Cinta, Biarkan Aku Mengikhlaskanmu

Novi Setiany
Karya Novi Setiany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 November 2017
Cinta, Biarkan Aku Mengikhlaskanmu


Teruntuk seseorang yang selalu kusebut namanya dalam do’a
Mungkin aku yang salah, telah berani berharap kepada selain-Nya. Kepadamu ... aku berharap kepada kamu. Seseorang yang sedari awal bertemu telah aku kagumi keistimewaanmu. Lambat laun perasaan kagum itu berubah menjadi sesuatu yang tak bisa kuungkapkan dengan kata.
Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Teruntuk kamu seseorang yang aku cintai. Iya benar, cinta. Rasa kagum itu lambat laun menjadi cinta. Aku mulai mencintai segala sesuatu yang ada pada dirimu, terlebih kekuranganmu. Tak pernah ada cinta yang aku rasakan seperti ini sebelumnya. Aku hanya dapat mengagumi dan mencintaimu dari jauh. Melihat senyummu, tawa dan candamu adalah anugrah yang Tuhan berikan untukku. Hingga suatu saat harapan itu tak lagi menjadi angan. Perasaan kita ternyata sama. Saling mencintai sejak lama.
Tatapan itu mengisyaratkan bahwa cinta telah tumbuh di hati kita. Seiring berjalannya waktu, lambat laun kita menjadi semakin akrab. Tenggelam oleh cinta yang mungkin tak direstui-Nya. Kita terhanyut dalam keindahan tipu-tipu syetan yang bersembunyi dalam pacaran yang syar’i. Saling mengharapkan satu sama lain, berbagi rasa, asa dan cinta. Dan ketika kita terlalu yakin, Allah berkehendak lain. Biarkan aku melepasmu, mengikhlaskanmu namun bukan untuk melupakanmu ....


