ber-KKN ria

Nadia Gustiana
Karya Nadia Gustiana Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Oktober 2016
ber-KKN ria

Sudah lama rasanya tidak mampir di ruang “inspirasi”. Banyak hal yang telah berubah di situs semi blog ini. Baik itu tampilannya yang semakin memukau, bertambahnya ratusan hingga ribuan inspirator baru, hingga karya-karya yang semakin mengagumkan. Ada banyak hal yang menghalangiku untuk bercerita lewat tulisan begini. Tapi sesungguhnya rasa malas adalah penghalang terbesar didalam diriku.

Waktu berlalu begitu cepat. Seperti yang terlihat di linimasaku, karya terakhir yang aku kirimkan berjudul Waktu adalah pencipta rindu yaitu tepat pada tanggal 17 Juni 2016. Sudah cukup lama aku mengosongkan diri dari menulis.

Sekitar 3 minggu yang lalu, aku baru saja menyelesaikan tugas pengabdianku sebagai mahasiswa di sebuah Kampung (desa) di Kabupaten Siak Provinsi Riau. Kampusku menamainya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Terhitung ± 53 hari masa pengabdianku dan teman-teman di Kampung tersebut sejak tanggal 18 Juli 2016 – 08 September 2016.

Banyak hal yang ku rasakan selama menjalani program pengabdian tersebut. Bahagia, sedih, takut, suka, marah, kesal, benci hingga cinta semua pernah dirasakan selama tinggal dirumah KKN yang biasa kami menyebutnya “Posko”.

Sebelum aku mengikuti program KKN tersebut, hal yang terbesit dibenakku adalah “TIDAK ENAK”. Karena sebelumnya, para seniorku selalu menceritakan hal-hal yang memang sungguh tidak enak didengar. Namun, aku mengabaikannya. Aku selalu percaya bahwa semua hal bisa dinikmati dari segala sisi. Semua tergantung pola pikir kita masing-masing.

Pengalaman selama ber-KKN ria memberiku banyak pelajaran. Seperti yang kujelaskan diatas tadi, segala hal bisa dilihat dari berbagai sisi.

Seperti posko KKN kami yang terletak di sudut jalan, tampak sedikit horror jika dilihat dari kejauhan apalagi terletak dibelakang sebuah Sekolah Dasar. Jika pada malam hari, teman sejati disekitaran posko kami adalah kegelapan dan kesunyian. Dari sini aku belajar keberanian, dan belajar menikmati kesunyian. Bukankah sebelumnya aku sudah menikmati hiruk-pikuknya kehidupan dikota? Aku membenarkan itu dalam hati.

Kemudian kami yang berjumlah 15 orang mempunyai pola pikir yang sangat jauh berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang jarang mengeluarkan pendapat, ada yang keras kepala, ada yang suka marah, ada yang egois tingkat dewa, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli dengan program KKN yang sedang diikutinya. Sangat sulit untuk menyatukan pendapat dari 15 kepala itu. Kesabaran adalah kuncinya. Kesabaran itu sendiri akan memudarkan kemarahan yang memuncak dihati. Dari situ akan muncul ketenangan yang akan mendatangkan rasa memahami pada orang lain.

Belum lagi selesai permasalahan antar sesama anggota, terkadang kami harus berusaha berdamai pada hati masing-masing mengenai keadaan di lokasi KKN. Selama 53 hari kami harus berjalan kaki beberapa meter dari posko KKN, menuju sebuah sumur galian yang jika diukur mungkin hanyalah setinggi leher orang dewasa. Lokasinya yang berada dipinggiran hutan dan semak belukar membuat kami terbiasa mandi dengan air keruh, berlumut, dijatuhi daun-daun bahkan katak mati ada dalam sumur itu. Belum lagi jika harus mengangkut air berulang kali untuk dibawa ke posko. Sungguh, kami mendapat fitness gratis di kampung tersebut. Kami pun menjelma menjadi wanita yang tangguh.

“Pembangunan di Indonesia belum merata”

Aku mengiyakan dengan lantang pernyataan tersebut. Di Kampung yang bernama Mandiangin tersebut, hanya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Warga disana hanya menikmati listrik ± 12 jam. Listrik akan bisa dinikmati mulai pukul 18.00 hingga pukul 06.00. Namun, jangan pikir jam operasi akan berjalan teratur. Seringkali listrik mati pada tengah malam, bahkan pernah berhari-hari tidak hidup dikarenakan mesin rusak atau kehabisan bahan bakar. Miris sekali.

Aku sering bertanya kepada warga, bagaimana mereka bisa melewati semua itu?

“Yo sabar wae ndok. Pemerentah sedang sibuk.”

“Macemana lagi dik, nak berang pun tak mungkin.”

Begitulah jawaban dari beberapa warga. Sabar, lagi-lagi menjadi kunci untuk menikmati hidup.

Salah satu program kami dalam masa pengabdian di Kampung tersebut adalah mengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Menyenangkan bisa dekat dengan adik-adik itu. Kudapati banyak jawaban mengenai kehidupan dan cita-cita mereka. Masih banyak yang tidak punya kesadaran betapa pentingnya menjadi manusia yang berilmu. Bahkan, ada diantara mereka yang tidak hafal perkalian hingga tidak dapat membaca. Dalam hal ini, siapa yang harus disalahkan? Ternyata, penting untuk menyadari bahwa sumber segala motivasi adalah diri kita sendiri. Tanpa peduli seberapa lantangnya guru memotivasi muridnya untuk belajar, jika muridnya memang tidak ingin maka usaha sang guru hanyalah sia-sia.

“Keinginan yang kuat akan membuka jalan hebat untuk kita.” Itu yang pernah saya sampaikan kepada adik-adik disana. Dengan harapan semoga mereka bisa memotivasi diri mereka dengan impian-impian besar nan mulia yang akan segera mereka realisasikan.

Dan pada akhirnya waktu telah menyeret diri pergi begitu cepat.

Segala jenis perasaan kesal, marah, benci, pernah hinggap dihati selama masa pengabdian. Berbedanya kondisi lingkungan, sudut pandang, pola pikir, dan tingkat emosional menjadikan faktor-faktor yang sangat sulit untuk ditumbangkan kecuali dengan kesabaran.

Pun begitu dengan keadaan, tidak ada yang sempurna. Pemerintah hanya sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang lain, hingga tak sengaja melupakan warga-warga yang tinggal di pedalaman. Padahal “keadilan sosial” tertuang jelas di 5 sila milik negeri ini.

Disetiap pertemuan, akan ada beberapa hal yang meninggalkan kesan mendalam di ingatan. Entah itu seseorang ataupun kejadian-kejadian yang telah dialami. Dan tak perlu disesali jika pada akhirnya harus bertemu juga dengan perpisahan.

Semoga pengabdian singkat kami bermanfaat disana. Aamiin.

  • view 245