Stigma

Nadae epic
Karya Nadae epic Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Maret 2018
Stigma

Stigma

Gelap sepanjang mata memandang, sepi, hanya terdengar suara titik-titik air yang jatuh dari atap terowongan kereta tua, tempat anak-anak bandel kampung kami biasa nongkrong, kulangkahkan kaki, berjalan dengan kedua kaki kecilku menendang-nendang krikil dan pecahan batu bata, aku menggandeng tangan kakak perempuanku, kami berjalan bersama dua teman nya yang entah siapa nama mereka, aku tak tahu kenapa kami kesini, aku hanya ikut kakak karena ia bilang akan membelikan coklat kesukaanku.

“han...masuklah keterowongan dan nanti jika bertemu anak seumuran sama kakak bilang kalo kamu itu teman kakak ya...” kata kakak ku setengah membungkuk

“tapi kak, Hana takut, disana gelap...”

“Hana mau coklat kan? Nanti kakak beliin 5 deh....”

“cepet ra...sebelum mereka dateng” kata salah satu teman kakak ku

“Hana mau nolong kakak kan?”

Ah, aku selalu tak bisa menolak kata itu, Aku memberanikan diriku dan berjalan perlahan diantara rel tua yang sudah berKarat perlahan mendekati mulut terowongan tua bekas kereta zaman jepang itu, bulu kuduk ku berdiri mengingat cerita-cerita horor yang sering diceritakan teman sekelasku, aku kembali melihat kakak ku yang tersenyum bersama tema-teman nya, aku benar-benar tak tahu apa arti senyum itu.

Di usia ku yang baru menginjak 7 tahun yang kutahu hanyalah “jika ada orang yang butuh pertolongan kita, kita harus menolong nya” itu pesan bunda. Jika bunda tahu aku melawan ketakutanku untuk menolong kakak pasti ia akan sangat bahagia tersenyum dengan barisan gigi putihnya dan berkata “Hana anak baik”, aku memiliki keberanian lebih saat memikirkan itu.

Aku sudah melewati separuh dari terowongan ini, aku melihat ada bayangan anak lain di ujung terowongan, mereka membawa senter dan mengarahkan nya padaku, aku tak dapat melihat dengan jelas karena sorotan lampu mereka, aku hanya mendengar banyak langkah kaki, baru setelah kami hanya berjarak sekitar beberapa langkah akhirnya aku tahu, mereka adalah anak geng kampung kami.

“siapa kau??” tanya salah satu dari mereka

“aku teman Kara” aku mengatakan apa yang diminta kakak ku

“dia menyuruhmu kesini?”

“iya...”jawabku dengan suara bergetar

Setelah percakapan singkat itu aku tak sepenuh nya ingat karena tiba-tiba pukulan keras menghantam perutku, aku jatuh mereka terus memukuliku, kepala, kaki tangan semua bagian tubuhku sakit, aku merasa ada cairan hangat mengalir dari pelipis kananku, aku tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya terus berteriak minta tolong, memanggil Kara, kakak ku.

“kakak tolongg!!!!”

                                                                        ###

 

“kak Hana bangun!!!”

Aku terbangun dengan nafas tersengal dan kaus basah oleh keringat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, kepala ku pusing dan nafasku tak terkendali, aku menangis sejadi-jadi nya, aku takut, sangat takut tepatnya, kenapa mimipi terkutuk itu selalu muncul?

“kakak mimpi buruk lagi?” tanya Liya

Aku tak tahu harus menjawabnya atau tidak, dia tahu pasti malam-malam ku selalu berjalan seperti ini, mimpi buruk dan tangisan, selalu saja wajah ku sembab pagi nya. Liya memeluk ku erat, ia menepuk-nepuk punggungku, seperti bunda dulu.

“aku kangen bunda...” kataku masih terisak

“aku lebih kangen kak....”  

“masih jam 2 kak, tidur lagi yuk...” Liya melepas pelukannya

“sepertinya aku akan sulit tidur” jawabku

“tapi besok kakak ada acara kelulusan SMA kan?, ayolah kakak harus cantik besok...”

“aku tahu...tapi kenapa mimpi terkutuk itu datang di hari bahagia ini?”

