonton televisi saat sedang bersama orangtua, itu juga hanya melihat tayangan berita atau nonton kartun dihari minggu.

Hingga saat ini saya bukan termasuk sebagai pecandu televisi. Karena memang sudah terbiasa melewati waktu senggang tanpa harus di depan televisi. Lagipula, acara-acara di televisi sekarang memang kebanyakan tidak bagusnya. Misalnya, acara musik yang isinya (menurut saya) hanya 10% tentang musik. Selebihnya berisi aksi dan pembicaraan konyol dari pengisi acara. Atau berubah menjadi acara curhat, masak-memasak, atau hal yang tidak ada kaitannya dengan musik. Bahkan saat ini hampir tidak ada acara musik yang menayangkan lagu untuk anak-anak.

Belum lagi masalah sinetron yang ceritanya aneh-aneh. Percintaan (yang paling sering), perkelahian, perselingkuhan. Sekalipun ada sinetron yang diperankan oleh anak-anak, pasti mengandung unsur tidak mendidik. Mencuri, berbohong, mengejek dianggap hal lazim dan layak untuk disuguhkan kepada anak-anak. Padahal mereka sedang dalam masa pertumbuhan pemikiran, yang nyatanya sulit bagi mereka untuk membedakan hal yang layak ditiru atau tidak. Meski pada akhirnya mereka meniru juga. Bahkan saya tidak mengerti kenapa acara tersebut diizinkan untuk tayang.

Apalagi jika melihat siaran yang berbau berita. Kebanyakan melebih-lebihkan fakta yang ada. Mereka bilang Bapak A telah menerima penghargaan ini karena ?begini? didaerah yang dipimpinnya, tapi pada kenyataannya tidak ada perubahan didaerah tersebut. Kebanyakan orang menyebutnya ?pencitraan?. Efeknya, masyarakat akan ?tergiur? pada sosok tersebut yang diyakini akan membawa dampak baik ketika ia memimpin. Yang ternyata semua itu hanya sekedar pemberitaan berbau politik demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Dan lagi-lagi masyarakat terbodohi.

Siaran televisi bisa dianggap sebagai media paling besar dalam memberikan dampak psikologis. Mungkin bagi kita yang sudah memasuki usia dewasa, sudah mampu memilah yang baik dengan yang tidak baik. Lantas bagaimana dengan mereka yang masih berusia anak-anak? Jika mereka menghabiskan sebagian waktu mereka hanya dengan menonton televisi, maka yang jadi panutan mereka adalah televisi.

Sebagai contoh. Semenjak ada tayangan yang berbau binatang di salah satu stasiun tv swasta, keponakan saya (masih kecil) jadi suka menggigit-gigit ibu atau ayahnya. Dan bertingkah layaknya binatang tersebut. Cukup lama keluarga baru bisa mengatasi hal ini.

Dan menurut saya, terkait masa depan generasi penerus bangsa yang diharapkan bermoral, berakhlak baik, dan berpengetahuan, setidaknya ada 2 pihak yang bertanggung jawab terhadap tayangan televisi.

Pertama, mereka yang tergabung di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sesuai UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran, harusnya KPI benar-benar menerapkan standar isi siaran yang akan muncul di televisi. Baik itu terkait kesopanan, pembatasan adegan seks, kekerasan, hinggan penetralan program berita. Sampai saat ini, sepertinya standar tersebut seperti diacuhkan. Karena masih banyak sekali tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, seks dan semua yang bertentangan dengan standar yang telah di tetapkan oleh KPI tersebut. Maka dari itu, KPI selaku pihak yang memiliki wewenang paling besar terhadap penayangan segala jenis program di televisi diharapkan mampu menjalankan tugas dengan sebaik mungkin dalam memberi hak izin tayang terkait program acara yang layak ditayangkan atau tidak. Karena ini terkait dengan pola pikir bangsa yang apabila dari usia dini sudah dikotori dengan hal-hal yang tidak baik, maka kedepannya akan bertambah tidak baik pula.

Pihak yang kedua adalah orangtua. Mereka memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan psikologi individualisme anak. Orangtua diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan kepada sang anak apa saja program televisi yang boleh ia lihat. Menurut saya, membatasi jam menonton televisi merupakan salah satu cara yang efektif juga seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua saya dari dulu.

Meskipun isi tayangan di televisi kebanyakan mengandung unsur yang kurang baik, saya tidak mengatakan bahwa semua punya tayangan buruk. Masih ada satu atau dua media yang menurut saya masih menyuguhkan program acara yang mampu memberikan sesuatu kepada masyarakat Indonesia. Isinya tidak ada sinetron, melainkan tayangan-tayangan yang bersifat edukatif, komedi yang segar dan netral, acara keagamaan serta acara yang mengajak masyarakat untuk berbuat ?sesuatu? terhadap negeri ini.

Mudah-mudahan kedepannya seluruh tayangan di stasiun televisi Indonesia diharapkan tidak hanya ingin mengambil keuntungan semata, namun juga mampu mencerdaskan seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai program acara yang sifatnya edukatif dan mengajak kebaikan.

Oleh : Nadia Gustiana #paradelombainspirasi #tulisan

Gambar diambil dari sini

  • view 163