[Fikber KOMPI] #11 Luka Arjuna

Nisrina S Nissinero
Karya Nisrina S Nissinero Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
[Fikber KOMPI] #11 Luka Arjuna

Setiap kehidupan memiliki sendiri luka-lukanya

Begitu pula kehidupanku,yang setiap tahapnya

adalah luka yang menganga

Tapi kali ini akan kutambah sebuah luka

Luka karena tujuan yang lebih mulia

Benarkah mulia?

 

10 Mei 2016  15:25:10

Ketika datang ke dojo, kudapati semua anggota KOMPI tengah berkumpul termasuk Lesmana, Srikandi, juga Bay dan sobat karibnya, Ando. Tapi ada satu sosok wanita yang tak kukenal turut hadir di sana, mengenakan penutup kepala kain yang dipilin secara rajin hingga selintas menyerupai topi kotak-kotak ala Sherlock Holmes. Mata wanita itu menatapku penuh selidik ketika semua personel wanita KOMPI heboh tak keruan memanggil namaku.

Namun bola mata mereka sontak membelalak ketika kukeluarkan HK MG 4 dari balik bahu. Beberapa langsung menjerit dan berusaha lari, yang segera berhenti dengan tubuh gemetar saat kuintimidasi dengan acungan moncong senapan ke arah mereka.

 “Mengapa kau lakukan ini, Juna?” tanya Bay tanpa ekspresi.

“Agar aku ada dalam tiada, Bay,” jawabku singkat dan sedikit mengandung rahasia. Dari sudut mata kutangkap gerakan beberapa orang mengambil kesempatan untuk keluar. Kugoyang sedikit laras senjataku, mereka kembali diam.

“Maksudmu?” tanya Bay lagi masih dengan suara yang sama datarnya.

“Tak perlu banyak bertanya, Bay. Ada hal-hal yang terkadang lebih baik jika tak tahu alasannya, karena kenyataan biasanya jauh lebih mengecewakan dan tak sesuai bayangan. Aku tak seperti yang kaukira, Bay.”

Diam sejenak.

“Lalu, orang yang menculikmu?”

“Menculik?”

“Hla? Terus…? Secarik pesan yang tertulis di belakang komputer beberapa hari yang lalu dari Sang Jishnu?” kilatan aneh melintas sekilas di mata sipit Bay, sebelum akhirnya kembali redup dalam sorot sedih yang memang telah amat lama menjadi ciri khasnya. Kelam. Dalam. Tajam.

“Hahaha...! Kupikir kau benar-benar tahu nyaris segalanya, Bay, ternyata hanya begitu saja kemampuanmu,” ejekku. “Ketahuilah, Bay, bahwa Jishnu itu sama artinya dengan Arjuna, Phalguna, Kirti, Shwetawahana, Wibhatsu, Wijaya, Partha, Sawyashachi dan Dhananjaya.  Jadi... tak ada yang menculikku. Karena akulah Sang Jishnu, dan terima kasih atas Kitab Wanaparwa itu, Bay. Kitab itu telah membangkitkan ingatan tentang tujuan hidupku yang  sebenarnya!”

“Apakah itu?” cecar Bay. Kembali sebuah kilatan aneh melintas di bola matanya.

Aku menggeleng.

“Aku tahu kau sedang berusaha mengulur waktu, Bay, tapi itu tak akan mempengaruhi niatku untuk membunuh kalian semua.”

Kumuntahkan peluru dengan membabi buta, hingga sekejap seluruh ruangan tercium wangi darah dan mesiu. Lesmana, Chacha, dan Ade tersuruk di dekat pintu masuk, sementara tubuh Dinan, Bagus, Siluet, dan Vera menyebar di sekitar jendela. Ayin dan Anis terjajar di tembok sebelah kiriku dengan kepala berlubang.

“Jangan lari…!!!”

Kembali HK MG 4-ku menyalak bersahut-sahutan. Sayang hanya si gondrong yang terjungkal, sementara Bay entah kemana, membias tak ubahnya bayangan yang tembus peluru.

Kulihat wanita bertutup kepala ala Sherlock Holmes itu masih bernapas, aku mendekatinya.

“Apakah kau masih yakin dengan motif yang kau simpulkan? Karena menurutku tak akan ada yang pernah tahu, jika itu berkaitan dengan rencanaku,” kubisikkan kata-kata tersebut di dekat telinganya. “Salam kenal dari Sang Jishnu, Nona.”

Setelah yakin tak ada lagi yang masih menghembuskan napas di sana, dengan langkah tenang kutinggalkan dojo, siap dengan rencana besar yang lainnya.

