Ku temukan kau melalui lensa kameraku

Siti A.syatul
Karya Siti A.syatul Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2017
Ku temukan kau melalui lensa kameraku

Terpaku dalam Indah senyumu (Part 1)


       Dido Afgansyah husaini adalah seorang pemuda tampan yang memiliki hobby motret, bahkan sewaktu balitapun dia sudah akrab dengan kamera dan pernak-perniknya. Tentu saja Ayah Dido adalah seorang photographer ternama di kotanya. Ayah   Dido kerap sekali memenangkan lomba pada event-event menarik di luar kota, hobbi Ayahnya tak di sangka menular pada Dido. Mereka memiliki studio photo sejak Dido masih kecil yang semakin berkembang sampai saat ini, memiliki karyawan dan karyawati yang lumayan banyak.
Lain Dido lain Azam, mereka memiliki hobby yang berbeda Azam muzzamil husaini lebih tertarik pada bidang musik dan tarik suara. Kedua anak Husaini memang memiliki bakat yang cukup luar biasa, mereka berdua hanya terpaut usia dua tahun.
      “Zam, kamu lagi ngapain?” tanya Dido buru-buru sembari tanganya memasukan peralatan memotretnya kedalam tas ransel hitam milikinya.
      “Lagi edit video, cuzzzz siap meluncur di youtube keren kan, insya Allah banyak like, aamiin,” celoteh Azam semabari terus menatap monitor.
           “Huuuwww paling banyak jempol ke balik, ane dong follower Instagram sudah ribuan,” tak kalah Dido menyombongkan diri sembari merapikan jambulnya menghadap ke arah cermin.
      “Ouh iya kalau Umi sudah pulang bilangin ya, ane ada pemotretan, Assalamualaikum...” Dido bergegas pergi dari dalam kamar
     “Gak mau......,” jawab Azam lantang, sembari nyengir mengintip sang Abang yang kepontang panting mencari kunci mobil.
     “Astaqfirllah dimana sih ya Allah,” Dido mulai kesal, dia membuka seluruh laci-laci di sekitarnya membuka tas kameranya, kali aja nyelip gitu kan tapi tetap tidak ada.
   “Tara......,” Azam menggantung-gantungkan kunci mobilnya tepat di hadapan Dido, dengan sigap Dido merebut
    “Wuuuuu...... udah main curang rupanya,” Dido sewot meninggalkan Azam yang masih cekikikan.
            “Bruakkkkk,”
       “Dido, mau kemana?” Umi meraih lengan Dido yang hampir terjatuh karena tertabrak Umi yang baru saja pulang mengajar.
          “Dido mau ada pemotretan mi, ada proyrk... Dido buru-buru, maafin Dido ya” Dido meraih tangan Umi, lalu di ciumnya punggung tangan wanita paruh baya itu.
    “Assalamualaikum...” Dido menuju mobil Honda Jazz miliknya
   “Waalaikumsalam,” jawab Umi menggelengkan kepalanya sembari tersenyum

***

    Kediaman rumah Fahriyah nabila, terlihat sepi dan kosong
 “Teloet...telolet....telolet...,” Dido memberi kode pada Nabila dengan klakson mobilnya supaya Nabila segera bersiap seperti yang sering dilakukan sebelumnya.
Dido memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Nabila yang cukup luas itu hati-hati, kalau sampai menabrak bunga mawar kesayangan Nabila pasti dia ngomel tanpa jeda.
    “Assalamualaikum,” ucap Dido berkali-kali sambil terus melakukan panggilan telpon, hasil yang sama tidak diangkat oleh Nabila. Dido mengulang salam serta memencet bel yang terlihat sangat lucu dengan desain hello kitty tersebut di pencetnya berulang kali.
    “Waalaikumsalam,” pintu terbuka perlahan
        “Tante,” Dido langsung salim dengan Mamanya Nabila
   “Masuk Do, Nabila lagi tidur.. sebentar ya tante bangunin,” Spontan membuat Dido nyaris berdiri dan ngomel tapi berusaha Ia tahan, Ibu cantik tersebut bergegas menuju kamar putrinya.
Dido terus menatap arloji di lengan tangan kananya, angka terus berubah hingga genap tiga puluh menit Dido nongkrong menunggu Nabila, belum di tambah parkir dan nyalain bel tadi.
       “Wanita selalu seperti itu gak pernah salah dan memiliki seribu alasan untuk membela dirinya, sudah pasti itu” gumam Dido kesal.
   “Dido maaf...,” Suara manja itu semakin mendekatinya
   “Sudahlah, udah terjadi ini....” Dido ngeloyor keluar dengan cuek
     “Please maafin aku,” Nabila merengek sembari membuka pintu mobil memposisikan dirinya tepat berada disamping Dido
   “Kamu tahu gak ini semua penting untuk karir kita Na.. “
  “Maaf aku kecapean pulang dari kampus, kamu tahu kan perjalanan Kota air- Banjarmasin gimana padatnya, udah gitu dosen pembibingku telat datang lagi, untung tadi aku sempetin pulang “ wajah cantiknya terlihat kecewa akan sikap Dido.
     “Iya, iya..... aku tahu maafin Aku,“ Dido tersenyum sangat manis, sedangkan Nabila masih sewot. Keadaanya jadi terbalik kini Nabila yang sewot, memang wanita gak pernah salah. Dido menggerutu dalam hati.
Dido memang memiliki banyak model salah satunya Nabila sahabat kecilnya meskipun usia Dido lebih tua tiga tahun tapi mereka bersahabat layaknya seusia.

