Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Mei 2016   06:49 WIB
Mukena Terakhir

Bingkisan sederhana itu tergeletak dengan manisnya dalam tas plastik yang kutenteng. Masih teringat ketika tadi sepulang menjajakan koran, mataku tertumbuk pada mukena yang terpajang di sebuah toko di tengah pasar. Kudekati dan kusentuh, ternyata bahannya adem, motifnya juga bagus. Kulirik harganya, Rp. 60.000,00. Aku ingat uang yang ada di kantongku, Rp. 65.000,00. Alhamdulillah cukup sekaligus dengan biaya membungkus kado Rp. 5.000,00. Aku tersenyum membayangkan, ibu pasti senang dan langsung memakainya, karena mukena lamanya sudah robek di beberapa tempat.

Maafkan aku, Ibu, mungkin aku pulang terlambat, karena aku harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Semoga engkau tidak cemas, Bu. Aku terus melangkah dengan riang menuju rumahku. Sambil sesekali kupandangi bingkisan itu, lagi-lagi aku tersenyum. Aku sudah mencapai setengah perjalanan, ketika sampai di sebuah perempatan besar yang biasa dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar dan panjang. Saat itu matahari hampir terbenam dan jalanan lumayan sepi, sehingga aku menyeberang dengan tenang setelah menoleh kanan kiri tak ada kendaraan yang melintas.

“Awas, nak!” teriak seorang lelaki setengah baya kepadaku, namun aku tak mengerti ada apa.

“Brakkk...” sebuah suara tumbukan yang cukup keras terdengar di telingaku, rasanya ada yang berteriak di kepalaku.

Sepertinya terjadi kecelakaan parah, orang-orang mengerubungi tempat kejadian. Penasaran juga sebenarnya ingin melihat korban, dan mungkin ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Tapi aku ingat ibu, aku tidak ingin ibu khawatir, selain itu aku ingin segera memberikan bingkisan untuk ibu.

Akhirnya aku meneruskan langkah pulang.

Sesampainya di rumah, lampu belum dinyalakan. Itu berarti tidak ada orang di rumah, dan bagiku sangat aneh, karena ibuku tidak suka pergi ke luar rumah setelah matahari terbenam. “Ora ilok nduk, yen cah wadon metu ngomah wayah peteng.” Berarti memang ada keperluan yang sangat penting, sehingga ibuku keluar rumah.

Belum sampai hilang kecemasanku, tiba-tiba ibu datang dengan wajah yang sembab. Aku mencoba menyapanya dan menanyakan ada apakah hingga ibu begitu sedih. Namun tanyaku tak berjawab, ibu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun terdiam tak berani bertanya lagi karena melihat wajah ibu yang amat pilu.

Tak lama kemudian semua kebingunganku terjawab, orang-orang datang beriringan membopong tubuh yang telah kaku. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, raut muka mereka begitu kelam, diam dengan kepedihan yang sama dengan ibuku.

Semakin penasaran, kudekati mereka, dan anehnya tubuhku bergetar dengan sendirinya. Semakin dekat dengan tubuh itu, semakin bergetar tubuhku. Dan sekilas kuingat baju yang dikenakan tubuh yang kaku itu, sontak kulihat pada tubuhku sendiri. Karena masih ingin meyakinkan lagi, kulihat baik-baik tubuh yang masih penuh darah itu. Wajah itu...! Yah, itu wajahku...!!!

Tubuhku langsung melorot. Kilasan peristiwa di perempatan tadi membayang bak film yang diputar di layar tancap. Ya Allah... Jadi... aku ini, apa?

Bingkisan mungil tiba-tiba terjatuh dari tubuh yang telah kaku, disertai sayup-sayup suara tangis yang hanya terdengar oleh burung malam.

 

Na, 2015

Karya : Nisrina S Nissinero