Sudah hampir satu bulan lamanya aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Namun, entah kenapa rasa ini tak pernah memudar sedikitpun meski aku berusaha menghapusnya berkali-kali. Ia selalu ada dalam bayang-bayangku. Apakah aku belum ikhlas Ya Rabb?
Kisah ini bermula dua tahun yang lalu. Saat itu aku masih berumur tujuh belas tahun. Aku masih duduk di bangku SMA, namun beberapa bulan lagi aku akan keluar meninggalkan sekolah tercinta itu. Disanalah aku mengenal dia, seseorang yang aku kagumi dari jauh.
Ilyas, dia adalah seseorang yang baru di tempat itu. Pertama kali aku melihatnya ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Namun tidak mungkin rasanya jika harus ku ungkap. Aku hanya memendamnya. Memendam rasa yang indah namun terkadang menyiksa. Hanya kepada sahabat tercinta aku berani berkata tentangnya, tentang Ilyas Ilyasa.
Hari demi hari berlalu. Saat itu sekitar pukul 8 malam, handphoneku berbunyi pertanda ada seseorang yang mengundang untuk berteman. Aku masih mengingat itu. Kubuka secara perlahan, Received Invitation. Terlihat nama Ilyas Ilyasa menghiasi layar handphoneku. Ya Allah senang sekali rasanya. Segera aku klik tanda centang yang berada di atas layar. Ilyas Ilyasa is now a contact.
PING!!!
Handphone berbunyi mengganggu keseriusanku yang sedang belajar. Aku abaikan saja, ku lanjutkan lagi membaca buku.
PING!!!
Lagi-lagi handphoneku berbunyi. Rasa kesal dan penasaran mendorongku untuk melihat handphone berwarna putih itu. Kuusap layarnya untuk membuka kunci. Terlihat sebuah nama masuk dalam daftar chatku.
Ilyas Ilayasa: “PING!!!”. Rasa tak percaya dan bahagia bercampur menjadi satu. Kututup buku yang sedang aku baca tadi. Sekarang perhatianku teralihkan oleh handphone ini. Ah tidak! bukan karena handphonenya, tapi karena pesan dari seseorang yang sangat aku kagumi. Aku coba membalasnya dengan hati sedikit berdebar.
Melati putih: “Iya, maaf siapa?” jawabku pura-pura tak tahu.
Ilyas Ilyasa: “Assalammu’alaikum, ini dengan Zahra? Saya Ilyas, guru baru yang akan membimbing kelasmu untuk persiapan ujikom”
Melati putih: “Wa’alaikumsalam wr.wb. Iya benar saya Zahra pak. Oh iya, saya tahu pak. Ada perlu apa ya?” tanyaku. Kemudian aku enter lagi dan mulai menunggu balasan darinya.
Ilyas Ilyasa: “Tidak ada apa-apa, hanya memperkenalkan diri saja dan tolong beri tahu kepada teman-temanmu semua supaya besok tidak langsung pulang. Oh iya, kenapa namanya Melati putih bukan Zahra?”
Melati Putih: “Oh baik pak akan saya sampaikan kepada teman-teman. Hehe karena saya suka bunga melati. Selain puspa bangsa, melati juga mempunyai filosofi yang indah.” Jawabku sambil senyum menatap layar.
Ilyas Ilyasa: “ ( “. Dia hanya membalas menggunakan emoticon senyum saja.
Ah rasanya tak percaya. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Sedikit gila dan tidak wajar mungkin. Aku mempunyai rasa kepada seorang guru yang akan mengajariku. Tidak etis! Benar, memang tidak etis sama sekali. Seorang murid jatuh cinta kepada gurunya. Tapi aku tak pernah mengatakan itu kepada siapapun, memendam rasa itu hingga aku meninggalkan sekolah.
Satu tahun setelah aku lulus dan melanjutkan pendidikan, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Aku berpikir mungkin dia akan menikah. Tapi perkiraanku salah. Seminggu setelahnya, aku bertemu dengan dia di perpustakaan kota.
“Zahra?”
Seseorang memanggil namaku. Setelah aku menoleh, aku kaget ternyata dia adalah seseorang yang aku kagumi sampai saat ini. Dengan mengenakan kemeja warna putih garis-garis hitam dan celana kain hitam, dia masih terlihat tampan dan mengagumkan.
“MasyaAllah bapak saya kira siapa. Bagaimana kabarnya?” tanyaku sambil tersenyum.
Lalu ia menjawab pertanyaanku dengan senyum menghiasi bibirnya juga.
“Alhamdulillah bapak baik. Kalau kamu, Melati Putih?”
Ah dia memanggilku melati putih. Malu rasanya namun campur bahagia.
“Alhamdulillah baik saya juga pak.” Jawabku dengan penuh semangat.
Semenjak pertemuanku dengannya diperpustakaan itu, lambat laun hubungan kami menjadi akrab. Pikiranku tentang dia yang akan menikah sudah terhapus. Ternyata dia masih seperti dulu, masih menetap dalam kesendirian. Hingga suatu hari dia mengajakku ke suatu tempat. Sebuah danau yang indah dengan nuansa hijau dan jika senja akan datang, warna airnya berubah menjadi merah keemasan.
“Zahra ...”, panggilnya dengan suara yang pelan.
“Iya pak?”
“Kenapa saya merasakan takut yang luar biasa?” Ungkapnya kepadaku. Aku terdiam sejenak. Saya? Kenapa dia menyebut dirinya dengan saya? bukan bapak. Gumamku dalam hati.
“Takut kenapa pak?” aku mencoba bertanya.
“Takut kehilangan Zahra” jawab pria itu.
Jawaban yang membuatku malu, kaget dan penuh tanya. Sebenarnya ada apa? Apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku?
“Ah bapak ada-ada saja. Kehilangan bagaimana? Saya tetap ada disini.” Jawabku dengan sedikit canda.
“Saya serius, entah kenapa baru kali ini saya merasakan hal semacam ini. Semenjak bertemu denganmu Zahra, dulu ... ada sesuatu berbeda yang saya rasakan ketika pertama kali melihatmu.” Ah kenapa tidak dari dulu? Kenapa tidak dari dulu bapak menyatakannya kepadaku. Tanyaku dalam hati.
