Dor!

Nisrina S Nissinero
Karya Nisrina S Nissinero Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Mei 2016
Dor!

Balon itu meledak di tangannya, satu...

Balon yang lain meledak lagi, dua...

Balon yang lainnya lagi juga meledak, tiga...

Aku masih mencoba diam. Namun aku tak bisa bertahan lagi ketika badut besar dengan senyum khasnya yang lebar, mendekatiku sambil membawa balon. Dia menyuruhku meledakkan sendiri balon warna-warni itu. Dan, bersamaan dengan itu, sebuah lengkingan tinggi keluar dari mulutku, mengagetkan semua orang sebelum semua tak lagi punya bentuk ditelan kegelapan. Satu hal yang pasti adalah: Pesta ulang tahunku kacau!

***

Saat terbangun, aku telah berada di kamarku, dengan ayah dan ibu yang duduk di sisi pembaringanku sambil menatap penuh perasaan bersalah.

Kau tahu apa yang paling ingin kulakukan saat ini? Rasa-rasanya aku ingin menembaki kepala semua yang hadir di pestaku tadi. Mereka tertawa bahagia, sedangkan aku menahan diri dengan siksaan balon dan badut tadi.

“Kami minta maaf, Nak. Kami tak tahu kalau kau takut balon dan badut,” ayah berkata dengan lembut, berbanding terbalik dengan ibu yang hanya diam menahan isak dengan wajah penuh kekhawatiran, membuatku hanya bisa mengangguk lemah.

***

Aku berlari-lari mendekati ayah dan ibu dengan tangan mungilku yang menggenggam es krim. Setiap Minggu pagi, kami bertamasya ke taman kota, tempat favoritku menghabiskan hari libur. Taman yang selalu ramai dengan pengunjung yang kebanyakan adalah keluarga kecil bersama anak-anak mereka.

Dari jauh kudengar suara seperti balon meledak. Namun karena asyik bermain, aku tak begitu memperhatikannya. Aku baru sadar, ketika sekelilingku senyap. Kengerian yang besar menghadang tepat di hadapanku, dalam wujud badut besar yang menyeringai sambil menenteng senapan. Pada baju belakang badut tersebut terkait segumpal tali pengikat balon yang bergelantungan di belakang kepalanya.

Kulihat di sekelilingnya, orang-orang tergeletak bersimbah darah. Mungkin mati, karena tak kudengar rintihan sedikitpun dari mereka yang bergelimpangan itu, termasuk juga kedua orang tuaku.

Belum lagi kengerianku sirna atau sedikit mengendur, ketika badut di hadapanku kembali menembak sambil berhitung.

“Dor! Satu…” balon pertama meletus.

“Dor! Dua…” balon kedua meletus.

“Dor! Tiga…” balon ketiga meletus.

Kemudian segalanya menjadi amat gulita.