Mukena Terakhir

Nisrina S Nissinero
Karya Nisrina S Nissinero Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Mei 2016
Mukena Terakhir

Bingkisan sederhana itu tergeletak dengan manisnya dalam tas plastik yang kutenteng. Masih teringat ketika tadi sepulang menjajakan koran, mataku tertumbuk pada mukena yang terpajang di sebuah toko di tengah pasar. Kudekati dan kusentuh, ternyata bahannya adem, motifnya juga bagus. Kulirik harganya, Rp. 60.000,00. Aku ingat uang yang ada di kantongku, Rp. 65.000,00. Alhamdulillah cukup sekaligus dengan biaya membungkus kado Rp. 5.000,00. Aku tersenyum membayangkan, ibu pasti senang dan langsung memakainya, karena mukena lamanya sudah robek di beberapa tempat.

Maafkan aku, Ibu, mungkin aku pulang terlambat, karena aku harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Semoga engkau tidak cemas, Bu. Aku terus melangkah dengan riang menuju rumahku. Sambil sesekali kupandangi bingkisan itu, lagi-lagi aku tersenyum. Aku sudah mencapai setengah perjalanan, ketika sampai di sebuah perempatan besar yang biasa dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar dan panjang. Saat itu matahari hampir terbenam dan jalanan lumayan sepi, sehingga aku menyeberang dengan tenang setelah menoleh kanan kiri tak ada kendaraan yang melintas.

“Awas, nak!” teriak seorang lelaki setengah baya kepadaku, namun aku tak mengerti ada apa.

“Brakkk...” sebuah suara tumbukan yang cukup keras terdengar di telingaku, rasanya ada yang berteriak di kepalaku.

Sepertinya terjadi kecelakaan parah, orang-orang mengerubungi tempat kejadian. Penasaran juga sebenarnya ingin melihat korban, dan mungkin ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Tapi aku ingat ibu, aku tidak ingin ibu khawatir, selain itu aku ingin segera memberikan bingkisan untuk ibu.

Akhirnya aku meneruskan langkah pulang.

Sesampainya di rumah, lampu belum dinyalakan. Itu berarti tidak ada orang di rumah, dan bagiku sangat aneh, karena ibuku tidak suka pergi ke luar rumah setelah matahari terbenam. “Ora ilok nduk, yen cah wadon metu ngomah wayah peteng.” Berarti memang ada keperluan yang sangat penting, sehingga ibuku keluar rumah.

Belum sampai hilang kecemasanku, tiba-tiba ibu datang dengan wajah yang sembab. Aku mencoba menyapanya dan menanyakan ada apakah hingga ibu begitu sedih. Namun tanyaku tak berjawab, ibu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun terdiam tak berani bertanya lagi karena melihat wajah ibu yang amat pilu.

Tak lama kemudian semua kebingunganku terjawab, orang-orang datang beriringan membopong tubuh yang telah kaku. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, raut muka mereka begitu kelam, diam dengan kepedihan yang sama dengan ibuku.

Semakin penasaran, kudekati mereka, dan anehnya tubuhku bergetar dengan sendirinya. Semakin dekat dengan tubuh itu, semakin bergetar tubuhku. Dan sekilas kuingat baju yang dikenakan tubuh yang kaku itu, sontak kulihat pada tubuhku sendiri. Karena masih ingin meyakinkan lagi, kulihat baik-baik tubuh yang masih penuh darah itu. Wajah itu...! Yah, itu wajahku...!!!

Tubuhku langsung melorot. Kilasan peristiwa di perempatan tadi membayang bak film yang diputar di layar tancap. Ya Allah... Jadi... aku ini, apa?

Bingkisan mungil tiba-tiba terjatuh dari tubuh yang telah kaku, disertai sayup-sayup suara tangis yang hanya terdengar oleh burung malam.

 

Na, 2015

  • view 201

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Hehehe.. sebagai seorang pembaca amatir kaya gue kok ada yang aneh dalam cerita tersebut ya?
    .
    Judul dan pemilihan foto thumbnail sudah oke dan bikin gue tertarik untuk membacanya.
    .
    .
    Awalan tulisan menarik hingga gue ingin terus membacanya tapi pas pertengahn cerita.. kok aneh ya? Rada gak nyambung dan gak masuk logika gue sebagai pembaca amatir.
    .
    .
    .
    ?Awas, nak!? teriak seorang lelaki setengah baya kepadaku, namun aku tak mengerti ada apa.

    ?Brakkk...? sebuah suara tumbukan yang cukup keras terdengar di telingaku, rasanya ada yang berteriak di kepalaku.
    Komentar :
    1. Lokasi kejadian sangat dekat atau mungkin kecelakan itu akan mengenai anda, pasalnya kata "Awas, nak!" Itu di tujukan buat anda sebagai peringatan.
    2. Kata Tumbukan itu apa ya? Apakah yg dimaksud itu adalah Tubrukan?
    .
    .
    .
    .

    Plot yg hilang atau tidak nyambung dengan paragaraf dibawahnya :
    "Belum sampai hilang kecemasanku, tiba-tiba ibu datang dengan wajah yang sembab. Aku mencoba menyapanya dan menanyakan ada apakah hingga ibu begitu sedih. Namun tanyaku tak berjawab, ibu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun terdiam tak berani bertanya lagi karena melihat wajah ibu yang amat pilu"
    Komentar :
    1. Jika ini cerita dalam ke adaan sadar atau tidak bermimpi, paragaraf tersebut gue rasa tdk nyambung dg paragraf dibawahnya.
    2. Terjadi dialog atau pertemuan antara kamu dengan ibu, tidak ada catatan klo kamu sedang bermimpi. Yang selanjutnya paragraf dibawahnya adalah kisah nyata bahwa kedatangan segerombolan orang membawa ibu anda ke rumah.
    3. Kecuali paragraf di atas adalah note bahwa anda seperti melihat penampakan layaknya orang meninggal memberikan isyarat kepada orang lain.
    .
    .
    .
    .
    .
    "Tubuhku langsung melorot. Kilasan peristiwa di perempatan tadi membayang bak film yang diputar di layar tancap. Ya Allah... Jadi... aku ini, apa?"
    Komentar :
    1. Kata melorot sering digunakan sebagai kata penyerta dalam objek kain, kenapa tidak kata lunglai atau lemas ya? Kayaknye lebih enak dan tepat menurut gue.
    2. Kalimat : Ya Allah... Jadi... aku ini, apa?" Masih membingungkan untuk gue cerna.. atau mungkin bahasa anak gaul ya? :-)
    .
    .
    .
    .
    .
    .

    Kesimpulannya.. gue sebenernya tertarik untuk membacanya karena ceritanya akan sangat menarik jika berberapa yg gue komentari nyambung alurnya.. hehehe tetap semangat ya mbak.. dan belajar membuat cerita agar bisa dicerna oleh si pembaca kaya gue ini.
    .
    .
    Selamat berkarya..tetap semangat.. :-)

    • Lihat 2 Respon