Inginku

Siti A.syatul
Karya Siti A.syatul Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juni 2016
Inginku

   Aku tahu, jika Aku bukanlah satu-satunya manusia yang merasakan hal ini, bahkan ribuan orang di muka bumi ini yang bernasib sama sepertiku. Keadaan ekonomi orang Tuaku yang kurang stabil membuat semua orang merendahkan Kami. Aku masih ingat betul saat itu pada Tahun 1998 kepemimpinan pak Suharto berakhir saat itu pula Aku dan keluargaku memasuki wilayah sejuta Hektar yang di bangun oleh Bapak pembangunan tersebut untuk mengadu Nasib. Mungkin dengan begini semakin bisa meningkatkan pendapatan Orang Tuaku yang hanya bekerja serabutan. Kami bertahan dengan Jatah pemerintah karena saat itu Kami mengikuti Trans yang masih di Jamin sembakonya oleh pemerintah sembari menunggu hasil upah Bapak ku yang bekerja sebagai tukang angkut Kayu pada masa itu. Aku terus menangis saat menjelang subuh, ketika itu usiaku 8 Tahun Aku duduk di bangku sekolah Dasar, Ibu berusaha mendiamkanku pelan-pelan, Ibu tahu apa yang Aku rasakan, bagaimana tidak Aku menangis Aku merasa sedih tidak memiliki seorang temanpun yang sekedar mengajakku untuk bermain, di tambah lagi Orang Tuaku belum mendaftarkan Aku ke sekolah yang baru, Aku semakin sedih saja. pada saat itu yang ada di benak ku adalah Aku tidak ingin bodoh, Aku ingin sekolah Air mata ini terus mengalir bahkan Aku tidak pernah bosan untuk menangis saat menjelang senja dan shubuh. Pada malam harinya Ibu mengajak Kami mengaji, Ibu selalu mengajarkan kepada Kami untuk mengenal Tuhan, sembari menunggu kedatangan Bapak ku pulang kerja dari perusahaan Kayu yang berjarak puluhan Km. Diiringi isak tangis dan air mata Aku tetap mengaji dengan Adik-adiku, saat itu Kakak-kakakku tidak tinggal bersama Kami, mereka sebagian di jawa bersama Nenek dan sebagian masih tinggal di tempat lama untuk melanjutkan sekolahnya, Ibu hanya menangis dan memeluk Kami ketika merasa Rindu dengan mereka, Kami tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan seperti ini, hanya Tuhan tempat Kami mengadu atas apa yang terjadi. Aku ingin Kami semua bahagia itulah Do’aku saat itu, Aku ingin Kami semua baik-baik saja dan selalu dalam lindunga Tuhan. Setelah beberapa minggu hampir satu bulan di sini Aku mulai masuk ke sekolah yang baru, dari situ Aku mendapatkan teman, mereka selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama, Aku mulai bahagia dan meninggalkan kebiasaan buruk ku yang terus-terusan menangis. Aku memulai hidupku di usia Remaja, Aku bersekolah di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Seperti layaknya Anak-anak yang lain, Aku memiliki banyak teman dekat tapi tetap saja Aku tak sebahagia mereka, karena mereka selalau meledeku hitam dan cupu Aku hanya bisa menangis tanpa menceritakan ulah mereka pada Ibuku, Karena Aku tahu penderitaan Ibu jauh lebih banyak dari apa yang Aku rasakan, itu semua tidak menyurutkan semangat belajarku meskipun Aku tidak tergolong sebagai siswa berprestasi. Aku ingin bahagia hanya itu yang terus tertancap di benakku. “Arum....” Panggil temanku berlari mendekatiku. “Kenapa Sa?” Kutatap matanya yang menyipit menahan angin yang berhebus kencang di iringi awan yang menghitam. “Kita pulang sama-sama ya, Aku boncengin Kamu” Risa tersenyum lebar menatapku. “Yang bener, iya mau” Ku sambut hangat tawaran Risa teman baikku. Apapun yang mereka katakan tentang Aku dan keluargaku, Aku hanya bisa menangis dan berdo’a berharap Tuhan mengasihi Kami, tentu saja Aku sedih mereka selalu mengatakan Aku dan keluargaku miskin tapi tetap saja Kami tidak pernah mencuri dan makan yang tidak halal jadi Aku tetap bangga meskipun di katakan miskin oleh orang-orang yang tidak suka dengan Kami. Waktu kelulusanku di SLTP semakin dekat saja, namun temanku Risa justru pergi tanpa menunggu pengumuman kelulusan, Aku sangat sedih ketika Dia pergi meskipun kepergianya untuk sementara, tak berapa lama menunggu akhirnya pengumuman kelulusan di umumkan juga, Air mataku mengalir deras saat membuka amplop kelulusan, iya karena Aku termasuk dalam siswa yang tidak lulus termasuk Risa sahabatku dan teman-temanku lainya yang sebenarnya berprestasi, entah apa yang terjadi sehingga hampir 60% siswa tidak lulus ujian Nasional saat itu, Suara isak tangis kami bersahutan dan sulit di hentikan mengingat Aku selalu hadir mengikuti pelajaran di tambah Les tambahan yang tidak pernah ku tinggalkan tetap saja Aku tidak lulus. Hampir hilang semangat ku ketika itu Namun Allah SWT selalu memberi jalan yang terbaik, meskipun di Sekolah yang sangat sederhana dan masih berstatus Persiapan Aku tetap bisa bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, ya tentu saja dengan Ijazah SLTP ketika Ujian susulan yang ku gunakan untuk daftar ke SMK. Masih dengan cerita yang sama, Aku yang kurang bersyukur atau Tuhan memang memandang Aku sanggup untuk melewati ujian-ujian yang di berikan untuk Aku Sehingga kata-kata Aku ingin bahagia masih terlontar di bibirku ketika Aku mendapati perlakuan tidak adil dari mereka ketika Aku praktek Kerja Industri, apa lagi yang Aku lakukan kecuali menangis dan terus berdo’a kepada sang khalik bahwasanya Aku juga ingin bahagia seperti mereka-mereka yang lain, mereka tidak merasa tertekan dengan hidupnya, mereka selalu di sanjung dan di puji tidak dengan Aku yang sebaliknya. Aku mulai membiasakan hal itu sebagai pendorong semangatku untuk masa depanku, Aku bukanlah siswa berprestasi tapi Aku bisa bekerja seperti saat ini, itu semua ku raih dengan Kerja keras dan semangat Aku ingin bahagia, ya dengan modal Aku ingin bahagia menjadikan Aku semangat untuk berusaha dan berdo’a. Aku ingin Kuliah itu impian baruku, tapi justeru Adik ku yang lebih dulu merasakan sebagai Mahasiswi, Aku hanya tersenyum Kenapa Tuhan belum mengizinkanku bersamaan Waktu itu genap usiaku 22Tahun Adik ku yang satu lagi menikah, Tuhan..... Apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untuk ku? Itulah pertanyaan dalam setiap Do’aku. Aku ingin menikah, Karena dengan menikah Aku pasti bahagia kenapa justeru Adik ku yang terlebih dulu menikah dari pada Aku, Seperti juga Kuliah ini impianku setelah lulus namun belum bisa juga ku rasakan hingga saat ini, Kenapa dua hal yang menurutku bisa membuat Aku bahagia belum bisa ku raih.... Semoga Tuhan segera mewujudkan Dua hal yang Aku inginkan, karena Aku ingin bahagia Meskipun bahagia bisa ku rasakan kapan saja tetapi tetap saja Aku ingin bahagia dari dua hal tersebut.

  • view 76