Hujan Akhir Februari

nabila zia
Karya nabila zia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 Februari 2016
Hujan Akhir Februari

Bagaimana jika kamu tahu ada orang yang tak pernah lelah menunggumu?

Padahal hanya menunggu makanannya datang saja dia sudah uring-uringan karena pikirannya tak mampu berdamai dengan perutnya yang terus bergejolak.

Namun untuk menunggumu datang kembali, dia berjanji tak akan lelah menunggu.

Katanya menunggumu itu menyenangkan

Menunggumu itu seperti menunggu hujan datang

Menyenangkan saja katanya, karena dia suka hujan.

Sembari menunggumu dia bisa hujan-hujanan.

Sudah 790 hari dia menunggumu dan dia masih menyukai hujan.

Padahal hujan yang datang bukanlah rintik kecil saja namun kadang rintiknya begitu deras.

Namun dia tak peduli. Katanya lagi,menunggumu selalu menyenangkan.

Hey, kamu masih saja diam disana dan membiarkan dia kedinginan di bawah hujan?

Hujan Februari ini begitu derasnya.

Tak khawatirkah kau bila dia jatuh sakit?

Kenapa kamu masih diam saja? Tak bisakah kamu menawarkannya payung untuk sejenak berteduh?

Dia memang tak pernah memintamu membawakan payung.

Dia tak pernah meminta apa-apa darimu sungguh, katanya.

Dia hanya meminta hujan di Februari ini jangan berakhir, karena dia masih ingin merapalkan doa-doa untukmu.

Katanya hujan itu kurir doa super kilat.

Hujan akan membawa rapalan-rapalan doa tentangmu pada Tuan Langit.

Dan katanya lagi hujan tak akan mampu membuat Tuan Langit menolak mengabulkan rapalan tentangmu.

Sadarkah kamu 790 hari sudah dia terus merapalkan doa tentangmu.

Ambillah payungmu dan dekatilah dia yang masih hujan-hujanan di luar sana.

Katakan padanya bahwa kamu ingin menemaninya menikmati hujan.

Dan merapalkan doa tentang kamu dan dia agar Tuan Langit segera menjalinkan tali ikat kebahagiaan untukmu dan untuknya.

Sudah sana, hujan Februari akan berakhir.

Jangan biarkan ia mengenang sendu hujan Februari.

?

?

?

  • view 222