Teman Penunggu Pusara

nabila zia
Karya nabila zia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 09 Maret 2016
Teman Penunggu Pusara

Gelap
Malam ini gelap, bukan hanya karena langit memang bergantikan temaram. Namun juga karena cahaya penerang yang biasa menerangi kamar kecilku juga ikut temaram.
Hai apa kabar kamu teman?
Aku sungguh tak bisa membayangkan bagaimana keseharianmu dalam pusara sana, gelap, sesak, sempit,sendiri.
Kalau saat ini kamarku gelap aku masih bisa meneranginya dengan nyala handphoneku.
Tapi bagaimana denganmu disana?
Apakah kau kesepian?
Apakah kau takut?
Apakah kau menangis sendu?
Apakah dan apakah?
?
Ah, kamu tahu hari ini aku teringat dengan keadaanmu di pusara sana.
Apakah tinggal dalam pusara sana menyenangkan. Andai kamu bisa sejenak mampir dan mengatakan bagaimana rasanya hidup di pusara sana. Mungkin akan melegakan hati ini sedikit.
Hari ini ada elegi fajar yang membuatku meneteskan air mata.
Aku takut teman dengan keadaan dalam pusara itu.
Apalagi dengan bekal imanku yang masih acak-acakan ini.
?
Hai teman penunggu pusara, Sepertinya aku memang lupa.
Kau pernah mengatakan takut untuk mendatangi pusaramu lebih dulu. Namun ketakutanmu itu kau rubah menjadi iman-iman yang terus kau kuatkan. Kau terus berusaha mendekati penciptamu. Kaupun perlahan semakin jatuh cinta dengan penciptamu .
ketakutanmu akan pusara justru membuatmu semakin jatuh cinta pada penciptamu. Dan pusaramu kini adalah bentuk pertemuanmu dengan penciptamu.
?
Baiklah teman, Agaknya kematian memang hal yang paling ditakuti para manusia.
Bahasan tentang kematian adalah bahasan yang paling dihindari.
Namun bukankah kematian itu pasti. Kematianmu dan kematian pada elegi fajar kali ini memperingatkan bahwa mati itu pasti. Dan tinggal bekal apa yang ingin kau bawa. Jadikan rasa takutmu itu menjelma menjadi iman yang kuat. Semoga kelak ketika aku menyusulmu dalam pusara , itu menjadi akhir yang indah bagiku di dunia dan awal yang indah pula di akhirat sana
?
Teruntuk teman penunggu pusara
Doaku selalu ku iringkan untuk melapangkan pusaramu kini
?

  • view 77