********

 31 Juli 2031  07:15:25

Media nasional dan internasional tak henti berkedip menyemburkan berita krisis Rusia dan Amerika akibat perang berkepanjangan. Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Pasukan Emprit Nusantara telah menduduki tempat-tempat yang vital. Sedangkan di Jalur Gaza, Pasukan Emprit Gerak Cepat berhasil memukul mundur serdadu Israel.

Tak ada yang bisa diselamatkan, tempat-tempat paling penting telah jatuh ke tangan Indonesia.

 “Tuan Juna, Presiden dan Kepala Intelijen dari seluruh dunia, menunggu instruksi dari Anda,” ucap Lana, si makhluk hologram di hadapanku.

“Bilang saja saya masih banyak urusan, Lana, dan tolong siapkan jet pribadi. Saya ingin menemui paman,” sahutku singkat sambil mengepak beberapa barang.

“Baik, Tuan Juna. Segera saya laksanakan.”

Beberapa waktu kemudian aku telah berada di kediaman Paman Karna, di sebuah puncak bukit yang asri nun di ujung Timur Kepulauan Indonesia.

“Kau telah berhasil, Nak,” ucap paman sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahuku. Bersama kami duduk di sofa putih kesayangannya yang nyaman.

“Belum, Paman, Rusia dan Amerika masih belum menyerah,” kilahku.

“Ah... itu kan hanya menghitung hari. Aku yakin sepekan ke depan mereka akan menyerah tanpa syarat,” ucap Paman Karna penuh keyakinan.

“Tanpa Paman, mungkin aku tak akan sampai sejauh ini,” ucapku sungguh-sungguh.

Paman Karna menggeleng.

“Kau salah, Nak. Semua ini murni hasil kerja kerasmu, kami hanya tinggal mengarahkan saja. Dan keyakinan kami berawal dan tumbuh mengembang sejak Peristiwa Malam Kelabu dulu,” wajah Paman Karna berubah muram.

Ingatanku langsung melayang pada kejadian malam itu, saat umurku baru genap sewindu.

“Walau usiamu sangat belia saat itu, namun kau benar-benar piawai melakukannya, Nak. Tapi apakah kejadian itu masih mempengaruhimu?” tanya Paman Karna hati-hati.

Aku tertegun sejenak. Bayangan ayah dan ibu kandungku tergeletak meregang nyawa bersama kolega sesama ilmuwan penentang organisasi kembali menghantuiku.

“Maafkan paman bila hal itu mengganggumu. Lebih baik kita bicarakan yang lain.”

Aku mengangguk pelan.

“Paman bangga padamu, Nak. Paman yakin sebentar lagi dunia akan bersicepat mengumandangkan kabar pelantikanmu sebagai pemimpin tertinggi dunia. Dan paman tak perlu lagi susah-payah membuat slogan ‘Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!’ Cukup seorang pemuda sepertimu saja sudah bisa mengguncang dunia, apalagi jika sepuluh orang. Bisa jadi langitlah yang akan bergoncang.”

Kami tertawa bersama. Ah, paman. Kau selalu bisa membuatku tertawa walaupun kesedihan sempat melanda.

“Paman, bagaimana kalau pelantikan itu kita tetapkan pada tanggal 17 Agustus saja?”

“Ide yang bagus. Ternyata kau benar-benar mencintai negaramu, Nak.”

“Aku memang melakukan semua ini demi negara kita, Paman. Aku amat benci mengingat negara ini terus saja disepelekan sebagai kelompok Negara Dunia Ketiga. Mereka terlalu memandang rendah, Paman…”

Perbincangan masih berlanjut dengan rencana-rencana ke depan apabila dunia benar-benar ada dalam genggamanku. Pertemuan dengan para presiden dan juga kepala intelijen aku lakukan keesokan harinya. Aku menginstruksikan untuk terus melakukan embargo pada kedua negara adidaya tersebut.

*********

07 Agustus 2031  07:10:05

Hiruk-pikuk melanda seluruh media yang ada di muka bumi dengan amat gempita. Penyebabnya cuma satu, yaitu bahwa hari ini dua negara adidaya -Amerika dan Rusia- menyerah tanpa syarat kepada Indonesia. Kabarnya, pengalihan kekuasaan akan dilakukan bersamaan dengan pelantikan Presiden Indonesia, Tuan Juna, sebagai Pemimpin Tertinggi Dunia, pada tanggal 17 Agustus 2031.

“Prediksi paman benar kan, Nak? Kau benar-benar menjadi pemimpin tertinggi dunia sekarang,” ucap Paman Karna di seberang telepon sana.