“bukankah karena itu dia disebut mimpi??” Kami tertawa bersama

“aku juga tak tahu jalan pikiran tuhan” kata Liya lagi

“bukankah karena itu Ia disebut Tuhan?” kami tertawa lagi

Malam itu terasa begitu panjang, seperti malam-malam panjang ku yang lain, ini mimpi buruk ku yang ke sekian kalinya, entah berapa aku sudah tak sanggup menghitungnya, tapi aku belum terbiasa, tidak mau tepatnya, aku selalu berpikir untuk mengakhiri ini semua tapi tak tau bagaimana caranya, jika kalian menyuruhku ke pesikiater, sudah, aku sudah melakukanya, mereka bahkan muak melihatku, aku hanya di suruh untuk minum obat penenang sialan itu, kalian tahu? Itu sama sekali tak menyembuhkanku, mereka hanya bisa membuatku tenang sementara, faktanya semua itu membuat masalah baru yaitu kecanduan obat terkutuk itu.

Aku hidup dengan ketakutan hampir sepuluh tahun, dapat kau bayangkan itu? Usiaku masih 7 tahun saat diam-diam trauma itu tumbuh dalam hati dan mengakar di memori otak ku. Jika saat itu tema-temanku sangat senang saat bel sekolah berbunyi, sebalik nya, aku membencinya, karena aku harus pulang kerumah.

Aku menarik selimutku hingga menutup kepalaku berharap rasa kantuk mulai menyerangku, malam itu sebelum benar-benar kembali tidur, aku telah memutuskan untuk melakukan sesuatu pada trauma ku itu. Jika bahkan makhluk bernama dokter tak bisa memberi solusi, maka kurasa Tuhan tak akan keberatan jika aku memutuskannya dengan caraku sendiri.

                                                                        ###

Jawa tengah, 2011

“tapi Hana mau yang biru!!!”

“nggak!!! Pokoknya aku yang biru...” kak Kara berlari membawa kaus kaki baru warna biru itu, aku mengejarnya sekuat tenaga, tapi karena peralatan di rumah kami sangat banyak, aku tersandung salah satu kaki meja dan terjatuh, aku menangis keras, bunda yang mendengar tangisanku keluar dari kamar dan menghampiriku.

“Hana kenapa?”

“Hana mau kaus kaki yang warna biru bun...” aku merengek

Bunda menghampiri kak Kara di ruang tamu, ia mencoba membujuk kakak untuk mengalah dan memberikan kaus kaki biru itu, tapi selalu dapat kutebak apa yang terjadi setelah itu, yang terdengar hanya teriakan dan suara barang-barang yang terlempar.

“Hana ngalah sama kakak ya.....” bujuk bunda sambil mengelus rambutku

“tapi Hana duluan yang pegang kaus kaki nya bun...” rengek ku

“iya bunda tahu, Hana tahu kan? Kalau Allah suka sama orang yang mengalah...”

“tapi bun.....”

“Hana anak baik kan??”

Ah, siapa yang dapat menolak suara lembut bunda, senyum itu selalu membuatku tunduk, aku melakukanya karena bunda, ya, dia satu-satunya alasanku mengalah pada kak Kara, karena terakhir kali aku tak mau mengalah dengan nya, kakak mengahancurkan banyak barang dirumah dan berkata kasar pada bunda, saat kulihat mata bunda, mata itu sudah basah karena air mata.

                                                                        ###

Pagi hari rumahku telah sibuk dengan berbagai bunyi, dari mulai peralatan dapur yang saling beradu, ayam peliharaan tetangga sebelah, hingga teriakan Liya karena digoda kak Gibran, satu-satu nya lelaki  dirumah kami. Pagi ini aku langsung bersiap-siap untuk acara wisuda sekolah, dan itu berarti aku tidak ikut campur urusan dapur.

Karena kak Gibran telah memikirkan biaya hidup kami selama ini, jadi aku dan Liya berbagi tugas untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, kami memasak, mencuci, mengepel, semua pekerjaan, lelah, kadang perasaan itu muncul tapi kami selalu menyemangati. Jika perasaan itu muncul, aku dan Liya akan mulai bernyanyi sekencang-kencang nya seperti orang gila, dan tertawa bersama.

“kakak berangkat jam berapa?” tanya Liya dengan piring penuh nasi goreng ditangan nya

“jam 7...” jawabku

“kak Gibran dateng kan?” kataku sambil mengunyah sarapanku

“tentu tuan putri...”jawabnya “tapi kakak bakalan telat, karena harus ke kantor sebentar”

“nggak pa pa...” aku tersenyum

Kami menghabiskan sarapan kami dengan cepat, aku dan Liya berangkat naik agkot bersama, dia turun sebelum aku, dia melambai dan berteriak “kak Hana, semangat!!!” aku tersenyum, senyum getir mengingat sepertinya semangat hidup telah hilang dari diriku.

