Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 49256
            [type_id] => 1
            [user_id] => 8354
            [status_id] => 1
            [category_id] => 81
            [project_id] => 0
            [title] => Surat untuk Matholek ku
            [content] => 

Surat untuk Matholekku

Apakabar Matholekku?

Apa kabar kubah sholih akrom mu? Apakah ia masih segagah saat terakhir kali aku melihatnya? Apakah dinding-dinding mu masih setia mendengar keluh kesah penghuninya? Tentang pelajaran, hapalan, hingga uang kiriman, apakah meja-meja mu masih menjadi saksi surat-surat bangku yang tetap lestari walau di zaman 4G? Apakah kelonteng tua mu masih berbunyi? Membangunkan siswa-siswa yang terkantuk-kantuk karena hembusan kipas yang menghanyutkan itu, apakabar juga gedung seribu pintumu?

Apa kabar Matholekku?

Apakah pak satpam gagah itu masih setia berdiri disamping gerbangmu? Apakabar bapak sejarah kita? Apakah beliau masih menggambar peta-peta yang tak sepenuhnya kita mengerti? atau menuliskan silsilah Majapahit yang beliau hapal diluar kepala? Apa kabar guru fisika kita dengan teori-teori rumitnya? Apa kabar guru balaghah kita? Apakah beliau masih mendendangkan syi’ir-syi’ir cinta? Apa kabar guru ushul fiqh kita? Aku selalu rindu cara mengajar dan cerita-cerita beliau tentang sejarah islam yang mengisi waktu rehat kita, bagaimana dengan guru mantiq kita? Aku selalu kagum dengan kesabaran beliau mengajar pelajaran rumit itu, walau entah berapa persen yang kita serap.

Apa kabar Matholekku?

Aku selalu ingin mengucapkan ini ”maaf atas segala yang terucapkan dan tidak terucapkan, maaf atas tunggakan hapalanku, rentetan koleksi poinku, hingga kantuk yang seolah menjadi kebiasaan itu, maafkan kami yang terkadang mengabaikan petuah bijak guru untuk kemudian benar-benar kami sesali di kemudian hari, maaf terkadang membuatmu terlihat buruk karena sikap kami, santri dengan sikap labil ini”

Apakabar Matholekku?

Terimakasih telah membuatku menemukan siapa diriku, untuk membuatku menghapal berbait-bait syair waraqat hingga alfiyah ibnu malik, untuk membuatku terbang bersama syair cinta balaghah, dan untuk membuatku mengingat pukulan palu guru qira’ah kita yang dengan mulusnya mendarat di hidungku :)

Untuk Matholekku...

Tetaplah menjadi keras kepala dalam menjaga prinsipmu, tetaplah gagah menantang zaman, tetaplah bijaksana dalam menghadapi dunia dan perkembanganya, tetaplah menjadi seperti itu untuk berabad-abad lagi, menjadi tempat dimana santri menemukan muaranya, tetaplah menjadi matholek yang kami kenal....

Untuk Matholekku, salam rindu untuk masyayikh mu...

Demak, 11 JunI 2018

 @nadae_epic  Mutakharijat PIM rasta 15/16

[slug] => surat-untuk-matholek-ku [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1528726893.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 133 [issued] => 0 [author] => Nadae epic [username] => nadae_epic [avatar] => file_1459159917.JPG [status_name] => published [category_name] => Lainnya [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-06-11T21:21:33+07:00 [updated_at] => 2018-09-28T11:58:32+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.044072ms [status] => 200 )