Tangisan Wanita Pengetuk Pintu

Novi Setiany
Karya Novi Setiany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2017
Tangisan Wanita Pengetuk Pintu



Tepatnya pada tanggal 6 september 2017, aku pergi berlibur ke rumah pamanku di Sindangpalay. Tempat itu mengingatkanku tentang masa kecilku dulu. Hamparan sawah yang hijau dan gunung-gunung yang berjejeran membuat indah suasana disana. Di sepanjang jalan menuju rumah mang Koko dipenuhi dengan rimbun pohon bambu dan suara jangkrik membersamai perjalananku. Ah, ternyata masih sama seperti dulu. Yang berbeda hanyalah bangunan rumah warga yang berganti dari bilik sederhana menjadi bangunan kokoh dengan tembok berlapis semen dan batu bata.
Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di rumah mang Koko. Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 5 sore. Aku langsung bersalaman dengan mang koko dan istrinya bi nyai serta kelima anaknya yang kala itu sedang berkumpul di rumah karena sedang libur bekerja. Sedikit aku bercerita dengan sepupu-sepupuku itu sekadar untuk menghilangkan keringat di tubuhku.
"Sudah mau jam setengah 6 loh, Neng. Pamali perawan mandi maghrib," ucap bi Nyai menimpali percakapan kami. "Apalagi ...," bi Nyai tidak meneruskan ucapannya.
"Apalagi apa, Bi?" tanyaku.
"Ah tidak neng, gak ada apa-apa. Kalau mau mandi sekarang aja."
Pamali. Kata itu terdengar sedikit kolot bagiku. Aku tidak percaya dengan kata-kata bi Nyai, tapi demi menghormatinya aku anggap percaya saja dan badanku memang sudah lengket seharian di perjalanan. Segera ku ambil handuk dan peralatan sabun lalu pergi ke kamar mandi yang berada di luar rumah itu.
Malam itu biasa saja menurutku, tidak ada hal yang aneh. Hanya saja sehabis isya tak ada yang keluar rumah, mungkin memang keadaannya sudah berbeda. Karena itu adalah moment berkumpul keluarga, jadi mereka dan warga sekitar kampung hanya memilih berdiam berkumpul di rumah bersama keluarga. Pikirku. Suasana gaduh memenuhi isi rumah mang koko yang tidak terlalu luas itu. Ku dengar mereka sedang membicarakan kematian seorang janda yang meninggalkan dua orang anak. Aku tidak terlalu memperdulikannya ditambah badanku yang terasa capek dan kepala yang sedikit pusing. Oleh sebab itu, sehabis shalat isya aku langsung tertidur pulas.
Pagi harinya, aku bersama Desi anak bungsu mang Koko pergi berjalan-jalan mengitari kampung dan pesawahan. Terdengar ibu-ibu sedang asyik ngerumpi namun kulihat wajah mereka ketakutan. Kabarnya ada seorang janda yang baru dua minggu tinggal di kampung itu bersama dua anaknya yang masih kecil-kecil. Namun beberapa hari yang lalu, ia meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Konon, karena berat meninggalkan dua orang anak, arwahnya tidak tenang dan berkeliaran pada tengah malam. Banyak warga yang melihat sosok hantu perempuan itu. Tak jarang ada yang mendengar tangisan atau tawa dari arwah itu. Bahkan setiap malam tepat jam setengah 1, hantu perempuan yang meyerupai kuntilanak itu datang mengetuki pintu rumah warga sambil menangis pilu. Ah, aku tak percaya dengan hal semacam itu. Ku hiraukan saja obrolan yag tak penting itu lalu kembali pergi ke rumah mang Koko.
Malam itu suasana rumah menjadi sepi karena keempat anak mang Koko sudah berangkat kerja lagi ke luar kota. Di rumah itu hanya ada aku, desi, bi Nyai dan mang koko. Jam menunjukkan pukul 9 malam, semua sudah tertidur lelap. Mataku rasanya sulit untuk kupejamkan, namun akhirnya aku terlelap juga bersama dinginnya dimalam itu. Tepat jam 12 malam, aku terbangun. Malam itu suara daun-daun sampai ke telingaku. Desiran angin membuat aku menarik selimbut lebih dalam. Tetiba aku teringat dengan obrolan ibu-ibu pagi tadi. Ah, apa yang aku pikirkan? Sama sekali aku tidak percaya dengan hal berbau mistis semacam itu. Terdengar lolongan anjing membuat bulu kudukku berdiri. Hatiku semakin tidak tenang saja. Tiba-tiba... terdengar suara perempuan menangis. Suaranya sangat dekat... sekali. Ketika aku mencoba terus mendengarkan suara itu, lama kelamaan terdengar semakin jauh. Alhamdulillah akhinya hantu itu pergi juga. Hatiku sedikit tenang. Namun astaga! Aku baru ingat perkataan temanku, "jika kamu mendengar suara kuntilanak sangat sekat, itu artinya dia jauh dari kamu. Tapi, jika kamu mendengarnya jauh, jauh... semakin jauh, artinya dia dekat dengan kamu." Jantungku mulai berdetak dengan kencang. Kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar disertai tangisan yang menyayat hati. Aku mencoba membangunkan Desi, namun hasilnya nihil. Dan entah kenapa, di waktu yang seperti itu, rasa penasaran menghinggapiku untuk mencari sosok itu. Kucoba beranikan diri untuk keluar kamar. Dan tiba-tiba... Sosok perempuan berambut panjang melihat ke arahku. Ia menggelantung diatas langit-langit rumah. Matanya membelalak tajam. Wajahnya hancur dengan darah menetes ke baju putihnya yang lusuh itu. Aku berteriak dan seketika pingsan.
Pagi harinya mang Koko membangunkanku. Aku menangis dan menceritakan semua kejadian di malam naas itu. Dan semenjak kejadian itu, aku percaya bahwa mereka ada, bahkan mungkin sedang memperhatikanmu di sudut sana.

  • view 232