Lima belas menit kemudian aku tiba di depan gerbang sekolah, disana telah ramai oleh teman-teman angkatanku dan orang tua mereka, “Hana!! Kesini....” teriak teman-temanku. Aku menghampiri mereka berusaha tersenyum setulus mungkin, ku katakan pada diriku, “untuk moment ini saja, tersenyumlah!”

                                                                       

###

Jawa tengah, 2014

Awan hitam menggantung di langit kota kecil kami, angin berhembus begitu kencang membuat pepohonan di depan sekolah seperti akan tercabut dari akarnya. Hujan deras turun tepat saat bel pelajaran terakhir kami, aku sempat khawatir akan beberapa hal, karena kak Kara berjanji akan menjemputku saaat pulang nanti, bagaimana kalau dia kehujanan karena saat berangkat sekolah tadi, ia juga tak membawa jas hujan.

Setelah bel panjang berbunyi, aku langsung menuju gerbang sekolah, menunggu kak Kara, aku memeluk bahuku erat, udara dingin menusuk tulangku. Setelah setengah jam menunggu, sibil, teman sekelas ku menawari untuk pulang bersama mobil orang tuanya, tapi aku tak dapat mengingkari janjiku, aku takut betapa kecewanya kak Kara kalau tau aku sudah pulang.

Kini sore menjelang, aku telah menunggu lebih dari tiga jam,dan sepertinya hujan tak menunjukkan i’tikad baiknya untuk berhenti, aku benar-benar menggigil, mataku mulai berkunang-kunang saat samar-smar kulihat sebuah motor mendekat, ayah, ia datang menjemputku.

“ ya Allah, bibir kamu udah biru han, kenapa gak pulang naik angkot?”

“tadi kak Kara janji mau njemput...” jawabku degan suara bergetar

“huh....,ayo pulang” ia memakai kan helm dan jas hujan padaku

Sesampainya dirumah kulihat kak Kara menonton TV, ku lepas sepatu dan kaus kaki basahku lalu cepat-cepat menuju kamar mandi. Aku baru akan melepas seragamku saat kudengar ayah memarahi kak Kara, karena bukannya menjemputku, ia malah bermain ke rumah temanya seusai pulang sekolah tadi.

Setelah mandi aku membuat teh untuk menghangatkan badanku, tiba-tiba kak Kara menghampiriku di dapur

“kamu bego atau apa sih??” tanya nya setengah berteriak

“maksudnya??”

“kalo tau aku nggak dateng ya naik angkot!!”

“tapi tadi kakak udah janji...”

“huh....”

Ia berlalu begitu saja, masuk kamar dan membanting pintunya hingga terdengar seperti petir di tengah hujan, sedangkan aku? Membeku di dapur dengan perasaan yang campur aduk, aku tak berpikir banyak saat menunggu di depan sekolah tadi, aku hanya tak ingin dia nanti kecewa, itu saja.

Ku ambil botol kecil di atas rak dapur, dadaku mulai sesak, air mataku mengalir deras, aku tahu, aku harus cepat meminumnya sebelum semua bertambah parah.

                                                                        ###

“ciye...udah lulus...”goda kak Gibran saat kami menuju parkiran

“apa sih kak...,eh iya kak katanya kak Kara mau pulang hari ini ya???”

“iya katanya sih gitu...”

“eh hmmm kayaknya aku pulang telat deh kak...”

“lho kenapa??”

“mau ke rumah temen dulu...”

“oh, ok jangan malem-malem ya....”

“sipp boss!!!” jawab ku sambil homat

Ku lihat punggungnya mulai menjauh bersama suara motor bebek tua warisan ayah kami, “maafin aku ya kak” gumamku.

Ku langkahkan kaki menuju halte bus di ujung jalan, aku duduk bersama seorang ibu paruh baya yang menggendong anak kecil, karena ia sibuk mengurus anaknya yang sedari tadi rewel, tak sengaja ia menginjak kaki kiriku

“ah...”rintihku refleks

“maaf ya mbak, maaf...”ucap ibu itu dengan air muka yang tulus

“gak pa pa kok buk...”jawabku sambil tersenyum

Ibu itu kembali sibuk dengan anaknya, aku menatap wajah teduhnya, dan bergumam “ah, andai semua orang dapat mengucapkan kata maaf semudah itu...”, bus kami tiba lima menit setelah itu, tak banyak orang di dalamnya, hanya beberapa siswa dari sekolah lain dan dua laki-laki paruh baya, bus mulai melaju lambat.

Aku turun didepan sebuah gerbang besi yang mulai berKarat di kedua engselnya, tertulis jelas disana “pemakaman islam sukoharjo”, aku bejalan memasuki gerbangnya, menyusuri jalan sempit ditengah-tengah ratusan makam.

