permen dan AL-anwar 3 putri

Nadae epic
Karya Nadae epic Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Desember 2016
permen dan AL-anwar 3 putri

Permen dan PP.Al-anwar 3 putri
(sebuah catatan perjalanan)
Oleh: Ifadhun Nada*
Rabu, 12 Oktober 2016
Aku berdiri ditepi jalanan menunggu bus bersama ke-empat sahabat ku. Matahari, udara dan laut pagi itu tersenyum pada kami. Bersama tas besar yang kami bawa, kami tetap menunggu. Satu, dua, tiga, aku menghitungnya. Entah kalian percaya atau tidak, aku menghitung setiap detik terakhir ku di sini. Sarang, ya, sekarang aku menginjak bumi nya para santri. dibawah langit sarang segalanya menjadi berbeda menurutku, ada sesuatu darinya yang tidak bisa di lupakan begitu saja. Sarang,ya, aku sudah merindukanya bahkan sebelum aku meninggalkannya.
Hitunganku sampai pada angka 900 detik saat kulihat teman ku melambai pada sebuah bus dengan tulisan Surabaya-Semarang di depanya. Kami berpisah disini, walaupun berat akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku “sampai jumpa lagi ya, mbak. Jaga diri baik-baik”ucapku dengan senyum yang sangat terlihat kalau dibuat-buat.”jangan kapok buat berkunjung lagi ya...”balas ke dua teman ku. Aku tak tau sejak kapan kami menjadi teman. Pertemanan kami di mulai dari satu kata, yaitu santri. Dengan predikat itu semuanya berjalan begitu saja. Didepan bangunan dengan tulisan PP.Al-anwar 3 putri itu, kami saling melempar senyum terbaik kami sebagai salam perpisahan.
Sepanjang jalan, aku menatap laut biru yang membentang sepanjang jalanan sarang. Aku tersentak oleh sebuah suara,“tiga hari itu cepet banget ya...” ternyata,temanku yang duduk tepat disampingku. Ia mengatakannya dengan sesekali melihat keluar jendela.”iya,cepet banget” jawabku. Aku baru menyadari itu, tiba-tiba memori tentang 3 hari kunjungan kami ke PP.Al-anwar 3 Sarang, seperti film dokumenter yang berputar di otak ku. Sarang yang kurindukan bahkan sebelum aku meninggalkanya itu,meninggalkan jejak yang dalam dalam memori otak ku.
###
Sarang,9Oktober 2016
Bus yang kami naiki berhenti, setelah sebelumnya kami berdebat dengan kernet bus terlebih dahulu tentang lokasi yang kami tuju. Tepat didepan kami, berdiri bangunan besar dengan cat hijau cerah. Terukir jelas disana, ”PP.Al-anwar 3 putri Gondan Kalipang Sarang”. “kita sampai” ucapku tersengal-sengal. “akhirnya, sarang....”temanku menimpali, ia setengah berteriak hingga ibu penjaga warung keheranan melihat kami. Tiga makhluk asing dengan sarung dan seragam almamater, berdiri tidak jelas di pinggir jalan. Mungkin itu cukup menjelaskan ekspresi aneh ibu itu saat melihat kami. Menurut ku ekspresi kami terbilang wajar, karena kami baru saja turun setelah sebelumnya menempuh perjalanan Pati-Sarang selama 5 jam.
Saat kami telah masuk kedalam pondok, seperti pondok di jawa pada umumnya,suasana keakraban sangat terlihat. Sambutan hangat menjadi menu pembuka sebelum kami “mondok” disini. Ibu nyai Nadia djirjif Lc. Atau yang akrab dipanggil mamah Nadia selaku pengasuh pondok sangat hangat menyambut kami. Sesuai rencana, kami akan mondok di sini selama tiga hari kedepan. Pondok dengan kurang lebih 300 santri ini, berdiri pada tahun 2013. Ide pendirianya sendiri tak jauh dari pendirian STAI AL-anwar. Jadi dapat di bilang, ini adalah asrama kampus. Namun jangan kira ini adalah asrama yang biasa ada di kampus-kampus lain. pondok ini lebih dari sekedar asrama bagi mahasiswa.
Aku menunggu seorang kawan yang katanya sedang ada kelas di kampus. Setelah menunggu cukup lama aku melihatnya masuk kedalam kompleks pondok. Setengah terkejut aku menyalami nya dan menanyakan kabar. Bukan karena penampilan yang berubah, namun karena sarung yang dipakainya begitu mengganggu pikiran ku. Akhirnya kutanyakan padanya,”mbak kuliyahnya pakai sarung?”.”iya” jawabnya santai. Ia hampir ketawa melihat ku setengah tidak percaya.
Kami tetap dianggap santri di pondok ini, artinya kami harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah tersusun. Seperti saat ini kami baru saja mengikuti jama’ah maghrib yang di imami sendiri oleh mamah nadia. Selanjutnya tadarrus Al-qur’an bersama sambil menunggu waktu jama’ah isya’. Sekolah diniyyah dimulai pada jam 20:00 tepat. Aku masuk dikelas 2b bersama temanku. Kelas ini rata-rata di isi oleh 15 sampai 20 santri. Malam ini kami belajar imla’. Setelah itu dilanjutkan dengan fiqh. Di kelas diniyyah ini pra santri diajari ilmu-ilmu agama dengan model pembelajaran salafi, yaitu dengan model bandongan. Dengan begini, walaupun sebagai mahasiswa, tapi penanaman nilai-nilai pesantren dengan kitab kuning sebagai pijakan sangatlah kuat. namun namanya santri tetaplah santri. Ngantuk seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kami. Jadi ada saja yang ngantuk dikelas ini, tak terkecuali aku.
