Teruntuk Tuan Langit (1)

nabila zia
Karya nabila zia Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 Februari 2016
Teruntuk Tuan Langit (1)

Tuan langit sepertinya mulai hari ini aku akan banyak bercerita banyak hal padamu.

Kau tak perlu membalasnya tuan langit, sudah menjadi teman yang baik untuk mendengarkan saja itu lebih dari cukup.

Karena mungkin bagi manusia hal tentang mendengarkan itu tak sepopuler dengan hal tentang berbicara.

Banyak pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar yang mengajarkan bagaimana berbicara yang mengagumkan, bagaimana membuat suara kita didengar. ?Dan semua orang sekan tertarik untuk menjadi seorang pembicara yang ulung. Apakah itu buruk? Tidak, aku tak mengatakannya buruk. Namun bila semua orang hanya ingin terus berbicara tanpa henti lantas siapa yang mau mendengarkan? Tak adakah? Ah, aku lupa bahwa kau jawabannya Tuan langit.

Tuan langit haruskah aku bersedih ketika ada yang tak mendengarkanku? Ah, iya aku lupa lagi bahwa aku tak boleh bersedih. Sekalipun banyak orang yang tak mau mendengarkanmupun pastilah ada setidaknya satu orang yang bersedia mendengarmu. Iya kan? Itulah yang selalu kau bisikkan padaku.

Tuan langit, maukah kau bisikkan satu hal yang mampu menghapuskan segala kesedihanku seketika.

?Kamu? jawabannya. Dengan melihatmu aku mampu bangkit dari segala kesedihanku. Tuan langit kau bagaikan obat penawar segala rasa resah, gundah, gelisah dalam hati ini.

Tuan langit, aku sering menitipkan pesan padamu. Sampaikah pesan itu padamu?

Hari ini aku menitipkan satu pesan padamu, lewat angin sang kurir. Kau tahu bukan setiap manusia memiliki ketakutan dan kecemasan. Kecemasan akan masa depan, akan jodoh yang tak kunjung datang. Namun ada makna kebijaksanaan yang aku dapat ketika memandangmu. Aku tak tahu entah darimana pesan kebijaksanaan itu datang padaku.

Tentang segala rasa cemas, tentang segala rasa takut, tentang waktu kapan jodohmu akan datang, tentang bagaimana caranya bahagia. Jangan khawatir teman, tadi Tuan langit membisikkan lewat burung yang terbang sendirian. Yakinlah akan dirimu sendiri dan Tuhanmu.

Bukankah Tuhanmu telah berjanji untuk menjamin segala kehidupanmu, bahkan seekor nyamuk saja sudah sangat dijamin hidupnya oleh Tuhanmu bahwa nyamuk itu tak akan kelaparan. Lalu kenapa kau masih khawatir, takut, dan cemas akan hidup ini?

Tentang kebahagiaan, jangan gantungkan kebahagiaanmu pada manusia. Jangan pernah bilang bahwa kau baru bahagia bila bertemu dengan jodohmu. Lantas berarti kau tak pernah bahagia selama ini dan kau tak bersyukur dengan anugerah dalam kehidupanmu. Bahagialah karena dirimu dan Tuhanmu.

Itu kata Tuan langit, terima kasih Tuan langit akan pesan tersirat yang kau berikan padaku.

Baiklah, hari ini sepertinya cukup.

Kita sambung lagi besok ya :D

  • view 141