Semenjak Mencintaimu Tuan

nabila zia
Karya nabila zia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 Maret 2016
Semenjak Mencintaimu Tuan

Apa yang Tuan ingat tentang hujan?

Ingatkah Tuan bahwa saat hujan ada perasaan yang tumbuh.

Tumbuh dari kebaikan Tuan menawarkan payung untuk berteduh melewati deru rintik hujan kala itu.

Mungkin Tuan lupa, tak apalah.

Ah, memang selalu begitu ya orang-orang baik itu.

Terlalu gemar menawarkan kebaikannya dan melupakannya kemudian.

Padahal kebaikannya telah menumbuhkan perasaan pada hati-hati yang tertawar oleh kebaikannya.

Semenjak hujan 1092 hari yang lalu, perasaan itu tumbuh Tuan.

Apakah Tuan merasakannya?

Tuan, semenjak mencintaimu ada banyak hal yang ingin aku rubah agar aku bisa selalu sepertimu berbagi kebaikan selalu.

Semenjak mencintaimu Tuan rasanya bila aku hanya pergi berdua dengan kawan laki-laki, aku selalu merasa takut. Takut bila kau cemburu.

Semenjak mencintaimu Tuan aku selalu ingin memperbaiki diriku.

Karena aku ingin bisa menjadi kawan perjalananmu kelak nanti.

Perjalanan melewati hujan bahkan terik matahari.

Namun, kini aku takut Tuan bila perasaan itu yang kini tumbuh semakin kuat harus hancur terhempas air bah.

Karena aku tahu Tuan, kebaikanmu pada semua perempuan yang kau temui membuat banyak hati tertawan oleh kebaikanmu.

Selama ini aku menunggu Tuan menawarkan payung kembali.

Payung yang berbeda dari 1092 hari lalu.

Aku menunggu Tuan menawarkan payung itu untuk berjalan bersama, bukan sendirian.

Sungguh Tuan, yang aku takutkan kau tak pernah menawarkan payung itu untukku namun untuk yang lain.

Bagaimana mengatasi rasa takut ini Tuan?

Aku takut Tuan.

Setiap kali aku menitipkan pesan pada hujan.

Hujan hanya mengatakan padaku untuk bersabar.

Baiklah Tuan, sepertinya memang aku harus bersabar.

Bersabar akan perasaan yang segera ingin mekar bersama Tuan.

Dan mungkin aku harus sedikit demi sedikit memupus ranting yang mulai meninggi.

Agar bila nanti bukan Tuan yang datang menawarkan payungnya.

Aku tak bersedih terlalu lama.

Terima Kasih Tuan akan kebaikanmu yang membuatku banyak belajar akan makna bersabar, menunggu hingga merelakan.

Namun untuk hari ini aku masih menunggu Tuan.

Lekaslah datang Tuan .

?

Semarang, 6 Maret 2016

  • view 103