###
“Pasujudan...!” suara kernet bus membuyarkan lamunanku. Kami harus istirahat sejenak di pasujudan sunan bonang karena teman ku tak sanggup melanjutkan perjalanan. Bus yang kami tumpangi lebih ugal-ugalan dari yang kami duga. Sehingga keluarlah isi perut temanku itu. Kami istirahat sambil melihat foto-foto selama kami mondok di Al-anwar. Semua orang sukses memamerkan senyum terbaiknya di setiap foto yang kami ambil.
###
Sarang,10 Oktober 2016
Udara dingin menusuk tulang kami, dengan hanya beralaskan karpet tipis kami tetap tidur dengan pulasnya. Matahari masih tenggelam diperaduan dan muadzin pun masih enggan mengumandangkan panggilan sucinya, namun ada suara lain yang membuat kami terbangun. Suara dentingan piring dan sendok serta gelak tawa para santri.”ini masih belum shubuh kan?” tanya teman ku.”belum kayaknya...”jawabku. aktivitas di pondok ini dimulai pada saat adzan shubuh berkumandang sampai jam 23:00 malam. Namun kebanyakan para santri bangun sebelum shubuh untuk sekedar sholat malam atau santap sahur. Seperti malam ini, karena besok adalah tanggal 9 muharram, hampir seluruh santri berpuasa.
Jam menunjukan pukul delapan saat teman ku mengajak kami untuk ikut melihat kampus STAI Al-anwar. Pikiranku telah berimajinasi tentang seperti apa kampus yang dihuni oleh para santri itu?.semuanya terjawab saat kami sampai disana, suasana pondok masih sangat terasa bahkan aat kita masuk ke kampusnya. Hampir seluruh mahasisiwa disini bersarung, berkerudung rapi dan pakaian yang sangat sopan. Kami sempat heran, kenapa harus sarung? Ternyata jawabanya sangatlah simple,” Sarung adalah identitas bagi santri”.Aturan ketat tidak boleh berhubungan dengan ajnabi (baca: lawan jenis) juga terjaga disini. Tiap kelas di sini digolongkan berdasarkan jenis kelamin.
Kami sempat diajak berkeliling kampus, salah satunya perpustakaan. Tidak begitu besar memang, hanya beberapa rak yang tersusun dengan rapi. Namun, bisa dibilang koleksi didaalamnya sangat lengkap. Dari kitab klasik sampai buku kontemporer ada disini.”perpaduan salafi dan kholafi” jelas kawanku dengan gaya tour guide nya.”disini kami memadukan kitab klasik dengan buku kontemporer agar mahasiswa tetap menjadi santri yang memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan, sekaligus agar mereka tak gagap menghadapi zaman global”. Kami ta’dzim mendengarkanya, dengan sesekali melihat koleksi yang ada. Aku sempat membaca buku “habis gelap terbitlah terang”. kumpulan surat R.A Kartini itu selama ini kukira hanya dongeng masa kecil karena aku tak pernah benar-benar melihatnya.
Tepat setelah ashar, pengajian kitab kembali berlangsung. Kali ini fathul qorib menjadi kitab yang akan dikaji oleh K.H.Abdul Ghofur Maimoen atau yang akrab di sapa Gus Ghofur. Dengan bahasa yang menarik beliau menjelaskan setiap kata dari nahwu, shorof, hingga fiqhnya. Kegiatan hari ini kami tutup dengan musyawarah kitab. Tak berbeda dengan pondok induknya yaitu Al-anwar 1 yang di asuh oleh KH.Maimoen Zubair, disini kegiatan musyawarah kitab juga menjadi makanan sehari-har bagi para santri. Selain itu juga ada diskusi mingguan dan bedah buku sebagai penyeimbang pengtahuan klasik dan modern.
###
Sarang,11 0ktober 2016
“Santri itu seperti permen” jawab temanku yang sekaligus ketua pondok Al-anwar 3 itu. Aku hampir saja tersedak saat mendengarnya. “permen?” tanyaku. “iya permen” jawabnya mantab. Hari itu aku memang sedang bertanya beberapa hal tentang pondok ini.
“setidaknya itulah petuah Mbah Maimoen saat merintis pondok ini, beliau berkata bahwa santri itu seperti permen. Bagaimana permen itu dapat menarik orang? Tentu dengan bungkus yang baik dan menarik. Terlepas dari rasa permen itu sendiri tentunya.”kami tetap mendengarkan temanku yang sepertinya sangat bersemangat.
“santri dalam hal ini bagaikan permen yang sudah memilki rasa yang manis dan enak sebagai bentuk dari pengetahuan agama yang mereka kuasai. Namun belum memiliki bungkus yang menarik sehingga tidak di pandang sebelah mata. Maka dari itu beliau berinisiatif mendirikan STAI dan PP.Al-anwar sebagai usaha agar santri tidak lagi dipandang sebelah mata”
Setelah obrolan panjang tentang santri tersebut, aku menjadi semakin kagum pada pondok asuhan KH.Abdul Ghofur Maimoen tersebut, aspek akrom bagi seorang hamba adalah hal yang utama namun sholih dan bermanfaat bagi sesama juga menjadi hal yang sangat penting. Disini, pondok Al-anwar 3 telah menerapkanya. Menjadikan kitab kuning sebagai pedoman agar santri menjadi akrom ‘indAllah, dan buku-buku kontemporer sebagai jalan agar santri juga menjadi sholih ‘indannas. Inilah alasan kenapa kukatakan bahwa pondok ini lebih dari sekedar asrama bagi mahasiswa.