“Tapi aku tak tertarik untuk hadir, Paman. Sepertinya aku terlalu lelah,” sahutku dengan malas sambil meletakkan telepon di meja. Pandanganku menerawang jauh.

 

Paman, sebenarnya kita ini makhluk apa?

Darah, mayat, dan jerit tangis korban perang tak pernah kita pedulikan

Perang ini terlalu lama bagiku, Paman

Sejak kecil, aku telah kenyang bau kematian

Benarkah ini kulakukan hanya demi kecintaanku yang sangat pada negara?

Oh, negara... Oh, Paman

Aku lelah...

 

Ternyata aku tertidur. Dan ketika bangun, di hadapanku telah duduk dengan tenang Paman Karna.

“Kau sudah bangun, Nak?” tanya Paman Karna lembut.

“Mengapa Paman ada di sini? Bukankah Paman seharusnya menyelesaikan urusan organisasi di Italia sana?” heranku.

“Aku lebih memilih menemani milikku satu-satunya yang paling berharga di dunia ini. Karena tadi aku mendengar dia lelah. Bagaimana sekarang, lelahmu? Sudah berkurang?”

Aku hanya diam.

“Apa yang kita dapat dari perang, Paman?”

“Kemenangan.”

“Apakah Paman bahagia dengan itu?”

“Paman senang, Nak?”

“Senang? Tapi pasti bukan bahagia.” tanpa sadar aku tersenyum sinis.

“Ada apa denganmu, Nak? Kau mulai goyah?” Paman Karna mendekatiku lalu duduk di sampingku.

“Bolehkah paman memelukmu, untuk sekedar meringankan bebanmu saat ini, Nak?”

Aku diam, dan Paman Karna benar-benar memelukku.

Tanpa pikir panjang, kuledakkan batok kepala Paman Karna dengan pistol yang kuselipkan di sofa tempat aku duduk sekarang.

“Kau...” kalimat Paman Karna terputus. Matanya menunjukkan jutaan ketidak pahaman.

“Aku adalah milikmu yang paling berharga? Cuihhh...!!! Mungkin yang paling benar adalah bonekamu yang paling berharga. Karena kau pikir, dengan menjadikanku pemimpin tertinggi dunia maka kau akan sangat mudah menyetirku… !!!”

 

09 Agustus 2031  07:25:15

Seorang tokoh masyarakat terkemuka yang dikenal dermawan, Tuan Karna Anggawijaya, tubuhnya ditemukan mengambang di bawah Jembatan Semanggi dengan luka tembak di kepala. Diperkirakan lokasi terbunuhnya berbeda dengan tempat ditemukan, jadi hampir dapat dipastikan bahwa peristiwa ini merupakan pembunuhan yang disengaja.

Menurut sumber yang terpercaya, beliau adalah Pimpinan Organisasi Freemason Wilayah Asia. Kita tunggu saja informasi dari kepolisian, tentang motif yang melatarbelakangi pembunuhan ini.

 

Aku membaca berita itu tanpa minat. Ternyata hanya seperti ini akhirmu, Paman…

Kulempar pandangan ke padang yang luas di luar sana.

Tuhan, kau di mana? Aku lelah...

Bayang-bayang wajah ayah dan ibu menari di pelupuk mata. Aku bukanlah anak yang berbakti pada kalian.

Bayang-bayang Soedarto, ayah angkatku, yang mengharapkan aku jadi seperti tokoh Arjuna. Mungkin kau tak akan mengira aku sekarang seperti apa.

Keluarga Lesmana, keluarga angkatku yang lain lagi. Belum bisa kuhapus dari ingatan saat tatapan terakhirnya sebelum mati. Lesmana, ia tak pernah tahu bahwa aku bukanlah kakak kandungnya.

Larasati, mungkin memang lebih baik kau mati daripada melihat ‘aku’ yang sebenarnya. Aku yang kini tak lagi aku ini.

Srikandi yang mahir di segala bidang, seharusnya kau tak pernah mengenalku.

Teman-teman KOMPI termasuk Bay juga Ando, dan seorang wanita detektif itu. Ah...

Semua telah menorehkan luka, ketika aku harus melenyapkan kalian semua, demi menjadi orang yang tak pernah ada, tapi ada.

Ketika semua telah berada dalam genggaman

Ketika semua andai tlah tercapai

Ketika semua janji tlah tertunai

Dan ketika semua asa tlah tergapai

Untuk apa semua ini, Tuhan?

 

Aku tak akan berteriak seperti saat Arjuna mengusir Iblis

Aku tak akan berkaca lagi, ketika semua pandang hanya berfokus pada leherku sendiri.