Ku hentikan kakiku saat mulai tiba dibawah sebuah pohon kamboja, kuambil tempat duduk kecil dibawahnya dan kutempatkan disamping dua makam, kuletakkan bunga yang sedari tadi kubawa dibawah kedua batu nisannya, kurapal kan beberapa do’a dan surat yasin untuk kedua penghuninya.

Setelah selesai, ku tatap kedua makam itu, lama, sebelum aku mulai menyapa keduanya “ayah, bunda gimana kabarnya??” kuletakkan tanganku di atas batu nissan ibuku dan mulai menangis.

                                                                        ###

Jawa tengah, 2016

“aku berangkat sekolah bareng ayah ya....” rengek ku pada ayah

“nggak boleh!! Aku yang bereng ayah...” teriak kak Kara

PertengKaran di rumah kami dimulai pagi ini hanya karena masalah yang sebenarnya sepele itu, kak Kara tak mau mengalah begitu juga aku, ia mulai membanting barang-barang dirumah kami, seperti biasa bunda selalu menyuruhku untuk mengalah, begitu juga ayah, bukannya aku tak mau mengalah, sudah hampir dua bulan aku mengalah padanya dan berjalan ke sekolah, tapi karena hari ini adalah hari mengambil raportku aku hanya ingin sekali ini saja berangkat bersama ayah.

“tapi yah, kali ini aja...hari ini pengambilan raport....”

“iya ayah tahu tapi kakak mu....”

Namun aku sebenarnya akhir dari setiap pertengKaran kami adalah, aku harus mengalah, dan bunda selalu bilang “Allah suka dengan orang yang mengalah” dan aku tak bisa membiarkan bunda menangis karena kata-kata kasar kakak ku.

Namun saat itu aku sadar orang tuaku membesarkan seorang monster, semakin mereka menyuruhku mengalah pada kakak semakin ia tumbuh menjadi manusia egois yang tak punya rasa kasih sayang pada saudaranya sendiri. Kutahu itu karena tatapan kakak saat melihatku dan senyum itu, senyum yang dilemparnya tujuh tahun yang lalu sesaat sebelum aku masuk terowongan, aku tahu maksudnya sekarang.

Begitulah traumaku sebenarnya diam-diam tumbuh, setiap kami bertengkar, dadaku sesak, aku membencinya, karena bahkan sekalipun ia tak pernah merasa bersalah, tapi disaat yang sama aku masih menyayanginya dan diam-diam mendo’akan yang terbaik baginya disetiap do’aku. Kalian tahu? Benar-benar tersiksa aku dengan kondisi itu? belum lagi mimpi-mimpi buruk yang menjadi semacam teman tidurku.

Jika orang lain mungkin melihatku sebagai anak yang baik karena selalu mengalah, sebenarnya aku juga membesarkan monster dalam diriku, disana, di salah satu sudut hatiku, ia bernama kebencian dan ia tumbuh bersama trauma yang tak mau pergi dari memori otak ku. Dia tumbuh, semakin besar seiring banyaknya luka yang di buat kakak perempuanku itu.

 

                                                                        ###

“lho mbak Hana masih disini? Udah sore lho mbak...” sapa pak soleh, pejaga makam

“eh sebentar lagi ya pak...” ucapku sambil mengusap airmata

Ku usap nissan ayah dan bunda, membersihkan beberapa rumput liar lalu mulai berdiri

“ayah, bunda, maafin Hana, kalian tahu kan betapa menderitanya Hana selama ini?, dan sekarang udah saatnya bagiku untuk mengakhirinya......”

Kulangkahkan kaki menjauh dari dua makam orang yang selalu kurindukan itu, menjauh sejauh mungkin sebelum sisi lemah dalam diriku menghancurkan rencanaku. Aku naik bus dan duduk tepat dibelakang supir, kuambil hanphone dari tas, dan ku ketik sebuah pesan

“kak Kara, tolong jangan pulang dulu, tunggu di stasiun, ada yang mau aku omongin...”

Tak berapa lama bunyi pesan masuk terdengar...

“oh, tapi cepet kalo nggak awas...”

Ku matikan handphone dan menyimpanya dalam tas.

                                                                        ###

Jam menunjukkan pukul 5 sore saat aku sampai di stasiun, tak begitu ramai hanya sebagian orang yang menunggu kedatangan kereta selanjutnya, kutemukan kak Kara duduk di salah satu bangku dan memanggilnya.

“kakak....”

“kok lama banget sih...”jawabnya ketus “mau ngomong apa??”

“bisa anter aku sebentar gak?”

“kemana??”