“Dulu saya hanya bisa memendamnya dalam-dalam karena status kita yang tak mungkin. Saya seorang guru dan status kamu masih seorang murid. Tidak etis rasanya jika saya harus mengutarakan rasa ini.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu dia melanjutkan kembali pembicaraannya.
“Jika saya ke rumahmu, apakah orang tuamu akan mengizinkan?” Dia menatapku dalam. Tatapannya penuh harap dan keseriusan.
Bingung sekali harus ku jawab apa. Aku sangat mencintainya, namun disisi lain ada orangtua yang mengharapkan kesuksesanku setelah aku kuliah. Ada keluarga yang mempercayaiku untuk menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu. Banyak mimpi dan asa yang belum tercapai. Ada cita-cita yang harus ku gapai.
Dengan tenang aku ceritakan segala kendalaku untuk menikah. Namun, aku juga mencoba jujur. Mengungkapkan segala perasaan yang telah aku pendam selama kurang lebih setahun. Ternyata kami saling mencintai. Kami saling memendam rasa. Dan kami saling mengagumi satu sama lain. Ini adalah kali pertama kami merasakan jatuh cinta. Pertama kali untukku, dan pertama kali untuknya. Dia tak seperti pria lain. Dia tak pernah pacaran dan tidak pernah macam-macam terhadap perempuan. Ini membuat kami bingung. Hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Sebuah komitmen tentang keterikatan. Pacaran syar’i.
Hari demi hari berlalu, malam demi malam berganti. Aku menjadi sangat begitu dekat dengannya. Saling harap dan yakin bahwa kami akan berjodoh. Dari yang tak pernah bertemu, menjadi sering bertemu. Berdua menikmati indah alam ciptaan-Nya. Dari yang tak pernah bertatap, menjadi saling menatap. Memandang satu sama lain antara mata dengan mata.
“Kamu tahu asimtot?” tanya nya kepadaku.
“Tahu. Garis lurus yang makin didekati oleh suatu lengkungan, tetapi tidak pernah dipotong.” Jawabku sambil memeragakannya dengan tangan.
Ia tersenyum lalu berkata “Belajarlah darinya. Meskipun saling mendekat namun tidak pernah bersentuhan.”
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Memang benar, semakin hari kami semakin dekat. Namun kami tak pernah bersentuhan. Dia selalu mengingatkanku akan kebaikan. Mengingatkanku shalat lima waktu, puasa sunnah, shalat sunnah dan mengajarkanku berbagai pengetahuan agama lainnya.
Semenjak menjalin hubungan dengannya, ibadahku menjadi semakin rajin. Qiyammul lail tak pernah terlewat. Dia selalu membangunkanku di sepertiga malam terakhir. Betapa aku sangat berharap kepada pria itu untuk hidup bersama suatu saat nanti. Dan lambat laun harapan itu tak kami gantungkan lagi kepada-Nya. Aku terlalu yakin bahwa dia adalah yang terakhir bagiku. Hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa ibadahku bukan lagi karena-Nya namun karena dia. Dan rasa itu telah membuatku terlena. Berkhalwat pun sudah menjadi biasa. Lalu aku teringat akan sebuah ayat yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’:32).
Astagfirullah ampuni aku Ya Rabb. Aku mulai menjauh darinya. Aku menghapus kontak pertemanan kami. Dan aku menjelaskan kepadanya, bahwa cara yang kami tempuh adalah cara yang salah. Dia mengerti dan kami mulai jarang berkomunikasi. Namun, ikatan itu tidak putus begitu saja, kami tetap mempertahankan. Aku percaya bahwa dia akan memenuhi janjinya, menungguku hingga aku lulus kuliah.
Hari demi hari aku mulai memperbaiki diri. Mempersiapkan diri agar kelak menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Keyakinanku cukup kuat bahwa dia akan menungguku sampai waktu yang tepat. Namun, dugaanku salah. Dia memutuskan komitmen yang telah kami buat. Mungkinkah dia lelah menungguku? Aku paham itu.
Sebulan lamanya kami tak lagi berkomunikasi. Sore itu saat hujan datang, aku mendapatkan sebuah sms. Ilyas Ilyasa, nama itu kembali lagi menghiasi layar handphone putihku namun dengan pesan yang berbeda.
Assalammu’alaikum wr.wb
Maafkan aku yang telah mengecewakanmu. Aku tak bisa lagi bersabar.
Jika kulihat lagi lembaran-lembaran masa lalu, maka benarlah yang dikatakan Imam Syafi’i. “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan keatas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”
Maafkan aku. Aku tak bisa lagi menunggu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Aamiin.
Seseorang yang sangat mencintaimu. Ilyas Ilyasa.
Betapa hancur hatiku ketika membaca pesan darinya. Tapi aku sadar segala sesuatu telah di atur oleh-Nya. Aku terlalu berharap kepada manusia. Dan aku telah menempuh jalan yang mungkin membuat-Nya murka. Menghalalkan apa yang diharamkan. Membolehkan apa yang dilarang. Syetan bersembunyi didalam kebaikan yang mengatasnamakan cinta karena-Nya sehingga terciptalah sebuah ikatan yang disebut dengan pacaran syar’i.
Mungkin aku terhayut oleh perasaan yang pada akhirnya membawaku pada kesengsaraan. Aku ikhlas Ya Allah jika harus melepasnya. Izinkan aku untuk meraih cinta-Mu kembali. Cinta dari Sang Maha Pemilik Cinta yang abadi.


Maafkan aku jika salah dalam mengartikan cinta
Maafkan aku jika keliru dalam menafsirkan cinta
Cinta, ia indah jika karena-Nya
Cinta, ia abadi jika tertuju pada-Nya
Jika memang cinta ini salah,
Maafkan aku yang telah membawamu berpaling dari-Nya
Kini aku pasrahkan segalanya
Jika memang kita berjodoh, maka Allah akan persatukan
Namun jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama
Maka Allah akan gantikan
Tak perlu ragu, jika jodohmu bukan aku
Aku akan melepasmu, mengikhlaskanmu namun bukan untuk melupakanmu...

  • view 291