Teruntuk Tuan Langit (2)

nabila zia
Karya nabila zia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
Teruntuk Tuan Langit (2)

Senja selalu menjadi waktu terbaik bagiku untuk menuliskan surat ini.

Tuan langit, akhir-akhir ini tak lagi kudapatkan rona wajah senja yang merah merona

Hanya ada wajah senja yang mendung. Ada apa gerangan dengan wajah senja?

Samakah wajah mendungnya dengan wajah mendung para manusia yang diliputi dengan banyak kecemasan.

Tuan langit, engkau pasti mengerti ada berapa banyak wajah manusia yang sedang dirundung mendung.

Bukan karena kesedihan semata namun karena kecemasan yang menggelayut manja di benaknya.

Tuan langit, manusia selalu diberi banyak kebaikan ya disbanding makhluk-makhluk lain.

Manusia diberi banyak pilihan akan hidupnya, dan manusia bebas menentukan pilihan mana yang akan ditapakinya.

Namun, sayangnya manusia itu kini cemas untuk melangkah akan pilihan mana yang ingin mereka pilih. Engkau tahu apa yang mereka cemaskan? Ah, aku rasa engkau mengerti apa yang mereka cemaskan? Ya, mereka mencemaskan konsekuensi-konsekuensi dari masing-masing pilihan yang diambilnya.

Itulah mendung yang sedang menggelayuti para manusia. Bisakah engkau memberikan sedikit obat mujarab pembuang segala kecemasan itu?

Mmmm, apa? Apa yang tadi engkau bilang?????????????????????????????????????????????????????????????????????

Kecemasan itu akan membuat manusia berfikir dan menyiapkan segala sesuatunya. Jadi kecemasan memang baik adanya. Itu katamu.

Hmm, baiklah aku coba resapi kata-kata itu.

Manusia akan selalu diuji dengan kekurangan, kecemasan, ketakutan, agar tahu sampai mana kadar keimanannya. Katamu lagi.

Memang, kecemasan membuat seseorang bergerak. Orang cemas menghadapi kehidupannya setelah kematian maka banyak orang berbuat baik dan mempertebal usaha ibadahnya.

Ada orang yang cemas bila jatuh miskin maka ia selalu bekerja keras untuk mencukupi kehidupannya agar tidak jatuh miskin.

Bila kau cemas maka bergeraklah, itu katamu.

Hmm, baiklah Tuan langit.

?

  • view 132