Menjadi Ekstrim Akibat Santapan Ekstrim

Nisrina S Nissinero
Karya Nisrina S Nissinero Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juni 2016
Menjadi Ekstrim Akibat Santapan Ekstrim

“Hmmm...rasanya nikmat sekali,  sensasi gatal yang agak panas namun terasa lembut di mulut.” Gumamku lirih tanpa mempedulikan tatapan tajam ayahku ketika kutelan bulat-bulat ulat api yang kutemukan di pohon kelapa belakang rumah kami.

“Manusia itu seharusnya makan apa yang wajarnya dimakan manusia.” Ujar ayahku sambil berlalu dengan emosi yang ditahan.

 Aku memang anak yang paling bengal di wilayahku. Aku tak pernah percaya pada nasihat orang tua atau nenek moyang. Apa yang mereka katakan selalu aku tentang. Larangan apapun selalu aku langgar. Aku anggap mereka hanya angin lalu.

Lama-kelamaan, ayah dan ibu tak lagi melarangku. Mereka kini diam. Apapun yang terjadi padaku, mereka diam. Bukannya merasa tak enak atau salah tingkah, aku malah semakin merajalela.

Hingga suatu sore seorang temanku yang hobi makanan ekstrim, mengajakku untuk pergi ke sebuah resto. Tempat makan itu khusus menyediakan menu makanan ekstrim seperti, kelabang panggang pedas, sate kalajengking, cobra rica-rica, ada juga sup kaki buaya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Awalnya aku merasa agak aneh, namun karena temanku mengajak ke sana secara berkala, maka aku jadi terbiasa. Dan lambat laun aku merasa berbeda.

Sejak merasakan perubahan itulah, untuk pertama kalinya aku merasa dibuntuti. Dalam mimpi aku merasa seperti dikejar-kejar.

Perilakuku juga semakin tak bisa diprediksi. Kalau dulu, meskipun aku sering menentang perintah orang tua, namun tak pernah sedikitpun keluar kata-kata keras dan kasar dari mulutku, paling-paling hanya diam dan pergi.

Namun sekarang amat berbeda, selain berkata kasar dan keras, aku juga sering merusak barang bila sedang marah. Pernah suatu ketika ibu kaget dan menangis, melihatku menggebrak meja makan karena kesal tak ada makanan di sana.

Sebenarnya aku sadar bahwa kelakuanku ini adalah karena aku terlalu sering makan makanan ekstrim. Benar kata ayah, bahwa apa yang kita makan akan mempengaruhi perilaku kita. Makan ayam, kita akan berperilaku seperti ayam, mempertahankan harta miliknya dengan sepenuh jiwa. Induk ayam tak akan pernah ragu menyerang siapapun yang akan mengambil anaknya, begitu pula seekor jago, akan menyerang ayam lain yang mengganggu betinanya.

Lalu bagaimana denganku? Aku amat suka dengan sate kalajengking dan rica-rica cobra. Ah, yang pasti sumbuku menjadi pendek, mudah marah dan tak segan-segan melemparkan cacian pada orang-orang yang ada di depanku.

Aku amat malu untuk mengakui bahwa apa yang dikatakan ayah benar adanya. Aku tahu ada yang salah dengan diriku, namun sepertinya hati nuraniku kalah oleh rasa makanan yang amat menggoda lidahku. Dan itu amat buruk, aku bisa merasakannya, ya karena mimpi itu datang setiap saat.

Aku ingat-ingat lagi, mimpi itu selalu datang di malam setelah aku menyantap makanan ekstrim tersebut.

Dan kurasakan akhir-akhir ini, sosok yang mengejar-ngejarku dalam mimpi semakin kerap datang. Tak peduli siang atau malam, setiap selesai santap ekstrim, selalu saja kantuk datang, dan sosok itu semakin lama semakin dekat, namun belum pernah sampai padaku.

Orang tuaku sudah angkat tangan, mereka benar-benar membiarkanku larut dalam duniaku sendiri sambil terus mendoakanku. Aku tahu itu.

Pernah aku melihat mereka berdua sedang sholat malam, walau lirih aku mendengar mereka menyebut namaku. Entah mengapa hatiku tak tergerak sama sekali untuk berubah, juga tak merasa kasihan pada mereka.

