Keegoisan Saat SMA

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2016
Keegoisan Saat SMA

Setelah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013, banyak pengalaman yang saya rasakan. Karena untuk pertama kalinya, akhirnya saya harus hidup berjauhan dari orangtua.

Saat masih SMA, keinginan untuk melakukan apa yang dikehendaki merupakan sesuatu yang langka bagi saya. Sekolah, belajar, les bahasa Inggris, Matematika, merupakan makanan sehari-hari yang harus ditelan bulat-bulat meski rasanya hambar.

Kebebasan adalah hal yang paling saya impikan kala itu. Saya ingin sering hang out dengan teman-teman tanpa harus dilarang. Saya ingin bisa menikmati indahnya malam sambil duduk di cafe dengan secangkir espresso favorit saya, seperti yang teman-teman saya lakukan. Saya ingin pulang dengan waktu yang tidak ditentukan. Saya ingin pergi tanpa harus di jejali beragam pertanyaan yang membuat saya ingin pergi sungguhan tanpa harus kembali kerumah. Saya ingin agar tidak ada peraturan yang harus saya taati dirumah itu. Begitulah setidaknya kebebasan yang saya inginkan.

Setiap kali akan melakukan sesuatu, jika dirasa orangtua saya itu tidak cocok maka konsekuensi yang harus saya terima adalah sebuah pelarangan. Mereka menjelaskan begini dan begitu. Seperti ini dan seperti itu. Keegoisan telah memenuhi batin saya. Hingga saya hanya ingin didengar tanpa mau mendengar. Alhasil, pertengkaran antara saya dan orangtua segera dimulai. Saya sering berujar dalam hati agar secepatnya waktu bersama mereka segera berlalu.

Hingga tiba saatnya saya harus menerima hasil kelulusan saya di sebuah universitas negeri. Saya merasa senang. Karena yang terbayangkan adalah saya akan hidup bebas sebebas-bebasnya. Saya bisa pergi kemanapun yang saya suka dan ikut kegiatan apapun yang saya mau.

Setelah kuliah, saya memang bisa hidup bebas. Kapanpun saya mau pergi dan pulang, tidak ada yang peduli. Ya, benar-benar tidak ada yang peduli. Disitu saya mulai merasakan sesuatu. Meskipun komunikasi antara saya dan orangtua terbilang cukup lancar, saya tetap merasa ada yang kurang dalam hidup saya.

Kebebasan yang saya impikan dulu hanyalah omong kosong belaka. Itu hanya bagian dari sifat egois yang tidak terkendali. Toh, ketika sudah kuliah saya malah tidak terlalu sering keluar malam. Sekalipun itu hang out bersama teman kampus, sangat jarang sekali saya lakukan. Entah kenapa, kebebasan seperti itu malah saya batasi sendiri saat ini.

Saat ini, barulah saya bisa mengerti kenapa orangtua saya menuntut saya untuk mengikuti segala aturan yang mereka buat. Mereka mengajarkan saya untuk selalu mengikuti rule yang telah ditetapkan agar terbiasa menghargai waktu. Ya, mereka selalu menuntut saya melakukan hal-hal yang dapat menunjang produktifitas saya. Dan itu benar-benar saya butuhkan dibangku kuliah saat ini.

Sudah jauh baru terasa rindu. Sering saya mendengar kalimat seperti itu. Dan itulah yang saya alami saat ini. Saya baru bisa merindukan orangtua saya setelah saya kuliah. Saya merindukan amarah mereka yang sebenarnya sangat tidak ingin mereka tunjukkan. Saya baru bisa menghargai waktu berkumpul bersama orangtua dan adik saya setelah saya merasakan betapa tidak enaknya jauh dari orang yang selalu peduli dengan diri ini.

Saya sadar, masa-masa SMA telah membawa saya jauh dari orangtua meski saat itu saya masih tinggal serumah dengan mereka. Sedangkan saat ini, saya merasa sangat dekat dengan orangtua meskipun saya tengah hidup berjauhan dengan mereka. Jarangnya bertatap muka, membuat pertemuan dengan mereka tampak begitu mahal dan spesial. Semoga keegoisan diri ini mampu dikendalikan agar tak kembali memenuhi ruang di batin.

?

*Gambar diambi dari sini

  • view 162