“udah ikut aja...”

Aku mulai berjalan ke arah utara stasiun, dan melambai pada kak Kara untuk mengikutiku, berjalan melewati rel tua dan rumput-rumput liar yang mulai meninggi, kak Kara sibuk dengan handphone nya, jadi ia tak banyak bertanya.

Tempat yang kutuju mulai terlihat, terowongan yang banyak muncul di mimpiku, banyak tumbuhan liar yang menggantung di atasnya, aku mulai mendekati mulut terowongan saat kak Kara mulai bertanya

“ngapain kesini...?”

“kemarin aku dan teman ku kemari, tapi barangku ketinggalan...”

Aku memaksanya ikut masuk, berjalan perlahan, aku ingat bau ini, bau yang kucium 10 tahun lalu sebelum aku dihajar babak belur.

“kakak inget nggak 10 tahun lalu kita pernah kesini...” aku mulai berhenti dan berbalik menatapnya

“hmm???”

“saat kakak nyuruh aku masuk dan aku dihajar sampai babak belur”

“ha! Aku inget,” ia tersenyum, seperti senyum 10 tahun lalu

“apa itu lelucon bagi kakak??” aku mendorongnya hingga jatuh

“ada apa dengan mu?? Itu kan hanya bercanda” jawabnya sambil meringis menahan sakit karena jatuh menyentuh rel kereta

“ha! Kakak tahu? Apa yang kakak anggap lelucon itu benar-benar membuatku menderita??, apa kakak pernah sadar bahwa aku selama ini harus minum obat penenang selama 10 tahun karena itu??” bibirku bergetar saat mengatakanya

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ku

“Hana!! Apa yang akan kamu lakukan dengan pisau itu??” ia mulai terlihat ketakutan

“apakah kakak sadar bahwa 17 tahun ini aku selalu mengalah dengan kakak??,apakah kakak gak pernah merasa bersalah dengan itu??”

“apa yang kau bicarakan??”

“seharusnya kau tahu apa yang ku bicarakan, kenapa kau sangat egois?? Bahkan kau tak pernah merasa bersalah saat kau salah...”aku mulai menangis “apakah sangat berat mengucapkan kata maaf...???,kau tahu betapa menderitanya aku???”

Aku duduk diatas tubuh kakak ku dan bersiap menghunus pisau tajam tepat kebagian perutnya, “maafkan aku ayah bunda...”gumamku. Sebelum sempat pisau itu menyentuh perutnya, aku berhenti,

“maafkan kakak, Hana....,maafkan kakak....” kakak ku menangis keras

“kenapa?” air mataku keluar lebih deras “kenapa membuatku menunggu selama 10 tahun untuk mendengarmu mengucapkan kata itu??” pisau yang kupegang jatuh ketanah, aku berdiri menatapnya “kenapa???”

“maafkan kakak, Hana...kakak salah...maaf membuatmu menderita selama itu...”

Aku mulai menjauh, meninggalkanya, beberapa langkah, lalu aku berbalik menatapnya lagi, ia masih menagis...

“jika kau memang merasa bersalah, pergi! Jangan pulang, pergilah sejauh kau dapat pergi, jika kau pulang, itu hanya membuatku semakin membencimu”

“maafkan kakak, Hana.....”

Aku masih mendengar teriakanya bahkan setelah keluar dari terowongan itu, kupaksa kaki ku untuk melangkah, menjauh dan semakin jauh.

                                                                        ###

Satu minggu setelah kejadian itu, aku tak pernah mendengar kabarnya, kak Gibran mencoba menghubungi kak Kara namun hanphonenya tak aktif, aku juga tak peduli, namun pagi itu, saat seseorang menghubungi kak Gibran, ada perasaan yang menyerang dadaku.

Kami semua, aku, kak Gibran dan Liya berlari sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan yang tak banyak di kunjungi orang di ujung lorong, ada tulisan di atas pintunya “kamar mayat”. Kami bertiga masuk, didalam ada sekelompok petugas kepolisian menunggu kami.

“kami menemukanya bunuh diri dengan pisau di terowongan tua dekat stasiun...” polisi mulai menjelaskan kejadian. Namun sudah jelas bagiku, kurasa aku tak butuh penjelasan, kubuka kain putih yang menutup tubuhnya, kurasakan mataku mulai terasa hangat dan aku mulai menangis.

Ah, kenapa hubungan keluarga serumit ini?? Aku tak tahu harus apa, lututku lemas, “maafkan Hana kak....”

-TAMAT-

                                   

Demak, dimalam dingin bulan februari jam 00:19 WIB

16-02-2018

  • view 150