Tiba saatnya aku kuliah, dan ini adalah hal yang amat menggembirakan bagiku. Aku tak perlu kost, karena kampusku tak begitu jauh dari rumah. Teman-temanku bertambah, dan pergaulanku semakin luas. Hobiku tentang kuliner ekstrim semakin terbuka luas pemenuhannya.

Namun anehnya, mimpiku itu jarang datang lagi. Padahal saat ini, semakin sering aku mendatangi pusat-pusat kuliner ekstrim.

Aku hanya merasa, keadaan ini takkan lama. Karena setiap bangun dari tidur seperti ada yang mengintip dari sudut benak. Entah aku yang melupakan mimpiku, ataukah mimpiku yang ingin bersembunyi sejenak dariku?

Siang itu, saat aku berjalan sendiri di koridor kampus, aku mendengar suara,

“Tunggu sebentar lagi, Ga!” reaksiku segera menoleh, tapi tak ada siapa-siapa di sekitarku. Aku tercenung, angin lembut berdesir di belakang tengkuk. Tanpa sadar aku mengusap tengkuk dan berjalan dengan cepat menuju ruang auditorium, tempat kuliah umum oleh dosen tamu digelar.

Materi kuliah kali ini adalah tentang makan dan dimakan dalam hubungannya dengan perpindahan energi dari mangsa ke pemangsanya.

Bila energi yang ada dalam diri mangsa tersebut positif, maka bisa jadi energi positif tersebut akan berpindah dan mempengaruhi pemangsanya. Begitu pula sebaliknya.

Pikiranku langsung dipenuhi oleh binatang-binatang buas yang pernah aku santap. Namun tetap saja, egoku tak mau kalah. Aku menenangkan hatiku dengan cerita tentang singa ataupun harimau yang memangsa kijang atau rusa. Mereka tak lantas berubah sifat menjadi rusa.

Sang dosen tamu semakin asyik bercerita bahwa ada seseorang yang saking seringnya menyantap daging babi hutan dan ular, dia menjadi temperamental, tubuhnya sering merasa panas dan gigi taringnya terlihat semakin memanjang. Aku langsung merasa tertampar saat itu juga. Kuliah apa ini, kok sepertinya jadi ajang curhat metafisik. Aku langsung berdiri, lebih baik pulang daripada mendengar kuliah tidak bermutu seperti ini. Namun, tepat saat aku berdiri, mataku tertumbuk pada gambar kalajengking, kelabang, dan ular cobra di LCD Projector.

Aku seperti tersedot arus tanpa nama, aku merasa disentakkan dan terlempar dalam lorong gelap. Amat sangat gulita yang kurasa, degup jantungku terdengar membahana.

Kudengar suara derap kaki berlari di belakangku, “Siapa itu?” tanyaku dalam gelap.

Tak ada jawab. Aku jadi tersadar bahwa aku harus berlari pula, tapi kemana? Karena dimanapun tak kulihat setitik cahaya. Dan ketika kulihat ada setitik cahaya, semakin kupercepat lariku.

“Jangan ke sana!” ucap suara di belakangku.

Langkahku terhenti, aku hafal suara itu.

“Belum saatnya kau ke sana!” ucapnya lagi.

Aku semakin terdiam. Tiba-tiba kurasakan aliran hangat di sudut mataku. Aku jatuh terduduk, tak kuasa menopang tubuh. Rasa gatal, pahit, panas, dan sakit bercampur menjadi satu. Berkumpul di ulu hati dan perlahan namun pasti terdorong keluar oleh rasa mual luar biasa. Gumpalan hitam jatuh dari mulutku. Dalam temaram cahaya di ujung sana, aku melihat gumpalan itu terpecah menjadi kelabang, kalajengking, serta ulat api. Dan ular cobra berjalan menjauhiku dalam diam. Aku hanya bisa ternganga.

Duniaku kembali, lorong gelap itu telah lenyap, berganti dengan halaman rumahku. Ayah berdiri di depanku dengan pandangan prihatin demi melihatku memegang ulat api pas di depan mulutku. Perutku langsung mual lagi, dan secara refleks kubuang ulat api itu ke tumpukan sampah dedaunan di dekat kaki. Aku benar-benar mual. Ayah berlalu dengan wajah lega.   

 

Juni ke-7
Na

  • view 164