###

Pati,12 Oktober 2016
Aku melihat itu, tulisan “selamat datang di kota Pati”. Aku tersenyum saat membacanya, “kita pulang” gumamku. Kembali kurasakan udara pati yang hangat. Mungkin sarang telah meninggalkan jejak yang mendalam di memori, namun kehangatan pondok kami tetap menjadi rumah kedua yang juga kami rindukan. “Sampai mana?” tanya kawanku yang baru terbangun dari tidur pulasnya. “udah OTW pondok lagi” jawabku. Kami tiba di terminal Pati saat jam menunjukan pukul 10 pagi. “kajen, kajen, kajen!!!” teriak kernet salah satu bus. Tanpa komando kami langsung naik dan mencari tempat duduk terbaik.
Di perjalanan pulang, aku melihat anak kecil yang sedang memakan permen lolipop. Aku tersenyum melihatnya. “Sarang,bagai mana kabarmu?” gumamku.”bagaimana kabar Al-anwar 3?” Sepertinya aku terlalu cepat bertanya kabar. Terimakasiah atas pelajaran yang berharga itu. Mungkin setelah ini mimpi-mimpi tentangmu akan menghiasi malam-malam ku.
Sesaat kami telah sampai di gerbang pondok, “huh, akhirnya kembali ke rumah....”ucapku, disusul oleh senyuman kedua temanku. Siang itu langit, matahari dan awan pun ikut tersenyum menyambut kepulangan kami.

*Santri pondok pesantren Mansajul Ulum putri Kajen Margoyoso Pati

  • view 459