Ibliskah aku, atau malaikatkah?

Entahlah... Yang pasti aku tak bertanduk juga tak bersayap

Konon kabar, ketika seluruh dunia tlah bersatu, tak lama lagi kiamat akan segera hadir.

Benarkah, Tuhan?

Aku, Juna, tlah menjadi Pemimpin Tertinggi Dunia

Tapi siapakah aku?

Tak ada yang tahu, tak ada yang mengenalku

Karena semua tlah kulenyapkan demi menjadi tiada, namun tetap ada

Tuhan, apakah Kau benar-benar ada?

Apakah aku harus seperti Al Hallaj untuk mencariMu?

Ataukah aku harus seperti Ibrahim?

Mengapa saat aku membantai makhlukMu Kau diam?

Dimanakah Kau, Tuhan?

Aku tak ingin seperti Yudistira yang merasa kosong dan kesepian setelah perang mahabesar itu.

Aku tak ingin seperti Arjuna yang sempat menyesal karena memanah Bisma, kakeknya sendiri.

Kini aku mohon padaMu, Tuhan, jika Kau memang ada.

Aku ingin...

Dor!

Pistol itu meletus dan kepalaku terkulai di sofa.

*****

* HK MG 4: Heckler-Koch Machine Gun.

 

 Bersambung ke Ending masing-masing peserta, yang Insya Allah akan diposting secara serentak besok.

 


  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    hadir menyimak sbg pembaca tamu saja, dari ide si Bay menggelar fikber. .dari awal Arjuna di Medsos hingga ending di sini. Belum saya temukan benang ungunya, alias gak nyambung ceritanya. .Trimakasih. maaf jangan sensi ya, untuk menjadi penulis hebat. harus tahan banting dg krisan. ok. Semangat. ..treruslah berkarya. .

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Bismillah...

    hehe, halo mbak Great...maaf bru skrg bs komen karya fikber #11. karena, ini jd fardhu a'in nya fikber kompi, jd mau gk mau hrs ngomen dikit nih ttg fikber nya mbak great.

    maaf sebelumnya ya, setelah saya baca, baca, baca, baca lagi, lagi baca, dan baca terakhir kali, saya baru tau klo ini kisah pewayangan yang di mix sm perang2an...

    menurut paham saya yg tidak begitu paham ini, rasanya jadi inget film2 yg angkat kisah perang dingin rusia sm amerika, tp proximitynya dikaitkan sm kondisi Indonesia...dan berita freemason yang lagi booming di wilayah asia...eh gk tau ding, bener apa nggak, asal tebak aja...

    dan karakter Juna disini dijadikan boneka, oleh penguasa yg tidak lain adalah pamannya sendiri. ya kalo dibilang Juna di fikber #11 ini masih abu2, gk hitam, tp juga gk putih...sama kyk fikber #1...

    melirik settingnya yang berada di bukit paling timur kepulauan indonesia, saya jadi inget DuJ nya mas bay, yg pernah menyentil kondisi di papua...tp saya blm paham, dan msh menduga2, apa memang ad kaitanya ap gk...

    saya dibuat larut dalam ketegangan, di awal baca fikber ini, tp setelah saya baca2 lagi, kenapa jedanya babak 1 sm babak selanjutnya sangat jauh, dr 2016 -2031...atau mungkin penulis sengaja membunuh karakter kompi dalam fikber2 sebelumnya, agak penokohan tdk semakin bias? biar bs langsung masuk scene perang2an...dan anehnya Bay hilang dan gk jelas kemana ngilangnya...(ya semoga ini hanya dugaan saya, mbak great)

    saya pernah dikasih ilmu sama mas bay, tulisan kyk gni itu modelnya fragmen, mengungkapkan babak demi babak...mngkin klo aja waktunya gk 24 jam...tulisan ini makin keren, mbak...oohh iya untuk org berlatar belakang dunia hukum, tema yg mbak great angkat ini, gk main2 beratnya...hehehe...kereennn...

    udh ya mbak...segitu aja,,,maaf klo ad slah2 kata ya...makasih...


    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    salam kenal, Kak 'Pembelajar Hebat'.

    maaf telaaaaat ngomen
    (sengaja, biar gak tenggelam *eh)

    jujur saya belum ada ide buat bikin ending.
    dan entah kenapa, pas baca ini, jadi inget novel PULANG

    • Lihat 3 Respon

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Wah ternyata Fikber #11 sudah sampai tahun 2031, ya...
    Salam kenal dari saya yang masih hidup di 2016.

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    pusing...bacanya....apalagi bagian endingnya

    btw salam kenal ya tante