Sepenggal Kisah Abu Ali

Nisrina S Nissinero
Karya Nisrina S Nissinero Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Juni 2016
Sepenggal Kisah Abu Ali

 

Percakapan antara Abu Ali (Ibnu Sina) dengan istrinya, Jasmine, pada suatu malam.

Abu Ali mengangkat kepalanya, mengamati langit yang penuh bintang. Lalu ia menoleh pada istrinya dan berkata, “Kau masih ingat apa yang pernah kukatakan bahwa aku bukan laki-laki yang bernasib mujur? Apakah kau percaya kata-kataku itu?”

“Sebagaimana Allah telah menciptakan dirimu berbeda dari orang lain dan menciptakan kemampuanmu yang juga berbeda dari yang dimiliki orang lain, maka begitu pula hidupmu yang juga tidak seperti hidup mereka,” kata Jasmine.

“Mengapa kesusahan dan penderitaan selalu menyertai hidupku? Sejak berumur 16 tahun, aku sudah tersesat dan terdampar di gurun pasir,” kata Abu Ali. Seperti perenang yang sedang mengarungi aliran air yang sangat deras, Abu Ali diam. Beberapa detik kemudian, ia kembali melanjutkan, “Tahukah kau betapa banyak rahasia yang disimpan malam? Aku selalu merindukan malam. Malam dan malam. Setiap malam berlalu, kerinduanku padanya semakin besar. Malam hampir mirip mukjizat, di dalamnya berbaur beragam benda dan segala sesuatu. Semuanya mirip. Saat malam, warna-warna menjadi hilang dan raja tenggelam dalam tidurnya, tak berbeda dari hamba sahaya. Saat malam, seorang ayah seperti anak kecil. Dunia pun berhenti bernapas. Andai saja manusia hidup pada malam hari selamanya.”

Mendengar kalimat panjang Abu Ali, Jasmine langsung menangis dan berkata, “Jangan bicara seperti itu lagi, Syekh. Saat kau bicara seperti itu, aku merasa seperti orang asing di hadapanmu. Aku mendengar suara dan seolah-olah itu bukan berasal darimu, padahal keluar dari mulutmu. Aku selalu berharap kau berbicara kepadaku tentang matahari, tentang air yang mengalir, tentang laki-laki yang berjuang melawan kezaliman, atau tentang orang yang selalu memerangi rasa sakit, lapar, dan penyakit. Aku selalu berharap kau berbicara tentang sesuatu yang membuatku terbiasa dengannya. Apakah kau tahu, saat kau bepergian maka akulah yang pergi? Saat kau berbicara tentang kematian, akulah yang sebenarnya mati. Aku mohon, Syekh……”

 

(Dikutip dari novel biografi karya Husayn Fattahi, Tawanan Benteng Lapis Tujuh)

 

Catatan dari pengutip:

Entah mengapa percakapan ini begitu merasuk dalam pikiran saya, mungkin karena dalam percakapan ini menunjukkan bahwa Abu Ali juga hanyalah manusia biasa. Pada saat masa sulit ia juga mengeluh, walau itu tak kemudian menjadikannya surut langkah untuk terus menjalani apa yang dicintainya, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada Al Qur-an demi kemaslahatan umat.

Selain itu, percakapan ini begitu mengena, mungkin juga karena pemahaman Abu Ali tentang malam. Karena menurut saya, malam memang menyimpan kemisteriusannya sendiri.

Juni ke-10
Na

Selamat Berbuka Puasa

Sumber gambar: www.comepeacefuly.blogspot.com

  • view 228