Tidak ada kata terlambat

Siti A.syatul
Karya Siti A.syatul Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Juni 2016
Tidak ada kata terlambat


Geli-geli sedih pengen ketawa pengen nangis kalau mengingat perjalanan hidup Aku yang sedikit lambat dari yang lain. Aku tidak menyalahkan takdir juga keadaan hanya saja ingin mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi kenapa dan bagaimana Aku sesungguhnya tidak ada yang tahu. Mereka segampang itu mengatakan aku galau, aku sedih aku ketawa. Itu sisi luarku yang sejatinya hanya mampu di pandang dari kejauhan. Seperti juga Aku gampang sekali menilai seseorang dari sudut pandang yang berbeda. Karena itulah kita tidak ada yang mampu menyelami dalamnya hati manusia lainya. Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda ada yang sombong, rendah hati, saling mengerti, egois, tidak mau tahu, kerjaanya menghina, merendah, tidak percaya diri dan masih banyak lagi karakter-karakter lainya. Aku gak sedih dan terus-terusan protes sama keadaan ini tapi saat keluar sisi manusia yang selalu kurang aku juga ingin seperti yang lain yang bisa mewujudkan segalanya yang mereka mau. Aku mengalami hidup sedikit lambat, teman-teman seusiaku sudah di panggil mamah, Ibu, bunda, enyak atau apalah itu panggilan-panggilan Ibu lainya. Tapi aku belum merasakan itu haruskah aku munafik tidak menginginkan itu, aku juga memiliki rasa itu. Aku manusia seperti anda-anda juga jadi mohon maklum hal demikian jangan di katakan galau, gak berkelas banget kalimat galau untuk di sematkan pada sesuatu yang berharga. Seorang Ibu itu sangat berharga siapapun yang sudah menjadi Ibu sepantasnya untuk bersyukur sebanyak-banyaknya gak usah ngatain teman lainya yang belum menjadi Ibu dengan kalimat galau.
Sekian lama pertanyaan tentang itu belum terjawab hingga detik ini, tentang siapa, dimana dan kapan moment indah itu menyapaku. Seolah aku merindui hujan di musim kemarau. Seolah aku manusia yang galau, seolah aku fakir asmara, seolah aku paling hina.... tapi bagaimana caraku memaksa? Hanya Tuhan yang tahu di balik pertanyaan itu. Seseorang yang tercatat di lauhul mahfudz itu masih menjadi rahasia untukku di tengah suara sumbang meneriakan hinaan padaku. Tidak mungkin kututpi rasa sedihku, jelas aku sedikit mengeluarkan air mata yang sudah membuncah tiap-tiap kalimat itu menggores batinku. Sesungguhnya aku tidak sanggup namun Tuhan memberiku kekuatan terdahsyatnya.
Tuhan.... jika fisik sebagai penghalang, jika pendidikan sebagai penghalang, jika status sosial sebagai penghalang, bisakah seseorang yang tidak memiliki ketiga keadaan itu bahagia? atau haruskah saat ini aku menyerah menautkan rasa kagum itu? mendengarkah Dia saat aku memanggil namanya untuk ku persembahkan sebagai Do’a padamu, merasakah Dia saatku sebut namanya tiap aku merindukanya? Tuhan.... maafkan Aku jika aku sedikit lelah memahami ini atau mungkin aku pasrah.....
Ada hal lain lagi keterlambatan yang ku jalani, Aku mengalami lambat kuliah. Di saat yang lain sudah bisa membanggakan gelar S1-nya. Aku masih merangkak melewati semester demi semester untuk mengejarnya. Proses yang ku lalaui sangat panjang tidak semudah itu untuk meraih semuanya, mesti terjatuh berkali-kali. Jadi siapapun yang mengalami proses mulus bersyukurlah ada orang Tua yang menanggung biaya kuliahmu dan biaya hidup lainya, mestinya kalian harus bersyukur. Jangan sampai ada kalimat yang merendahkan teman lainya yang mengalami kesulitan kalau bisa bantulah temanmu yang susah. Bukan berari aku tidak bersyukur mendapat proses panjang dan semua serba tertunda seperti ini, rasa syukur tetap mengalir hanya saja terkadang aku lelah, saat aku mengalami kejenuhan pada titik tertinggi. Sebenarnya simple semangat dari orang lain itu perlu. Terkadang kita bangkit setelah mendapat dukungan dan semangat dari orang lain, sekuat dan setegar apapun diri kita tetap yang namanya suport itu penting. Aku sering senyum-senyum sendiri karena harus berteman dengan mereka yang terpaut usia empat tahun di bawahku tetapi mereka menganggap aku seperti teman seusianya itulah bahagia

  • view 194