   Orang tua Dido dan Nabila teman dekat sama-sama photographer di eranya sehingga kedekatan mereka sangat didukung oleh orang tua masing-masing, tak jarang Papa Nabila suka meledek akan menjodohkan mereka.
Nabila nampak cantik dan anggun mengenakan pakaian adat dayak yang terbalut jilbab, gak mungkin kan hanya karena pemotretan menanggalkan jilbab. Nabila tetap mengenakan hijab apapun pakaian yang Ia kenakan di buat sedemikian rupa agar bisa berhijab udah macam artis-artis gitu. Dido sibuk membidik wajah ayu Nabila dengan berbagai gaya dan latar yang berbeda.
    “Wah... kerja yang bagus Do,” Puji salah satu pegawai pemerintah daerah selaku PJ acara ini demi memeriahkan hari jadi kota air.
     “Terimaksih pak, senang bekerjasama dengan anda,” Dido terseyum menutup kamera. Mereka berbincang di kursi yang sudah di sediakan oleh panitia. Sementara Nabila sedang berada di ruang ganti untuk mengganti pakaianya.
Suasana aula pemerintah daerah cukup ramai sedang diadakan berbagai macam lomba. Tentu saja membuat Dido terus membidikan kameranya, sudah paling jago kalau soal mengabadikan moment. Ia memotret orang-orang yang ada di dalam aula dari wanita cantik sampai anak-anak.
  “Do...” panggil Nabila yang sudah berdiri disebelahnya, membuat Dido mengurungkan niatnya untuk memotret wanita cantik berlesung pipi, yang sedang berada di sekitar anak-anak terus mengembangkan senyumnya semakin terlihat menawan.
 “Kamu lihat apaan?” Nabila memicingkan matanya terus menyusuri isi aula
    “Gak ada, seru aja melihat anak-anak kecil itu menari... good view lah pokoknya” Dido menurunkan kamera lalu memasukanya kedalam tas, kemudian meninggalkan aula bersama Nabila.
 “Assalamualaikum pak,” tegur beberapa remaja saling senyum
       “Waalaikumsalam, kalian disini?”
    “Iya pak kami mau ada lomba baca puisi,” Jawab Vivin kalem
     “Ouh, bagus-bagus.... semoga sukses,” Dido memberikan semangat pada murid-murid eskulnya.
  “Enak ya jadi guru,” ucap Nabila sembari manggut manggut
    “Enaknya itu saat kita bisa berbagi ilmu yang kita miliki, semakin kita bagi bakalan berkah ilmunya,”

***
   Malam hari di kediaman Salman Family
  “Do.....” Panggil Abi pelan ambil menunggu Umi menyiapakan menu makan malam.
  “Iya Bi...,” jawab Dido meletakan kamera diatas meja makan
  “Kamu belum ada niatan untuk mengakhiri masa lajang, usia 27 tahun sudah pas menurut Abi”
      “Iya Bi, Dido paham maksud Abi tapi Dido belum nemu yang pas dihati Bi.....”
        “Kurang pas gimana, terus Nabila?”
        “Nabila?” Spontan Dido melongo
     “Iya Nabila, Umi lihat kalian cocok,” Umi menimpali dengan lembut sembari menuangkan air putih kedalam gelas-gelas kecil yang tertata rapi didepan mereka.
    “Bi...Mi.... Dido cuma berteman dengan Nabila, gak lebih!”
      “Ehm.... yang lagi meeting masalah jodoh, suit suit....” Azam langsung nyamber udah persis ikan yang lagi nyaplok umpan di kail mata pancing, sambil menggeret kursi tepat di samping Dido.
    “Kamu sama Zam, jangan habiskan waktumu buat main-main, ingat skripsimu belum final, Abi gak mau dengar alasan apapun lagi,” Pak Salman memang sangat tegas sama anak-anaknya, semua masalah selalu di pecahkan sama-sama.

***
   Dido bersenandung kecil didalam mobil, kepalanya manggut-manggul namun matanya tetap fokus pada jalanan kota air yang lumayan lengang, terang saja aktifitas anak sekolah sudah berahir saat pukul 7:30 WIB kecuali para guru yang datang telat seperti dirinya, Dida mengembangkan senyum seorang diri
     “Gak masalah telat sekali, lagian kan ane guru eskul..” gumamnya sedikit mempercepat laju mobilnya. Dido membelokan mobilnya di tikungan menuju masjid agung kota air, sengaja nyari jalan pintas supaya lebih cepat sampai, matanya menyusuri orang yang berlalu lalang di pelataran sekolah TK ISLAM yang berada tak jauh dari jalan.
Ia menghentikan mobilya mendadak, dengan cepat Ia memotret anak-anak yang lucu itu dari balik kaca mobilnya yang sengaja Ia buka supaya lebih leluasa pada saat mengarahkan kamera, dengan bismillah Dido membidik senyum anak-anak terlihat sangat natural dan manis. Dido terperangah, di turunkan kameranya lalu mengucek kedua matanya. Dido membidik lagi, Ia menemukan seulas senyum yang cantik dari Ibu guru yang sedang asik bertepuk tangan bersama anak-anak di halaman sekolah itu, sangat riang. Diam-diam Dido telah menyimpan wajah ayu wanita itu didalam kameranya, entah kenapa jantung Dido berdetak lebih kencang saat membidik wanita yang tak pernah Ia kenal tersebut, ratusan kali bahkan ribuan kali Dido sudah membidik perempuan cantik bahkan lebih dari pada dia. Dido menggeleng tak percaya, melanjutkan perjalananya menuju sekolah di tempatnya mengajar tentang photography, namanya juga eskul.

  Meskipun jadwalnya bukan pagi terkadang Dido memang sengaja untuk datang tidak sesuai jadwal jika tidak ada kesibukan. Ia sengaja membagikan Ilmunya di sekolah yang sudah membuatnya seperti sekarang.

***
     “Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa....jreng jreng,” di ruang tengah heboh suara Azam berdendang. Dido hanya melirik dari balik pintu kamarnya merapikan beberapa lensa kamera yang berhamburan diatas meja. Ia membuka laptopnya tak sabar untuk mengopy beberapa jepretanya hari ini. Senyumnya mengurai saat mengingat wanita dan beberapa anak pagi tadi. Ia merebahkan tubuhnya diatas kursi menunggu copyanya tersalin sempurna. Matanya terpejam nampak jelas raut wajah itu tersenyum di pelupuk mata Dido, senyum yang sama, Ia mengingat saat melakukan pemotretan di aula pemda.
 “Iya benar....” Dido bangkit, mengerutkan keningnya berulang kali, alis tebalnya terangkat, hal itu membuat Dido terlihat makin mempesona. Tanganya mulai bermain diatas keyboard.
     “Jreng......” photo itu terbuka, sangat jelas senyum itu manis
    “Siapa dia?” Dido memijat pelipisnya berulang kali.
   “Siapa dia............?” Azam mensejajarkan wajahnya di samping Dido, spontan Dido menutup laptopnya.
   “Apaan sih!” seru Dido, jantungnya mulai tak stabil.
      “Tadi siapa? masak iya model sendiri gak tahu siapa dia,” Azam sengaja mengorek wanita yang berhasil membuat Dido resah dan terlihat bingung.
   “Namanya juga photographer zam, asal jepret kalau ada objek yang menarik...” bantah Dido mebuka kembali laptonya untuk melihat photo-photo yang lain.
        “Tapi kenapa bingung tentang siapa dia,” Azam memetik senar gitarnya duduk diatas ranjang.
     “Penasaran dikit bolehkan, siapa tahu dia mau Abang tawari jadi model, iya gak..” Dido mengedipkan matanya, Ia berhasil membuat Azam percaya.
     “Bang.... memang motret gak dosa?” pertanyaan Azam membuat Dido terperanjat dan langsung berdiri.
        “Dosa? maksud ente apa Zam?” Dido sedikit kesal hobby dan profesinya dikatakan dosa oleh adik kesayanganya.
      “Ya gak sih...., kan kalau motret lawan jenis gitu gimana? sedangkan kita harus menundukan pandangan gak boleh lama-lama ngeliat. Udah gitu kan pandangan pertama okelah pandangan rahmat, yang selanjutnya bang... abang kan mantengin para model gak cuma sekali, apalagi lekuk-lekuknya wiiii pasti abang sangat memperhatikan, iya gak? demi mendapat angle yang pas. Ditambah lagi bang senyumnya bang pasti pada manis, apa Iya bang ente kaga tergoda, “ Azam berlari keluar kamar sembari meledek setelah panjang lebar Azam berceramah.
     “Tergantung niatya kali Zam, ane mah gak pernah niat yang begitu, asal ente tahu aja photographer itu keren Zam keren.....” jelas Dido lantang yang tidak berhasil mengejar Azam. Umi hanya tersenyum melihat tingkah kedua putra kesayanganya...

Next part 2

  • view 125